Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan alasan di balik pemindahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ratusan triliun dari Bank Indonesia ke perbankan milik negara atau Himbara. Menurut dia, langkah itu diambil karena indikator yang selama ini dipakai Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk membaca likuiditas perbankan ternyata keliru.
Purbaya menilai kesalahan membaca likuiditas itu membuat kondisi ekonomi terlihat lebih aman daripada yang sebenarnya. Padahal, ketika banyak pihak menyebut likuiditas perbankan masih memadai pada 2025, pelambatan ekonomi justru sudah mulai tampak.
Indikator yang dinilai kurang tepat
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7), Purbaya menyebut ada kesalahan data atau indikator dalam penilaian KSSK. Ia juga mengatakan sudah meminta tim KSSK memperbaiki hal itu, namun hasilnya belum sesuai harapan.
Ia mengaku mempertanyakan penilaian sejumlah otoritas di KSSK yang menyebut likuiditas perbankan masih ample atau memadai. Setelah ditelusuri, hasilnya justru menunjukkan gambaran yang berbeda dari penilaian awal.
Menurut Purbaya, indikator yang lebih tepat untuk melihat kondisi uang di sistem adalah base money atau M0. Dari pengamatannya, pertumbuhan base money pada April hingga Agustus 2025 nyaris nol.
Efek pada ekonomi dan kebijakan SAL
Purbaya mengatakan kondisi serupa juga terlihat pada pertengahan 2023 hingga awal 2025. Jika mengacu pada teori Milton Friedman, menurut dia, situasi itu menandakan tidak ada pertumbuhan uang sehingga ekonomi sedang direm.
Berangkat dari temuan itu, ia memutuskan memindahkan dana SAL milik pemerintah dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN. Kebijakan tersebut kemudian diyakini ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,39 persen pada kuartal IV 2025 dan berlanjut menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Purbaya menegaskan bahwa base money masih menjadi indikator yang valid untuk melihat apakah uang di sistem ada atau tidak. Pernyataan itu menjadi dasar utama penjelasan pemerintah mengenai alasan pemindahan dana SAL ke perbankan milik negara.
Langkah ini menempatkan perdebatan bukan pada besar kecilnya dana saja, melainkan pada cara membaca likuiditas yang digunakan selama ini. Dari sudut pandang Purbaya, perubahan indikator menjadi kunci untuk memahami kenapa dana pemerintah perlu digeser agar aliran uang di sistem perbankan lebih terasa.
Source: www.cnnindonesia.com






