QRIS Bukan Sekadar Alat Bayar, Jalan UMK Naik Kelas Di Era Digital

Author: Qoo Media

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mendorong pelaku usaha mikro kecil atau UMK untuk segera memanfaatkan QRIS sebagai alat pembayaran harian. Dorongan itu ia sampaikan dalam sosialisasi akselerasi transaksi digital di Kabupaten Pasuruan pada Minggu, 2 Mei 2026, dengan penekanan bahwa digitalisasi pembayaran kini menjadi kebutuhan untuk menjaga daya saing.

Misbakhun menilai QRIS bukan sekadar pilihan teknologi, tetapi bagian dari penguatan ekonomi pelaku usaha kecil. Ia menegaskan bahwa sistem ini dapat membantu UMK naik kelas karena transaksi tercatat lebih rapi dan akses pembiayaan menjadi lebih terbuka.

QRIS dan perubahan cara usaha kecil mengelola transaksi

Bank Indonesia telah menghadirkan QRIS sebagai instrumen transaksi yang praktis, aman, dan efisien untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat serta pelaku UMK. Di tengah kemajuan teknologi yang cepat, sistem pembayaran digital dipandang sebagai keniscayaan bagi pelaku usaha yang ingin tetap relevan.

Pemanfaatan QRIS juga dinilai dapat memperbaiki manajemen internal usaha kecil melalui pencatatan transaksi otomatis. Dengan pencatatan yang lebih tertata, pelaku usaha disebut akan lebih mudah mengajukan bantuan modal dari lembaga keuangan.

“QRIS hadir tidak hanya untuk mempermudah transaksi, tetapi juga untuk memperkuat fondasi ekonomi rakyat,” ujar Misbakhun. Ia menambahkan bahwa pelaku UMK dapat naik kelas jika memiliki pencatatan keuangan yang lebih baik dan akses pembiayaan yang lebih terbuka.

Dorongan agar UMK daerah ikut masuk ekosistem digital

Misbakhun berharap adopsi QRIS yang semakin luas dapat membuat UMK di daerah lebih terhubung dengan ekosistem ekonomi digital. Dalam kesempatan itu, ia menyinggung Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu wilayah yang perlu memanfaatkan peluang pasar yang lebih besar lewat sistem pembayaran digital.

Pemerintah juga memproyeksikan perluasan jangkauan QRIS tidak berhenti di pasar domestik. Inovasi sistem pembayaran yang diluncurkan pada 17 Agustus 2019 itu kini diarahkan untuk mendukung transaksi antarnegara agar bisa menjangkau ekosistem pasar global.

Arah pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa QRIS tidak hanya relevan untuk transaksi lokal. Sistem ini juga disiapkan untuk mendukung integrasi pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas.

Keamanan dan perlindungan konsumen jadi perhatian

Selain jangkauan pasar, aspek keamanan tetap menjadi perhatian dalam pengembangan QRIS. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter terus memutakhirkan infrastruktur untuk meminimalkan risiko kehilangan uang tunai bagi masyarakat.

Misbakhun menilai QRIS memberi kemudahan sekaligus keamanan dalam bertransaksi. Ia menyebut masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada uang tunai sehingga risiko kehilangan maupun kesalahan dalam transaksi dapat diminimalkan.

Sosialisasi di Pasuruan itu juga dihadiri jajaran Badan Supervisi Bank Indonesia atau BSBI. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua BSBI M Nawir Messi, serta anggota BSBI Irwan Lubis dan Mohamad Khusaini.

Terbaru