
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI mengingatkan adanya ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja di lima sektor industri utama dalam tiga bulan ke depan. Peringatan itu muncul di tengah tekanan biaya produksi global yang makin berat, terutama setelah muncul laporan adanya diskusi efisiensi di tingkat pabrik.
Presiden KSPI Said Iqbal menyebut sinyal pengurangan tenaga kerja terlihat dari kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, dan hambatan pasokan bahan baku impor. Ia menilai industri tekstil dan produk tekstil atau TPT menjadi sektor yang paling rentan karena sangat bergantung pada pasar ekspor dan harga bahan baku internasional.
TPT jadi sektor paling rawan
Menurut Said Iqbal, risiko di sektor TPT tidak hanya menyangkut kain atau benang, tetapi juga produk turunan lain seperti polyester. Tekanan biaya membuat pelaku usaha di sektor ini berpotensi menempuh efisiensi yang pada akhirnya dapat menyentuh tenaga kerja.
Ia juga mengatakan laporan mengenai tekanan itu datang langsung dari anggota KSPI di perusahaan. Karena itu, peringatan yang disampaikan bukan sekadar kekhawatiran umum, melainkan sinyal yang sudah mulai dirasakan buruh di lapangan.
Plastik, elektronik, dan otomotif ikut tertekan
Selain TPT, industri plastik juga berada dalam posisi berat karena harga bahan baku seperti polimer dan petrokimia melonjak tajam dalam denominasi dolar AS. Said Iqbal menyebut kenaikan harga plastik hingga 50 persen ikut menekan daya beli masyarakat dan membuat permintaan terhadap produk plastik industri menurun.
Dampaknya kemudian merembet ke sektor elektronik dan otomotif. Kedua sektor ini banyak menggunakan komponen berbahan plastik, mulai dari kerangka hingga interior produk, sehingga lonjakan biaya bahan baku ikut menekan biaya produksi mereka.
Said Iqbal mencontohkan penggunaan plastik pada frame elektronik dan bagian spakbor serta komponen lain di industri otomotif. Dalam pandangannya, kenaikan biaya di sektor pendukung itu dapat memicu penyesuaian jumlah tenaga kerja dalam waktu dekat.
Semen juga dibayangi efisiensi
Ancaman PHK tidak hanya muncul di industri berbasis bahan baku impor. Sektor semen juga masuk daftar yang dia soroti karena menghadapi kondisi oversupply di tengah permintaan domestik yang melemah.
Menurut Said Iqbal, situasi itu diperburuk oleh bertambahnya pabrik baru yang mulai beroperasi saat konsumsi semen masyarakat sedang turun akibat perlambatan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi disebut mulai dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan semen.
Pabrik plastik di Jawa Tengah sudah terdampak
Di Jawa Tengah, Aliansi Buruh Jawa Tengah atau ABJAT mencatat sedikitnya 900 pekerja pabrik plastik terancam kehilangan pekerjaan akibat kebijakan efisiensi. Koordinator Lapangan ABJAT, Lukmanul Hakim, menyebut PT Innan, PT Poliplas, dan PT Palliser sudah menerapkan sistem kerja bergilir.
Dari jumlah itu, sekitar 600 pekerja di PT Palliser dan 300 pekerja di PT Inan terdampak kebijakan merumahkan karyawan secara bergantian. Meski upah masih dibayarkan penuh, para pekerja menghadapi ketidakpastian karena belum ada solusi jangka panjang yang jelas.
ABJAT meminta pemerintah segera membentuk Satgas PHK agar potensi pemutusan kerja bisa diidentifikasi sejak awal. Lukmanul Hakim juga menilai buruh kerap menjadi pihak yang paling dirugikan dalam situasi ketidakpastian global seperti saat ini.
Tekanan global belum mereda
Said Iqbal berharap ketegangan geopolitik global segera mereda agar harga material pendukung industri kembali stabil. Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah perusahaan sudah menyampaikan kepada serikat pekerja bahwa tiga bulan ke depan tetap menjadi periode berisiko tinggi bagi operasional mereka.
Di sisi lain, situasi di lapangan menunjukkan bahwa efisiensi sudah mulai berjalan sebelum PHK benar-benar terjadi. Bagi buruh, sinyal semacam itu menjadi alarm awal bahwa tekanan biaya dan lemahnya permintaan bisa berubah menjadi gelombang kehilangan pekerjaan jika tidak ada langkah pencegahan yang cepat.









