Bernstein menilai Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC dan Unimicron sebagai dua emiten Taiwan dengan paparan kecerdasan buatan paling kuat di Asia. Keduanya disebut sebagai pemenang utama dalam siklus belanja modal AI yang masih berlangsung, seiring permintaan infrastruktur komputasi terus mengalir ke rantai pasok semikonduktor.
Sorotan utama datang dari posisi bisnis masing-masing yang berbeda tetapi sama-sama diuntungkan oleh lonjakan investasi AI. TSMC mendapat dorongan dari dominasi manufaktur chip logika canggih, sementara Unimicron memperoleh manfaat dari kebutuhan substrat untuk chip kelas atas yang dipakai NVIDIA dan chip ASIC seperti Google TPU.
TSMC tetap jadi pusat perhatian
Bernstein mencatat TSMC mempersempit panduan belanja modal 2026 ke batas atas di kisaran 52 miliar hingga 56 miliar dolar AS. Langkah itu memperkuat pandangan bahwa perusahaan masih agresif membangun kapasitas untuk menangkap permintaan AI yang terus tumbuh.
Lembaga itu juga memproyeksikan laba TSMC akan tumbuh sekitar 40 persen pada 2026. Setelah itu, Bernstein memperkirakan pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 20 persen hingga 2028.
Kinerja terbaru TSMC ikut menopang optimisme tersebut. Berdasarkan laporan The Globe and Mail, pendapatan kuartal pertama 2026 naik 40,6 persen dan laba per saham atau EPS meningkat 64,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Porsi bisnis terkait AI juga semakin besar. Pendapatan dari sektor komputasi kinerja tinggi atau HPC, termasuk AI, kini menyumbang 61 persen dari total pendapatan perusahaan.
Dominasi TSMC di manufaktur chip logika canggih bahkan diperkuat dengan pengumuman teknologi proses A13 untuk produksi pada 2029. Menurut The Motley Fool, posisi monopoli virtual itu membuat TSMC tetap unggul dibandingkan pesaing seperti Samsung dan Intel, meski biaya operasional di Amerika Serikat lebih tinggi daripada di Taiwan.
Unimicron ikut terdorong kebutuhan substrat AI
Unimicron juga masuk radar Bernstein karena perannya di komponen penting untuk chip AI. Perusahaan ini diperkirakan menguasai 35 persen pangsa pasar substrat ABF untuk GPU kelas atas NVIDIA dan lebih dari 50 persen untuk chip ASIC seperti Google TPU.
Kinerja operasional awal tahun ini ikut menguat. Unimicron mencatat pertumbuhan pendapatan kuartalan sebesar 8 persen, yang mempertegas momentum bisnisnya di tengah siklus belanja AI.
Data dari Investing.com menunjukkan AI diprediksi akan menyumbang sekitar setengah dari total pendapatan Unimicron pada 2026. Proyeksi itu membuat pasar memberi perhatian besar pada kemampuan perusahaan menjaga pasokan untuk segmen bernilai tinggi.
Reaksi pasar terhadap laporan Bernstein juga cukup cepat. Saham Unimicron sempat melonjak 9,96 persen ketika laporan tersebut dirilis, sedangkan saham TSMC naik tipis 0,41 persen pada hari yang sama.
Dampak ke rantai pasok AI lebih luas
Bernstein tidak hanya menyorot produsen chip utama, tetapi juga perusahaan peralatan manufaktur yang ikut memperoleh dorongan dari siklus AI. Lam Research disebut mendapat momentum positif lewat penyediaan peralatan manufaktur generasi terbaru.
Perusahaan itu memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 40 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan teknologi pengemasan tingkat lanjut dari produsen besar seperti TSMC dan Samsung.
Meski prospek sektor ini kuat, Bernstein tetap memberi catatan risiko. Analis menyoroti ketegangan geopolitik di Taiwan dan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi serta stabilitas jaringan listrik untuk pabrik fabrikasi.
Karena itu, perhatian pasar kini tertuju pada eksekusi belanja modal TSMC dan momentum pendapatan Unimicron menjelang kuartal kedua 2026. Bagi investor, dua nama itu menjadi indikator penting untuk membaca seberapa jauh siklus investasi AI masih bisa mendorong laba di rantai pasok semikonduktor.







