Jaksa AS Hentikan Penyelidikan The Fed, Powell Bisa Bertahan dan Mengganggu Rencana Trump

Jaksa Distrik Amerika Serikat Jeanine Pirro menghentikan penyelidikan pidana terhadap Federal Reserve pada Jumat (24/4/2026). Keputusan itu muncul saat masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell semakin dekat dengan akhir, sehingga memunculkan pertanyaan baru tentang arah kepemimpinan bank sentral di bawah pemerintahan Donald Trump.

Langkah tersebut tidak otomatis membuat Powell mundur dari jabatannya. Sebelumnya, Powell menyatakan akan tetap bertahan sampai penyelidikan Departemen Kehakiman terkait biaya renovasi gedung benar-benar selesai, dan keputusan Pirro kini memindahkan penanganan kasus ke Kantor Inspektur Jenderal The Fed.

Tekanan untuk Powell belum hilang

Pirro menyebut pihaknya “tidak akan ragu untuk memulai kembali penyelidikan pidana jika fakta mengharuskannya.” Pernyataan ini membuat posisi Powell tetap berada dalam sorotan, karena ia bisa saja memilih bertahan di Dewan Gubernur hingga masa jabatannya berakhir pada 2028.

Situasi tersebut juga membuka kemungkinan baru dalam peta suksesi The Fed. Jika Powell tetap duduk di dewan, rencana Donald Trump untuk menunjuk Kevin Warsh sebagai pengganti Powell berpotensi tidak berjalan mulus, meski Warsh sudah menjalani sidang konfirmasi di Senat.

Pasar dan pengamat menilai opsi Powell masih terbuka

Ekonom senior Deutsche Bank Brett Ryan menilai keputusan Pirro masih menyisakan ruang ketidakpastian. Ia mengatakan, “Saya tidak akan mengatakan ini sudah pasti saat ini,” seraya menyoroti bahwa fleksibilitas Pirro untuk membuka kembali kasus bisa memengaruhi langkah Powell.

Ryan menambahkan bahwa kemungkinan penyelidikan dihidupkan lagi dapat mendorong Powell menimbang ulang keputusan untuk meninggalkan kursinya di dewan. Dengan begitu, status Powell tidak hanya berhenti pada persoalan jabatan ketua, tetapi juga menyangkut pengaruhnya terhadap stabilitas internal The Fed.

Warsh menghadapi hambatan politik

Di sisi lain, pencalonan Kevin Warsh ikut tersendat karena penolakan dari legislatif. Senator Republik Thom Tillis disebut berjanji akan memblokir konfirmasi selama penyelidikan DOJ belum benar-benar dihentikan, sehingga proses pergantian pimpinan The Fed belum sepenuhnya aman.

Kondisi ini memunculkan risiko munculnya dua pusat pengaruh di bank sentral jika Powell tetap bertahan sebagai gubernur sementara ketua baru sudah masuk. Bagi lembaga seperti The Fed, situasi semacam itu dapat menambah ketegangan internal di tengah kebutuhan menjaga arah kebijakan tetap konsisten.

The Fed berada di tengah tekanan kebijakan dan politik

Ketidakpastian kepemimpinan ini berlangsung saat The Fed masih menghadapi tantangan besar di bidang inflasi. Tekanan itu makin rumit karena ketegangan geopolitik akibat perang Iran ikut mendorong harga minyak, sehingga ruang kebijakan bank sentral menjadi semakin sensitif.

Warsh sendiri telah menyerukan perubahan besar dalam kebijakan moneter dan bahkan menggunakan istilah “perubahan rezim” untuk menggambarkan arah yang ia inginkan. Pandangan itu dinilai provokatif oleh sejumlah pengamat ekonomi dari Evercore ISI, yang melihat adanya pergeseran tajam dalam wacana di sekitar bank sentral.

Stephen Stanley, kepala ekonom AS di Santander US Capital Markets LLC, menilai dinamika ini mencerminkan pola politik Washington yang kerap dipenuhi negosiasi dan pergeseran koalisi. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi seperti itu sangat tidak biasa bagi The Fed dan justru berpotensi mengganggu independensi lembaga tersebut.

Krishna Guha dari Evercore ISI memperkirakan Powell akan tetap menjabat sebagai gubernur The Fed biasa selama beberapa bulan. Menurutnya, langkah itu bisa membantu menghindari kesan adanya kesepakatan tersembunyi atau pengunduran diri yang terjadi karena tekanan politik, sementara perhatian pasar tetap tertuju pada arah kepemimpinan bank sentral berikutnya.

Terkait