Emas Global Anjlok 2 Persen, The Fed Menahan Suku Bunga Memukul Prospek Safe Haven

Author: Qoo Media

Harga emas global kembali tertekan sepanjang pekan ini setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di tengah kekhawatiran inflasi yang masih menguat. Di pasar, sinyal itu langsung mendorong pelemahan aset tanpa imbal hasil seperti emas karena investor melihat peluang bunga tinggi bertahan lebih lama.

Data Refinitiv menunjukkan harga emas ditutup di US$ 4.613,02 per troy ons pada perdagangan Jumat (1/5/2026). Nilainya turun 0,17 persen dibandingkan hari sebelumnya dan terkoreksi 2,02 persen secara point-to-point dalam sepekan.

The Fed dan inflasi jadi tekanan utama

Keputusan The Fed menahan suku bunga menjadi faktor paling besar yang menekan harga emas. Langkah itu diambil dalam proses pengambilan keputusan paling terpecah sejak 1992, menandakan ketidakpastian yang tinggi di tubuh bank sentral.

The Fed juga menyoroti lonjakan inflasi yang dipicu harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 100 per barel. Tekanan itu berkaitan dengan ketegangan geopolitik antara pihak yang didukung Amerika Serikat dengan Iran, yang masih memengaruhi pasar energi.

Pasar kemudian semakin waspada setelah data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat mencatat pertumbuhan 0,7 persen pada bulan lalu. Angka itu menjadi kenaikan tercepat sejak pertengahan 2022 dan memperkuat dugaan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Daya tarik emas ikut melemah

Suku bunga tinggi membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar. Aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga investor cenderung membandingkannya dengan instrumen lain yang menawarkan pendapatan.

Kondisi itu membuat fungsi emas sebagai lindung nilai tetap ada, tetapi daya tariknya menjadi terbatas. Risiko ketidakpastian global masih membayangi, namun pasar tampak lebih responsif terhadap arah kebijakan moneter saat ini.

Analis pasar City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai prospek emas belum terlalu menguntungkan. Ia menyebut tarik-menarik antara isu politik dan komoditas energi masih membuat pasar sulit menemukan arah yang kuat.

Menurut Fawad Razaqzada, harga minyak menjadi salah satu penentu sentimen yang ikut menekan pasar emas. Ia mengatakan belum ada kedekatan kesepakatan antara Donald Trump dan Iran, sehingga harga minyak masih mencerminkan situasi tersebut.

Masih ada ruang pemulihan

Meski tertekan dalam jangka pendek, sebagian pengamat masih melihat peluang pemulihan emas dalam periode yang lebih panjang. Citi memproyeksikan harga emas tetap stabil di kisaran US$ 4.300 dalam jangka pendek.

Citi juga melihat potensi kenaikan menuju US$ 5.000 dalam 6 hingga 12 bulan ke depan. Proyeksi itu bergantung pada pemulihan kepercayaan pasar di tengah arah kebijakan moneter yang masih ketat.

Saat ini, harga emas juga mencatat penurunan bulanan sekitar 0,84 persen. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda dan bank sentral besar seperti The Fed serta Bank of England masih mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Terbaru