Pembayaran nontunai lewat QRIS kini bukan lagi kebiasaan baru yang terbatas di kota besar. Dari festival, pasar tradisional, warung kopi, bazar sekolah, hingga pedagang keliling di Jakarta, kode QR itu makin sering menjadi cara utama orang membayar.
Perubahan itu terlihat jelas di Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, ketika pembeli tak lagi sibuk mencari uang pas. Yang terdengar justru notifikasi pembayaran digital dari ponsel pembeli dan pedagang yang sama-sama menampilkan status transaksi berhasil.
Belanja, bayar parkir, sampai kopi pagi
Bagi sebagian orang, QRIS sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Tri, 36 tahun, misalnya, hampir selalu meninggalkan rumah tanpa uang tunai dan mengandalkan ponsel untuk membayar kopi, makan siang, hingga parkir.
“Buat saya lebih praktis. Sekarang hampir semua pembayaran pakai QRIS. Jadi memang sudah jarang bawa uang tunai,” ujarnya saat menggunakan aplikasi wondr by BNI untuk membayar makanan di festival tersebut.
Di titik lain, manfaat yang sama dirasakan para pedagang. Anik, ibu rumah tangga yang beberapa kali menjaga stan bazar sekolah anaknya, menilai QRIS membuat pembukuan jauh lebih ringan karena transaksi langsung tercatat otomatis.
| Pengguna | Situasi | Manfaat QRIS |
|---|---|---|
| Tri | Pembayaran harian, termasuk kopi dan parkir | Lebih praktis, jarang membawa uang tunai |
| Anik | Menjaga stan bazar sekolah | Transaksi tercatat otomatis, pembukuan lebih mudah |
Anik mengatakan, dalam dua hari bazar pada pertengahan Juni, total penjualan mencapai sekitar Rp6 juta. Sekitar Rp1,5 juta di antaranya dibayarkan lewat QRIS, sehingga ia tak perlu lagi menghitung uang tunai sampai malam seperti sebelumnya.
Dari stan bazar ke ekosistem pembayaran digital
Bank Indonesia mencatat hingga Mei 2026 volume transaksi QRIS di Jakarta mencapai 3,8 miliar transaksi, melonjak 212% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara nasional, BI menargetkan 17 miliar transaksi QRIS dengan 70 juta pengguna dan 47 juta merchant sepanjang 2026.
Di sisi lain, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan volume transaksi pembayaran digital pada Mei 2026 mencapai 5,22 miliar transaksi atau tumbuh 28,14% secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 95,10% secara tahunan, ditopang bertambahnya pengguna dan merchant.
“Pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Mei 2026 tetap tinggi didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal,” ujar Filianingsih dalam konferensi pers seusai Rapat Dewan Gubernur Juni, seperti dikutip kembali oleh finansial.bisnis.com, Kamis (10/7).
BNI dorong adopsi QRIS dan layanan digital
Di tengah dorongan digitalisasi yang lebih luas, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperluas adopsi QRIS lewat aplikasi wondr by BNI. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan transformasi digital tidak hanya soal menghadirkan teknologi, tetapi juga memberi kemudahan, keamanan, dan nilai tambah bagi masyarakat serta pelaku usaha.
“Sebagai mitra strategis pemerintah di sektor keuangan, BNI berkomitmen mendukung langkah BI dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif,” kata Okki dalam pernyataan resmi.
BNI menyebut transaksi QRIS terus tumbuh pesat sebesar 139,99% secara tahunan. Sementara itu, transaksi TapCash, uang elektronik berbasis kartu BNI, tumbuh 23,3% secara tahunan menjadi 142,0 juta transaksi.
Okki juga menilai transformasi BNI kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah kantor cabang atau jaringan ATM. Fokusnya bergeser pada kemampuan menghadirkan layanan keuangan yang mengikuti perubahan perilaku masyarakat, termasuk kebiasaan membayar lewat satu pindai QR.
Di lapangan, perubahan itu terlihat sederhana: sebuah kode QR di meja kasir atau stan bazar. Namun di balik satu pindai, cara masyarakat Indonesia berbelanja, berjualan, dan mengelola uang terus bergerak ke arah yang makin digital.
Bagi konsumen, QRIS membuat transaksi terasa lebih cepat dan ringkas. Bagi pedagang, sistem ini membantu pencatatan lebih rapi dan mengurangi kerepotan mengelola uang tunai setelah acara selesai.
