JTCC Disiapkan Jadi Koridor Logistik, Regulasi Masih Jadi Kunci Utama

Jalan Tol Cibitung-Cilincing atau JTCC tengah disiapkan masuk ke skema koridor wilayah logistik, tetapi kepastian aturan pelaksanaannya masih dinanti. Rencana ini dinilai penting karena jalur tersebut bisa memangkas beban jalan arteri yang selama ini dipakai bersama kendaraan logistik dan kendaraan pribadi.

Di sisi lain, integrasi koridor logistik juga dipandang sebagai upaya untuk menekan biaya logistik yang membengkak akibat ketidakpastian waktu tempuh. Karena itu, JTCC menjadi salah satu ruas yang disorot dalam pembahasan Badan Pengatur Jalan Tol atau BPJT.

JTCC dan peran strategisnya

Anggota BPJT dari unsur masyarakat, Tulus Abadi, mengatakan pemerintah sedang menyiapkan skema integrasi koridor wilayah logistik untuk JTCC. Ruas ini dinilai strategis karena menghubungkan kawasan industri di timur Jakarta dan Jawa Barat dengan Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Tulus, upaya tersebut ditujukan untuk memaksimalkan potensi jalur eksisting bagi konektivitas logistik sekaligus mengurai beban lalu lintas di jalan arteri. Ia juga menyebut rencana integrasi pada JTCC merupakan bagian dari upaya konektivitas yang lebih luas dan mencakup sejumlah ruas tol lain yang memenuhi persyaratan.

AspekInformasiKeterangan
Ruas yang dibahasJalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC)Masuk skema koridor wilayah logistik
Fungsi utamaKonektivitas kawasan industri ke Pelabuhan Tanjung PriokUntuk distribusi logistik yang lebih efisien
Masalah yang ingin diuraiKepadatan jalan arteriDipakai bersama kendaraan logistik dan kendaraan pribadi

Aturan pelaksana masih ditunggu

Sejumlah pakar dan pelaku logistik menilai keberhasilan integrasi tidak hanya bergantung pada skema tarif. Kepastian regulasi disebut menjadi landasan utama agar pelaksanaannya berjalan konsisten dan diawasi dengan baik.

Pengamat Publik Agus Pambagio mengingatkan bahwa regulasi dibutuhkan untuk mengatur koordinasi antar Badan Usaha Jalan Tol atau BUJT. Ia menilai Peraturan Menteri harus ada sebagai dasar pelaksanaan integrasi, disertai tata kelola dan pengawasan agar manfaatnya benar-benar terasa.

“Peraturan Menteri memang harus ada sebagai dasar pelaksanaan integrasi. Yang tidak kalah penting adalah tata kelola dan pengawasannya supaya integrasi berjalan konsisten dan memberikan kepastian bagi semua pihak,” ucap Agus.

Agus juga menekankan bahwa integrasi koridor wilayah logistik merupakan langkah strategis untuk menghadirkan sistem jalan tol yang lebih efisien dan mudah digunakan masyarakat. Menurut dia, integrasi tarif dibutuhkan agar pengguna tidak perlu membayar berkali-kali dan sistemnya lebih sederhana.

“Integrasi tarif memang harus dilakukan supaya pengguna tidak perlu bayar berkali-kali dan sistemnya lebih mudah. Yang lebih penting lagi, pengawasannya harus berjalan agar implementasinya benar-benar efektif,” tegasnya.

Pelaku industri menyoroti kepastian usaha

Dari sisi industri, Sekretaris Jenderal ALFI Institute, Trismawan Sanjaya, menilai kepastian regulasi menjadi prasyarat penting bagi pelaku logistik. Dengan aturan yang jelas sejak awal, pelaku usaha bisa menyusun strategi distribusi dan perencanaan bisnis dengan lebih pasti.

Trismawan menyebut integrasi tarif akan menjadi sinyal positif bagi dunia usaha karena mencerminkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan efisiensi logistik dan memperbaiki iklim investasi. Ia juga menilai tarif tol yang masih terpotong-potong dapat menjadi high cost bagi industri logistik.

“Kalau tarifnya (tol ruas pendukung logistik) sudah terintegrasi, pelaku usaha punya lebih banyak pilihan rute, sementara regulasi yang jelas akan meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan investor,” ujar Trismawan.

Jika berjalan optimal, integrasi koridor wilayah logistik diperkirakan memperkuat peran JTCC sebagai akses langsung antara kawasan industri dan Pelabuhan Tanjung Priok. Efek lanjutannya diharapkan berupa distribusi lalu lintas yang lebih merata serta efisiensi waktu dan biaya operasional logistik.

Dalam jangka panjang, konektivitas yang lebih baik juga diyakini dapat memperkuat rantai pasok nasional dan membantu menjaga stabilitas harga barang di dalam negeri. Rencana integrasi JTCC sendiri disebut menjadi bagian dari rencana integrasi yang lebih luas pada jalur-jalur eksisting, terutama di Jabodetabek.

Dengan kata lain, JTCC bukan sekadar ruas tol penghubung, tetapi juga calon simpul penting dalam penataan arus barang di kawasan metropolitan. Namun sampai aturan pelaksana keluar, fokus utama masih ada pada kepastian regulasi yang akan menentukan bagaimana koridor logistik ini benar-benar dijalankan.

Source: finance.detik.com
Terkait