Industri dana pensiun sedang menghadapi tekanan dari pasar keuangan yang bergerak cepat, sementara kewajiban membayar manfaat pensiun harus tetap terjaga. Dalam kondisi seperti ini, pengelola dapen dituntut menjaga kinerja investasi tanpa mengorbankan keamanan dana peserta.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat total investasi industri dana pensiun mencapai Rp1.617,44 triliun pada April 2026, tumbuh 9,21% secara tahunan. Meski demikian, komposisi portofolio masih sangat konservatif karena Surat Berharga Negara mendominasi dengan nilai Rp1.041 triliun atau 64,41% dari total investasi.
Portofolio yang cenderung aman
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menilai dominasi SBN dan deposito menunjukkan preferensi industri pada instrumen yang sesuai dengan karakter liabilitas jangka panjang. Deposito dan tabungan menyusul di posisi berikutnya dengan nilai Rp225,71 triliun atau 13,95% dari total investasi.
Ogi menjelaskan bahwa tantangan ke depan datang dari volatilitas pasar keuangan, dinamika suku bunga, tekanan geopolitik global, dan kebutuhan menjaga keseimbangan antara hasil investasi serta profil risiko. Kenaikan BI Rate ke 5,75% juga disebut dapat memengaruhi strategi investasi, terutama pada portofolio pendapatan tetap dan pasar uang.
SBN tetap jadi andalan
Di tengah perubahan pasar, SBN diperkirakan tetap menjadi instrumen utama pilihan dana pensiun karena menawarkan keamanan, likuiditas, dan kesesuaian untuk kebutuhan investasi jangka panjang. Pandangan itu juga sejalan dengan penilaian Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Bambang Sri Muljadi, yang menyebut alasan utama penempatan dana di SBN dan deposito adalah faktor keamanan.
Bambang menambahkan bahwa imbal hasil SBN saat ini dinilai cukup tinggi untuk membantu menutup target return on investment rata-rata dana pensiun. Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan BI Rate tidak otomatis memperkuat Rupiah secara signifikan, sehingga tekanan pada harga saham, SBN, dan obligasi korporasi tetap perlu diwaspadai.
Tekanan pasar dan risiko imbal hasil
Menurut Bambang, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap valuta asing bisa menekan imbal hasil instrumen pasar modal, padahal porsi terbesar investasi dana pensiun berada di SBN dan obligasi korporasi. Ia juga menilai turunnya kepercayaan masyarakat dan investor bisa tercermin dari pelemahan IHSG serta penurunan harga surat utang ketika Rupiah melemah.
Dalam kondisi pasar yang belum stabil, dana pensiun dinilai perlu bersikap konservatif sambil menunggu pemulihan harga saham dan obligasi. Dana yang ditempatkan di pasar uang bisa menjadi pilihan sementara karena risikonya lebih rendah, meski imbal hasilnya juga tidak setinggi instrumen lain.
Inflasi, umur harapan hidup, dan kebutuhan dana yang makin besar
Humas ADPI Syarifudin Yunus menekankan bahwa ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar membuat nilai investasi mudah berubah. Di saat yang sama, inflasi dan meningkatnya angka harapan hidup peserta ikut mendorong kebutuhan dana pensiun menjadi semakin besar.
Syarifudin menilai imbal hasil dari instrumen konservatif seperti deposito dan obligasi sering kali belum cukup optimal untuk memenuhi kewajiban jangka panjang. Karena itu, pengelolaan investasi juga harus memperhatikan tata kelola, kualitas sumber daya manusia, perkembangan teknologi, serta perubahan regulasi agar tetap profesional dan disiplin.
Strategi lebih selektif di tengah kenaikan suku bunga
Kenaikan BI Rate ke 5,75% tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga membuka peluang bagi instrumen pendapatan tetap. Deposito dan SBN menjadi lebih menarik, namun kenaikan suku bunga juga dapat menekan harga obligasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
Syarifudin menilai kondisi itu membuat dana pensiun harus lebih selektif dalam menempatkan aset dan menjaga keseimbangan portofolio. Risiko perlambatan ekonomi, inflasi yang masih tinggi, volatilitas pasar global, dan ketidakpastian lain tetap perlu dijaga dalam pengambilan keputusan investasi.
Pendekatan aktif dalam pengelolaan portofolio
Dapen BCA menjadi salah satu pengelola dana pensiun yang melihat perubahan BI Rate sebagai faktor penting karena memengaruhi hampir seluruh kelas aset. Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno mengatakan fokus investasi kini semakin diarahkan ke instrumen pendapatan tetap seperti SRBI, deposito, dan SBN yang menawarkan yield lebih menarik dengan risiko terukur.
Budi menyebut kenaikan suku bunga juga membuka peluang reinvestasi dana pada instrumen baru dengan kupon atau imbal hasil yang lebih tinggi. Namun, pihaknya tetap mewaspadai kenaikan yield yang bisa menekan nilai pasar obligasi yang sudah dimiliki, terutama untuk tenor panjang.
Pengelolaan portofolio dilakukan secara aktif dengan mempertimbangkan durasi investasi, kebutuhan likuiditas, arah kebijakan moneter, dan perkembangan ekonomi domestik maupun global. Hingga Mei 2026, SBN masih menjadi komponen terbesar portofolio Dapen BCA dengan porsi sekitar 38,86%, sementara alokasi SRBI naik dari 13,78% pada April 2026 menjadi 14,66% pada Mei 2026.
Dengan strategi itu, ROI Dapen BCA per Mei 2026 tercatat 1,80%. Budi menegaskan bahwa tujuan utama dana pensiun bukan mengejar imbal hasil tertinggi, melainkan membangun portofolio yang sanggup memberi hasil berkelanjutan dengan risiko yang terkendali agar pembayaran manfaat pensiun tetap berjalan konsisten dalam jangka panjang.
Source: finansial.bisnis.com






