Sejumlah pemimpin negara Arab dilaporkan menyampaikan desakan tertutup kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar meninjau ulang dukungannya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mereka menilai Netanyahu dan pemerintahan Israel saat ini menjadi hambatan bagi visi perdamaian serta pengaturan kawasan yang lebih luas di Timur Tengah.
Langkah itu menempatkan hubungan Trump dan Netanyahu dalam sorotan baru menjelang pemilihan umum Israel pada akhir Oktober mendatang. Pemerintah-pemerintah di kawasan disebut memantau kontestasi tersebut sambil berupaya memengaruhi cara Trump melihat arah kepemimpinan Israel berikutnya.
Desakan Disampaikan Secara Tertutup
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN News, melaporkan pada Rabu (15/7) waktu setempat bahwa para pemimpin Arab memandang Netanyahu sebagai penghalang bagi perdamaian regional. Penilaian itu tidak hanya diarahkan kepada sosok perdana menteri, melainkan juga kepada komposisi pemerintahannya saat ini.
Menurut laporan tersebut, para pemimpin Arab melihat pemerintahan Netanyahu sebagai rintangan dalam mewujudkan visi kawasan yang mereka inginkan. Fokus mereka adalah kemungkinan terbentuknya pengaturan regional yang lebih luas, yang dinilai sulit bergerak selama kepemimpinan Israel tetap berjalan seperti sekarang.
Harian Israel Haaretz juga melaporkan sentimen serupa dengan mengutip diplomat Arab yang mengetahui pembicaraan tersebut. Para diplomat itu menyatakan bahwa pemerintah di kawasan kian memandang Netanyahu sebagai penghambat ambisi diplomatik Trump di Timur Tengah.
Laporan mediaindonesia.com menyebut sejumlah sumber diplomatik bahkan menyampaikan secara eksplisit kepada Trump soal rendahnya kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan Netanyahu. Kekhawatiran itu juga mencakup susunan pemerintahan Israel yang dipimpinnya.
Kepercayaan terhadap Netanyahu Menjadi Persoalan
Desakan dari para pemimpin Arab menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata hubungan bilateral dengan Israel. Mereka menempatkan Netanyahu sebagai faktor yang dapat memengaruhi peluang tercapainya kesepakatan atau pengaturan yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan.
Dalam pandangan yang dilaporkan para diplomat Arab, perubahan sikap Trump terhadap Netanyahu dapat berdampak pada arah diplomasi Amerika Serikat. Karena itu, komunikasi kepada Trump dilakukan saat Israel memasuki periode politik yang dinilai penting menjelang pemilu.
Para pemimpin Arab disebut meyakini Trump mulai melihat Netanyahu sebagai hambatan bagi agenda regional yang lebih luas. Namun, laporan tersebut tidak menyebut adanya keputusan resmi dari Trump untuk mengubah dukungannya kepada pemimpin Israel itu.
Trump Masih Menjaga Sikap Ambivalen
Trump selama ini terus menonjolkan hubungan jangka panjangnya dengan Netanyahu, tetapi ia juga beberapa kali melontarkan kritik terbuka kepada sang perdana menteri. Sikap itu membuat arah dukungan Washington menjelang pemilu Israel belum terlihat sepenuhnya pasti.
Bulan lalu, Trump mengatakan bahwa dirinya sangat mungkin kembali mendukung Netanyahu. Meski demikian, ia menambahkan bahwa ia masih perlu melihat siapa saja yang akan maju dalam pemilihan umum Israel.
Trump juga memberikan catatan yang menandakan adanya keberatan terhadap cara Netanyahu memimpin. “Saya memiliki hubungan yang baik dengan Bibi (Netanyahu), tetapi dia harus menjadi lebih rasional,” ujar Trump.
Pernyataan itu menjadi penting karena Trump belum menutup kemungkinan mempertimbangkan kandidat lain dalam pemilu Israel. Di saat bersamaan, para pejabat Arab berupaya agar penilaian Washington tidak hanya bertumpu pada hubungan personal Trump dan Netanyahu.
Situasi ini memperlihatkan persaingan pengaruh yang mengiringi masa menuju pemilu Israel. Bagi negara-negara Arab yang terlibat dalam pembicaraan tersebut, perubahan penilaian Trump terhadap Netanyahu dipandang dapat menentukan ruang bagi ambisi diplomatik di Timur Tengah.
