
Mayoritas analis Bloomberg kini bersikap bullish terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) setelah emiten bank pelat merah itu menunjukkan kinerja keuangan yang solid. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menunjukkan 29 analis merekomendasikan beli, sementara hanya empat analis menyarankan tahan dan dua analis memilih jual.
Sentimen positif itu juga tercermin dari target harga rata-rata yang mencapai Rp4.377 per lembar saham dalam 12 bulan ke depan. Dengan harga saham BBRI berada di level Rp3.050, pasar masih melihat potensi kenaikan sekitar 43,51%.
Target harga dari sejumlah analis berbeda cukup lebar
Sejumlah lembaga riset memberikan target harga yang lebih tinggi dari konsensus rata-rata, menandakan optimisme terhadap prospek saham BBRI masih kuat. Ivan Ng dari Autonomous Research menempatkan target di Rp4.500, sedangkan Joshua Tanja dari UBS memberi target Rp4.900.
Proyeksi paling agresif datang dari Edward Lowis dari Sucor Sekuritas yang menilai saham BBRI bisa mencapai Rp5.200. Perbedaan target ini menunjukkan bahwa pasar membaca ruang pertumbuhan BBRI dari berbagai sudut, mulai dari valuasi hingga kualitas fundamental.
Kinerja laba dan pendapatan menjadi penopang utama
Optimisme analis tidak lepas dari capaian laba bersih BBRI yang tumbuh signifikan. Perseroan membukukan laba bersih Rp7,73 triliun sepanjang dua bulan pertama 2026, naik 17,12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga bersih juga bergerak positif menjadi Rp19,14 triliun, tumbuh 4,84% secara tahunan. Peningkatan itu berjalan seiring efisiensi biaya operasional yang turun 2,39% dari tahun ke tahun, sehingga mendukung perbaikan profitabilitas.
Pertumbuhan kredit tetap kuat
Dari sisi bisnis inti, BBRI mencatat penyaluran kredit sebesar Rp1.346,16 triliun hingga Februari 2026. Angka itu naik 10,49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan fungsi intermediasi bank masih berjalan kuat.
Di saat yang sama, beban impairment turun 15,77% dan beban lainnya menyusut 14,7%. Perbaikan ini memberi sinyal bahwa kualitas aset perusahaan tetap terjaga dan tekanan risiko kredit relatif terkendali.
Valuasi dinilai masih menarik
Budi Rustanto, Head of Research OCBC Sekuritas Indonesia, menilai rekomendasi beli terhadap BBRI juga ditopang oleh valuasi yang murah dan permodalan yang solid. Ia menyebut posisi price-to-book value atau PBV BBRI saat ini berada di level 1,4x, lebih rendah dari rata-rata historis lima tahun.
“Kami mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga berbasis GGM sebesar Rp5.000/saham, dengan asumsi ROE 18,5% dan cost of equity 10,4%,” kata Budi. Pernyataan itu mempertegas bahwa sebagian analis masih melihat saham BBRI berada di bawah nilai wajarnya.
Prospek ke depan masih bertumpu pada kredit dan digitalisasi
OCBC Sekuritas memperkirakan pertumbuhan kredit BBRI akan terus menguat seiring pelonggaran kebijakan moneter dan perbaikan ekonomi. Proyeksi itu juga didukung oleh peluang kenaikan fee-based income lewat percepatan transformasi digital.
Selain itu, manajemen likuiditas yang konservatif dinilai membantu menjaga stabilitas bisnis bank di tengah dinamika pasar. Kombinasi pertumbuhan kredit, efisiensi, dan struktur permodalan membuat BBRI tetap masuk dalam radar utama investor yang mencari saham perbankan dengan fundamental kuat.









