Sepecah batu dari luar angkasa menembus atap sebuah rumah di Hillsborough, New Jersey, lalu jatuh di kamar tidur. Material seberat sekitar 1,35 kilogram itu ternyata termasuk meteorit langka yang menyimpan jejak proses kimia dari masa awal tata surya.
Debu gelap dengan bau belerang menyengat ditemukan menutupi tempat tidur dan karpet setelah pemilik rumah mendengar dentuman keras. Analisis kemudian menunjukkan pecahan tersebut merupakan meteorit primitif kaya air yang juga mengandung materi organik serta senyawa prebiotik.
Berawal dari Bola Api di Langit New York
Peristiwa ini bermula pada 16 Juli 2024 pukul 15.17.27 UTC, ketika warga New York melihat bola api siang hari melintas di atas kota dan Patung Liberty. Sejumlah saksi juga melaporkan suara ledakan kepada American Meteor Society.
Salah satu saksi melihat gumpalan cahaya putih terang seperti terbakar pada salah satu ujungnya saat melaju di Rute 100. Objek itu tampak bergerak dari kiri ke kanan sambil turun dengan sangat cepat.
NASA semula menyusun perkiraan lintasan kasar berdasarkan laporan para saksi. Rekaman tambahan, termasuk video kamera bel pintu warga New Jersey, kemudian membantu peneliti menghitung jalur benda tersebut dengan lebih akurat.
| Rincian | Data yang terungkap |
|---|---|
| Waktu teramati | 16 Juli 2024, pukul 15.17.27 UTC |
| Jalur lintasan | Dari timur ke barat, melintasi Staten Island menuju New Jersey |
| Ketinggian | Sekitar 44,4 hingga 34,9 kilometer |
| Material yang ditemukan | Sekitar 1,35 kilogram pecahan meteorit |
Berdasarkan perhitungan itu, meteor melintas dari timur ke barat melintasi Staten Island sebelum menuju New Jersey. Saat berada di atmosfer, objek tersebut tercatat berada pada ketinggian sekitar 44,4 hingga 34,9 kilometer.
Pecahan yang Menembus Atap Rumah
Sebagian besar fragmen kecil meteor itu tidak pernah ditemukan. Namun, satu pecahan besar berhasil menembus atap rumah di Hillsborough dan membuat lubang pada langit-langit kamar tidur.
Pemilik rumah mengumpulkan pecahan dengan hati-hati setelah mendapati kerusakan di ruangan tersebut. Respons cepat ini membuat sampel yang diperoleh berada dalam kondisi sangat murni untuk diteliti.
Menurut laporan www.kompas.com, material itu diidentifikasi sebagai Meteorit Hillsborough, yakni kondrit karbonan tipe CM. Kelompok meteorit ini kaya air dan dipandang penting karena dapat merekam kondisi planetesimal pada masa awal pembentukan tata surya.
Meteorit Hillsborough tercatat sebagai meteorit tipe CM ke-22 yang pernah terlihat jatuh. Benda ini juga hanya menjadi meteorit kedua yang disaksikan langsung sebagai tipe campuran CM1/2, setelah meteorit Kolang yang jatuh di Sumatera Utara pada 2020.
Rekaman Cairan Asin dari Asteroid Primitif
Penelitian terhadap pecahan tersebut menemukan bagian yang terawetkan dari dekat permukaan asteroid primitif. Area itu diduga pernah menjadi lokasi cairan asin pekat, sebuah proses yang sebelumnya belum diketahui pada dunia protoplanet semacam ini.
Peter Jenniskens, astronom meteor dari SETI Institute dan Pusat Riset Ames NASA, menyebut temuan itu sebagai hasil studi forensik atas pecahan meteorit. “Studi forensik terhadap pecahan ini mengungkap bahwa mereka menyimpan bagian yang terawetkan dari dekat permukaan asteroid primitif, tempat terjadinya cairan asin pekat, sebuah proses yang belum pernah diketahui sebelumnya dari jenis dunia protoplanet ini,” katanya.
Cairan asin tersebut diyakini berperan dalam pembentukan molekul penting bagi asal-usul kehidupan. Tim peneliti juga menemukan materi organik dan senyawa prebiotik di dalam sampel Kondrit Karbonan CM ini.
Tim peneliti menyatakan pengiriman asam amino, asam karboksilat, serta molekul organik larut oleh benda tipe CM dapat menjadi sumber penting bagi inventaris organik prebiotik di Bumi. Meski asteroid asalnya belum dapat dipastikan, mereka mengidentifikasi 27 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menjadi sumber meteorit tersebut.
Jenniskens menyebut sampel ini sebagai meteorit CM1/2 paling murni yang pernah ditemukan berkat tindakan cepat pemilik rumah. Studi mengenai meteorit tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
