Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas atau CNG sebagai alternatif pengganti LPG. Kajian itu diarahkan untuk mempercepat kemandirian energi nasional dengan memaksimalkan gas domestik yang tersedia di dalam negeri.
Langkah ini muncul di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada impor LPG. Berdasarkan data yang dikutip dari Detik Finance, konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, dan sekitar 7 juta ton di antaranya masih berasal dari luar negeri.
CNG Jadi Opsi yang Dikaji Serius
Bahlil menyampaikan bahwa pembahasan CNG masih berlangsung dan belum final. Namun, ia menilai skema itu menjadi salah satu opsi yang layak untuk memperkuat ketahanan energi, terutama di sektor LPG.
“Sekarang lagi masih dalam pembahasan, yang tadi saya laporkan, adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi,” ujar Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin mencari formulasi terbaik agar kemandirian energi bisa berjalan lebih nyata.
Memanfaatkan Gas Domestik
CNG akan memakai bahan baku dari gas cair C1 dan C2 yang tersedia di dalam negeri. Bahlil menjelaskan, komponen utama gas alam seperti metana dan etana diproses melalui fasilitas industri sehingga lebih mudah didistribusikan dan disimpan.
Ia juga menyebut tekanan pada proses CNG bisa mencapai 250 sampai 400 bar. Menurut Bahlil, teknologi itu memungkinkan pemakaian yang lebih baik, meski pembahasannya masih perlu dikonsolidasikan agar hasilnya optimal.
Sudah Dipakai di Sejumlah Sektor
CNG bukan sepenuhnya hal baru di Indonesia karena komoditas ini sudah digunakan dalam lingkup terbatas. Pemanfaatannya antara lain terlihat di hotel, restoran, serta sebagian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas atau SPBG.
Saat ini tercatat ada 57 Badan Usaha Niaga yang bergerak di sektor CNG nasional. Kehadiran pelaku usaha itu menunjukkan bahwa infrastruktur dasar untuk pengembangan CNG sudah ada, meski penerapannya masih belum meluas ke konsumsi rumah tangga seperti LPG.
Fokus pada Ketahanan Energi
Bahlil menekankan bahwa pemerintah ingin memprioritaskan produksi dalam negeri di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu. Menurut dia, kondisi global menuntut Indonesia menyiapkan alternatif energi yang lebih aman dan berkelanjutan.
“Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan,” kata Bahlil. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kajian CNG tidak hanya bicara soal pengganti LPG, tetapi juga soal strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko dari ketergantungan impor.
Peluang dan Tantangan ke Depan
Peluang CNG sebagai substitusi LPG cukup menarik karena bahan bakunya tersedia dari sumber domestik. Namun, pemerintah masih harus menyelesaikan pembahasan teknis, konsolidasi industri, dan kesiapan distribusi sebelum kebijakan ini dapat dijalankan lebih luas.
Di sisi lain, pemanfaatan CNG di sektor industri dan layanan publik bisa menjadi pijakan awal untuk memperluas penggunaannya. Jika kajian ini berjalan mulus, CNG berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya menjaga pasokan energi nasional tetap stabil dan lebih mandiri.
