IHSG Lompat 4,24 Persen, Tiga Sinyal Domestik Mengangkat Kepercayaan Pasar

Author: Qoo Media

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level 6.100 setelah melonjak 4,24 persen sepanjang perdagangan 13-17 Juli 2026. Kenaikan 251,17 poin ini terjadi ketika pasar mendapat tiga sinyal positif dari perubahan aturan MSCI, peringkat kredit Indonesia, dan lonjakan investasi asing langsung.

Reli tersebut membawa IHSG berakhir di level 6.175,535, dari penutupan pekan sebelumnya pada 5.924,360. Dalam sepekan, indeks sempat bergerak dari level terendah 5.898,14 hingga tertinggi 6.192,65.

Tiga katalis di balik reli

Katalis pertama datang dari MSCI yang melonggarkan metodologi penyaringan saham dengan kenaikan harga ekstrem atau Extreme Price Increase (EPI). Perubahan yang berlaku pada tinjauan indeks Agustus 2026 itu memberi ruang bagi saham tertentu untuk tetap dipertimbangkan masuk indeks global.

Saham kategori EPI dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) minimal 0,75 dikecualikan dari penyaringan EPI, selama memenuhi seluruh syarat inklusi lain. Kebijakan ini dinilai penting karena sebelumnya lonjakan harga ekstrem berpotensi menghambat saham masuk dalam seleksi indeks MSCI.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menilai pelonggaran tersebut menjadi angin segar bagi pasar domestik. Menurutnya, aturan baru membuka peluang bagi saham yang naik tinggi, tetapi memiliki tingkat likuiditas yang tercermin dari FIF minimal 0,75.

Perubahan itu muncul setelah MSCI sempat membekukan sementara seluruh perubahan indeks untuk pasar Indonesia pada awal 2026. Keputusan tersebut terkait sorotan atas transparansi struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran mengenai perilaku perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham.

Kondisi tersebut sebelumnya beriringan dengan derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham domestik. Imam mencatat aksi jual bersih investor asing secara year to date telah melampaui Rp 90 triliun, saat IHSG sempat melemah sekitar 30 persen dari titik tertingginya pada Februari.

Katalis kedua berasal dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di BBB dan peringkat jangka pendek di A-2. Prospek peringkat tersebut juga tetap stabil, sehingga pasar membaca keputusan itu sebagai dukungan terhadap kepercayaan pada fundamental ekonomi nasional.

Sikap S&P dinilai kontras dengan dua lembaga pemeringkat internasional lain yang pada Februari dan Maret 2026 sempat merevisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif. Peringkat investment grade dengan outlook stabil memberi sentimen positif bagi pelaku pasar.

Faktor ketiga adalah pertumbuhan foreign direct investment atau investasi asing langsung pada kuartal II-2026. Realisasi penanaman modal asing mencapai Rp 257,7 triliun, tumbuh 27,4 persen secara tahunan atau setara sekitar 14,32 miliar dollar AS.

Katalis Data Utama Dampak bagi Pasar
Metodologi MSCI EPI dengan FIF ≥0,75 dikecualikan dari penyaringan EPI Peluang inklusi saham ke indeks global lebih terbuka
Peringkat S&P BBB, outlook stabil Mendukung keyakinan terhadap fundamental Indonesia
FDI kuartal II-2026 Rp 257,7 triliun, naik 27,4 persen secara tahunan Menunjukkan kepercayaan investor asing

Bank besar menjadi penopang utama

Penguatan indeks terutama digerakkan saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI menjadi kontributor terbesar dengan kenaikan 9,8 persen dan sumbangan 32,66 poin terhadap IHSG.

PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA menguat 4,86 persen dan menyumbang 26,47 poin. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI naik 6,45 persen dengan kontribusi 26,27 poin.

Saham Kenaikan Sepekan Kontribusi ke IHSG
BMRI 9,8 persen 32,66 poin
BBCA 4,86 persen 26,47 poin
BBRI 6,45 persen 26,27 poin
AMMN 12,25 persen 18,11 poin

Saham komoditas juga ikut menopang kenaikan, dengan AMMN melesat 12,25 persen dan memberi tambahan 18,11 poin. TLKM naik 7,26 persen, BYAN menguat 7,14 persen, sedangkan ASII bertambah 6,03 persen sepanjang pekan.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan aktivitas perdagangan turut meningkat selama periode tersebut. Rata-rata nilai transaksi harian naik 36,25 persen menjadi Rp 13,99 triliun, sementara volume harian bertambah 27,75 persen menjadi 26,17 miliar lembar saham.

Frekuensi transaksi harian juga naik 24,60 persen menjadi 2,33 juta kali transaksi. Sejalan dengan reli indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat 3,95 persen menjadi Rp 10.749 triliun.

Data investasi dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan total realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Nilai itu setara 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp 2.041,3 triliun.

Hong Kong tercatat sebagai investor asing terbesar dengan nilai investasi 7,6 miliar dollar AS, diikuti Tiongkok, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat. Meski sinyal ekonomi domestik membaik, keputusan investasi saham tetap perlu didasarkan pada riset mandiri dan pertimbangan risiko masing-masing investor.

Source: money.kompas.com
Terbaru