AirAsia X Bhd dilaporkan sedang berada di ambang kesepakatan besar untuk membeli sekitar 150 pesawat Airbus SE A220. Jika terealisasi, pesanan ini akan menjadi yang terbesar yang pernah tercatat untuk jenis jet komersial tersebut di industri penerbangan global.
Langkah itu menandai dorongan baru bagi maskapai yang ingin memperluas jangkauan operasionalnya setelah fase pemulihan finansial pascapandemi. Bagi AirAsia, pesawat A220 dinilai bisa membuka akses ke pasar dengan permintaan lebih rendah dan memberi ruang masuk ke bandara-bandara kecil.
Fokus ke pasar yang lebih kecil
Jet A220 memiliki kapasitas sekitar 100 hingga 160 penumpang. Karakter itu membuatnya lebih fleksibel dibanding jet lorong tunggal tradisional untuk rute yang tidak membutuhkan kapasitas besar.
Menurut informasi yang dilansir Bloombergtechnoz, model tersebut dapat membantu AirAsia menjangkau pasar yang selama ini kurang efisien dilayani armada berkapasitas lebih besar. Strategi ini juga sejalan dengan kebutuhan maskapai berbiaya rendah untuk menyesuaikan kapasitas dengan tingkat permintaan.
Negosiasi pengadaan armada A220 ini disebut sudah berlangsung intensif sejak awal tahun lalu. Pengumuman resmi atas kesepakatan bernilai besar itu diperkirakan bisa dilakukan paling cepat pada pekan ini oleh pihak-pihak terkait.
Ekspansi di tengah tekanan biaya
Dorongan ekspansi ini muncul di tengah tantangan yang masih membayangi bisnis penerbangan. Konflik di Timur Tengah sempat menekan performa perusahaan karena memicu lonjakan harga minyak dunia.
Sebagai maskapai berbiaya rendah, AirAsia tergolong rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar. Perusahaan juga disebut tidak banyak menerapkan kebijakan lindung nilai, sehingga dampak kenaikan biaya energi bisa terasa lebih besar.
Situasi itu tercermin pada indeks Bloomberg World Airlines, dengan saham maskapai ini turun hampir 40 persen sejak ketegangan regional dimulai. Meski begitu, Capital A Bhd. sebagai pemegang saham pengendali belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana pesanan pesawat baru tersebut.
Armada besar, rencana makin luas
Saat ini AirAsia mengoperasikan sekitar 250 pesawat Airbus. Daftar pesanan tertunda perseroan juga hampir mencapai 400 unit dan mayoritas berasal dari keluarga jet A320.
Di luar rencana pembelian A220, perusahaan juga menyiapkan perluasan jaringan ke kawasan Timur Tengah. Salah satu fokusnya adalah pembukaan pusat operasional baru di Bahrain untuk mendukung penerbangan transit menuju Eropa.
Ekspansi tersebut dirancang mulai berjalan paling lambat pada akhir tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi pasca-Covid yang memperlihatkan upaya AirAsia menata ulang jaringan, armada, dan jalur pertumbuhan bisnisnya.
