Demam AI Membuat KOSPI Goyang, Leverage Menjauhkan Saham dari Fundamental

Author: Qoo Media

Ledakan minat investor terhadap kecerdasan buatan atau AI mengubah pasar saham Korea Selatan menjadi jauh lebih bergejolak. Indeks KOSPI yang sebelumnya kerap dibaca lewat indikator ekonomi kini banyak digerakkan oleh arus dana spekulatif ke saham semikonduktor.

Perubahan itu membuat pergerakan harga saham semakin sulit dikaitkan dengan kinerja bisnis emiten. Investor global pun menaruh perhatian karena gejolak di Korea Selatan dapat memengaruhi portofolio dari Asia hingga Amerika Serikat.

Leverage Memperbesar Gerak Saham

Pusat perhatian pasar tertuju pada single-stock leveraged exchange traded fund atau ETF leverage, produk yang memberi eksposur berlipat pada pergerakan harga satu saham. Produk tersebut menawarkan peluang imbal hasil lebih besar, tetapi sekaligus mempercepat risiko ketika harga bergerak berlawanan.

Dana ini banyak memburu Samsung Electronics dan SK Hynix, dua produsen semikonduktor yang diuntungkan oleh lonjakan kebutuhan teknologi AI. Kedua perusahaan tersebut kini menyumbang lebih dari separuh kapitalisasi pasar KOSPI.

Alexander Redman, Kepala Strategi Ekuitas CLSA, menilai pola lama pasar Korea telah berubah. “Indeks kini telah terlepas dari seluruh faktor pendorong historis pasar Korea,” ujarnya.

Menurut Redman, pasar Korea sebelumnya relatif mudah dianalisis karena punya hubungan kuat dengan sejumlah indikator ekonomi. Kini, arus dana ke produk leverage berbasis saham tunggal dinilai lebih dominan dibandingkan fundamental perusahaan.

Indikator Nilai Konteks
Pinjaman margin investor ritel 34,37 triliun won Tercatat pada pekan ini
Rekor pinjaman margin 38,6 triliun won Terjadi pada Juni
Aset ETF leverage SK Hynix di Hong Kong 7,78 miliar dollar AS Naik lebih dari 20 kali lipat sejak awal tahun

Gejolak KOSPI Meningkat Tajam

Volatilitas KOSPI meningkat setelah kapitalisasi pasarnya sempat berlipat ganda dalam enam bulan. Indeks itu kemudian terkoreksi sekitar 20 persen sepanjang bulan ini.

Lebih dari separuh kejadian circuit breaker dalam sejarah KOSPI juga disebut terjadi hanya dalam enam bulan terakhir. Mekanisme ini menghentikan perdagangan sementara saat indeks turun lebih dari 8 persen selama setidaknya satu menit.

Redman menggambarkan perubahan skala risiko yang kini dihadapi investor institusi. “Kalau dulu pasar Korea turun 7 persen dalam sehari, saya mungkin tidak akan sedang berbicara dengan Anda. Sekarang itu menjadi hal yang normal,” katanya.

Mengacu laporan Reuters yang dikutip money.kompas.com, valuasi Samsung Electronics dan SK Hynix berada pada rasio harga terhadap laba atau PER di bawah lima kali. Level tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prospek pertumbuhan laba kedua perusahaan.

ETF SK Hynix Menjadi Sorotan

ETF leverage dua kali berbasis saham SK Hynix yang tercatat di Bursa Hong Kong menjadi contoh paling menonjol dari derasnya arus spekulatif. Dengan aset kelolaan 7,78 miliar dollar AS, produk ini disebut sebagai ETF leverage saham tunggal terbesar di dunia.

Florian Neto, Kepala Investasi Asia Amundi, mengatakan volume transaksi beberapa ETF leverage saham tunggal telah mencapai empat kali rata-rata volume perdagangan saham acuannya. Ia menilai pertumbuhan dana kelolaan tersebut mulai menunjukkan batas penggunaan leverage pada satu saham.

Tingginya penggunaan pinjaman oleh investor ritel juga menambah sensitivitas pasar terhadap koreksi harga. Saldo pinjaman margin memang turun dari rekor Juni, tetapi nilainya masih mencerminkan besarnya dana pinjaman yang digunakan untuk membeli saham.

Regulator Mulai Membatasi Produk Baru

Pemerintah Korea Selatan memutuskan menghentikan sementara peluncuran ETF leverage saham tunggal baru. Kebijakan itu diambil untuk meredam lonjakan spekulasi yang membayangi pasar saham domestik.

Mulai 5 Agustus, saldo kas minimum untuk memperdagangkan ETF leverage saham tunggal, termasuk produk yang tercatat di luar negeri, akan dinaikkan tiga kali lipat. Batas minimum tersebut menjadi 30 juta won atau sekitar 20.300 dollar AS.

Mike Sell, Kepala Global Emerging Market Equities Alquity, menilai pembatasan itu dapat mengarahkan kembali perhatian pasar kepada fundamental perusahaan. Menurutnya, kembalinya rasionalitas akan menjadi kabar positif bagi investor jangka panjang.

Peluang AI Tetap Besar, Risiko Tidak Hilang

Di tengah gejolak pasar, permintaan teknologi AI tetap membuka peluang pendanaan besar bagi perusahaan semikonduktor Korea Selatan. SK Hynix pekan lalu menghimpun 26,5 miliar dollar AS di pasar modal Amerika Serikat, yang disebut sebagai penggalangan modal terbesar perusahaan asing di pasar AS.

Namun, survei manajer investasi Bank of America menunjukkan mayoritas investor masih melihat potensi gelembung AI sebagai salah satu risiko terbesar bagi pasar global. Damien Boey dari Wilson Asset Management mengingatkan bahwa keberhasilan leverage tetap bergantung pada keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.

Source: money.kompas.com
Terbaru