Air France-KLM mengubah rencana pertumbuhannya setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan biaya bahan bakar. Grup maskapai itu kini memperkirakan tagihan bahan bakar naik US$2,4 miliar tahun ini dan menyesuaikan target kapasitas penerbangan agar tetap menjaga margin di tengah tekanan biaya.
Perusahaan memperkirakan total belanja bahan bakar 2026 mencapai US$9,3 miliar. Dari jumlah itu, US$1,1 miliar diproyeksikan keluar pada kuartal berjalan berdasarkan perhitungan lindung nilai dan proyeksi harga minyak terbaru.
Manajemen menurunkan target pertumbuhan kapasitas menjadi 2% hingga 4% dari proyeksi sebelumnya 3% hingga 5%. Di saat yang sama, perusahaan tetap memperkirakan biaya per unit naik hingga 2% tahun ini, termasuk kontribusi 0,5% dari program pembaruan kabin pesawat.
CEO Air France-KLM Ben Smith mengatakan dampak kenaikan harga bahan bakar belum terlihat penuh dalam hasil yang diumumkan perusahaan. Namun, ia menegaskan bahwa tekanan itu akan mulai membebani kuartal mendatang.
Langkah efisiensi mulai diperketat
Untuk meredam dampak biaya energi, Air France-KLM menghentikan perekrutan staf pendukung dan membatasi pengeluaran diskresioner seperti perjalanan dinas. Meski begitu, perekrutan untuk posisi operasional penting seperti teknisi tetap berjalan agar layanan penerbangan tidak terganggu.
Perusahaan juga tetap menjalankan strategi lindung nilai biaya bahan bakar secara disiplin. Manajemen mengonfirmasi telah mengamankan lindung nilai sebesar 33% untuk tahun 2027.
Di tengah tekanan biaya, permintaan perjalanan musim panas ke Eropa masih kuat. Destinasi seperti Spanyol dan Italia disebut tetap ramai karena pembatasan perjalanan ke wilayah Timur Tengah menggeser arus perjalanan ke tujuan lain.
KLM ikut memangkas frekuensi penerbangan
Anak usaha Air France-KLM, KLM, juga mengambil langkah penyesuaian operasional. Maskapai asal Belanda itu mengurangi frekuensi penerbangan dari pusat operasinya sebagai respons atas kenaikan biaya minyak tanah.
KLM pada 16 April mengatakan akan memangkas 80 penerbangan pulang pergi ke dan dari Bandara Schiphol Amsterdam pada bulan berikutnya. Langkah itu menjadi salah satu upaya paling langsung untuk menekan beban biaya di jaringan penerbangan mereka.
Tekanan biaya datang saat kinerja keuangan grup masih menunjukkan perbaikan di beberapa lini. Air France-KLM mencatat kerugian operasional €27 juta pada kuartal pertama yang berakhir 31 Maret, membaik dari kerugian €328 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan grup naik 4,4% menjadi €7,5 miliar pada periode tersebut. Namun, hasil itu tetap terbebani kerugian €90 juta akibat gangguan cuaca ekstrem di Amsterdam pada Januari lalu.
