Danantara Jual Aset Non-Core BUMN Karya, Beban Utang Dipangkas Sebelum Merger

Author: Qoo Media

Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa sejumlah unit usaha non-core milik BUMN Karya akan dilepas untuk menekan beban utang yang dinilai terlalu besar. Langkah ini diarahkan untuk menyehatkan laporan keuangan perusahaan konstruksi pelat merah sebelum masuk ke tahap konsolidasi atau merger.

Fokus utama kebijakan ini adalah bisnis yang tidak berkaitan langsung dengan usaha inti konstruksi. Dony menyebut divestasi perlu dilakukan lebih dulu agar struktur keuangan menjadi lebih ringan dan perusahaan bisa diposisikan ulang secara lebih sehat.

Aset non-core yang masuk daftar pelepasan

Beberapa aset yang disebut akan dilepas mencakup unit usaha fiber optik, Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM, hingga kepemilikan jalan tol. Pelepasan aset tersebut dipandang sebagai bagian dari normalisasi beban keuangan yang selama ini menekan kinerja BUMN Karya.

Dony menjelaskan bahwa aset-aset itu bukan bagian langsung dari bisnis utama perusahaan karya. Karena itu, pelepasan dianggap lebih tepat dilakukan daripada mempertahankan portofolio yang tidak mendukung fokus usaha inti.

Menurut Dony, “beberapa yang non-core daripada BUMN Karya itu akan kita lepas untuk menurunkan utangnya, karena hutangnya kan terlalu besar.” Pernyataan itu menegaskan bahwa divestasi diposisikan sebagai langkah awal perbaikan struktur modal.

Divestasi didahulukan sebelum merger

Pemerintah dan Danantara juga menempatkan penataan portofolio sebagai syarat sebelum penggabungan antarperusahaan karya dilakukan. Dengan kata lain, merger tidak akan menjadi langkah pertama sebelum beban keuangan perusahaan lebih dulu dipangkas.

Dony menyebut aset non-related akan dilepas terlebih dahulu agar utang dapat turun. Setelah kondisi perusahaan dianggap lebih bersih, barulah proses merger dijalankan.

“Ini akan kita divestasikan dulu sehingga itu untuk menurunkan hutang-hutang mereka. Nanti setelah dia bersih baru kita akan melakukan merger,” kata Dony. Urutan itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin memperbaiki fondasi keuangan sebelum konsolidasi struktural dilakukan.

Proses divestasi butuh penilaian ketat

Meski ditargetkan tuntas dalam tahun ini, pelepasan aset tidak bisa dilakukan secara cepat tanpa pemeriksaan yang memadai. Setiap transaksi akan melibatkan Kantor Jasa Penilai Publik atau KJPP untuk memastikan nilai aset dihitung secara wajar.

Dony menegaskan bahwa divestasi harus memberi manfaat bagi perusahaan dan tidak boleh merugikan negara. Karena itu, proses penilaian menjadi bagian penting untuk menjaga agar aset yang dilepas benar-benar membantu menurunkan kewajiban finansial BUMN Karya.

Ia juga menekankan bahwa pelepasan aset harus dilakukan secara hati-hati agar hasilnya optimal. Tujuan akhirnya bukan sekadar menjual aset, tetapi memastikan langkah itu memberi keuntungan dan memperbaiki posisi utang sebelum konsolidasi berlangsung.

Dorongan memperkuat bisnis inti

Strategi pelepasan aset non-core ini memperlihatkan upaya pemerintah membenahi BUMN Karya dengan cara yang lebih terarah. Dengan mengurangi beban dari lini usaha yang tidak terkait langsung dengan konstruksi, perusahaan diharapkan bisa kembali fokus pada bisnis inti.

Langkah tersebut juga memberi sinyal bahwa penyehatan keuangan menjadi prioritas sebelum restrukturisasi yang lebih besar dilakukan. Bila divestasi berjalan sesuai target, BUMN Karya akan masuk ke fase konsolidasi dengan struktur yang lebih ringan dan lebih siap menjalankan fungsi utamanya di sektor konstruksi.

Terbaru