Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah aset militer Amerika Serikat. Serangan itu muncul sebagai balasan atas operasi militer AS yang lebih dulu menyasar fasilitas militer Iran.
Di saat yang sama, Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam konflik ini. Jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia itu ikut memicu kekhawatiran baru terhadap arus energi global.
Balasan Iran Memicu Kekhawatiran Baru
Operasi militer AS pada Minggu, 12 Juli 2026, dilaporkan menargetkan sistem pertahanan udara, radar, peralatan drone, hingga kapal-kapal kecil milik Iran. Washington menyebut operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Teheran untuk menyerang kapal sipil dan kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC kemudian menegaskan pada Senin, 13 Juli 2026, bahwa Selat Hormuz merupakan wilayah Iran. Teheran juga mengklaim kembali menutup jalur pelayaran strategis tersebut, langkah yang langsung memunculkan kekhawatiran soal kelancaran distribusi energi dunia.
Susannah Streeter, pakar pasar dari Wealth Club, menyebut Selat Hormuz telah menjadi “tumit Achilles” bagi Amerika Serikat dalam konflik ini sekaligus kartu truf terkuat bagi Iran. Seiring meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak sekitar 4 persen pada Senin hingga menembus level di atas US$79 per barel.
Target Serangan Iran di Kawasan Teluk
Media pemerintah Iran melaporkan rudal balistik ditembakkan dari wilayah barat dan tengah Iran menuju pangkalan serta kapal militer AS di kawasan Teluk. Sejumlah lokasi di Bahrain, Kuwait, Oman, dan Yordania kemudian disebut dalam rangkaian klaim serangan tersebut.
| Wilayah | Target yang Disebut | Keterangan |
|---|---|---|
| Bahrain | Fasilitas di Juffair | Sirene peringatan rudal berbunyi di wilayah markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS |
| Kuwait | Pangkalan Ali Al Salem dan Pangkalan Ahmed Al-Jaber | IRNA mengklaim depot bahan bakar, sistem Patriot, dan radar strategis dihancurkan |
| Oman | Dua sistem radar | Iran mengklaim keduanya dihancurkan |
| Yordania | Empat rudal Iran | Aparat keamanan Yordania melaporkan berhasil mencegatnya |
Di Bahrain, sirene peringatan rudal dilaporkan berbunyi di wilayah yang menjadi markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS. Di Kuwait, kantor berita IRNA mengklaim IRGC menghancurkan depot bahan bakar dan sistem pertahanan udara Patriot di Pangkalan Ali Al Salem, serta sistem radar strategis di Pangkalan Ahmed Al-Jaber.
Iran juga mengklaim menghancurkan dua sistem radar di Oman, sementara aparat keamanan Yordania melaporkan berhasil mencegat empat rudal Iran yang melintasi wilayah udaranya. Rangkaian klaim ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak lagi terbatas pada serangan balasan satu arah.
Sebelumnya, serangan militer AS dilaporkan menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Hormozgan, Khuzestan, dan Markazi yang berada di sekitar Teheran. Serangan tersebut dilaporkan mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas, menambah tekanan di tengah ketegangan yang masih bergerak cepat.
www.medcom.id mencatat, konflik ini kini bertumpu pada dua hal yang sangat sensitif: keamanan pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan kendali atas Selat Hormuz. Selama dua titik itu belum mereda, pasar energi dan stabilitas regional tampaknya akan terus berada dalam posisi waspada.
Source: www.medcom.id






