Anggaran program makan bergizi gratis atau MBG pada 2026 berpotensi berkurang Rp39 triliun. Nilainya disebut dapat turun dari Rp268 triliun menjadi Rp229 triliun.
Perubahan itu belum menjadi angka final karena Badan Gizi Nasional masih membenahi tata kelola program. Salah satu fokusnya ialah menyisir kembali daftar penerima manfaat agar alokasi anggaran lebih tepat.
Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional, Lili Khamiliyah, menyebut perhitungan efisiensi tersebut masih bersifat sementara. Proses penyusunan ulang sejumlah komponen program akan dilakukan dalam sekitar satu bulan ke depan.
“Untuk sementara 2026 ini kan kita juga sudah ada efisiensi anggaran, dari Rp268 triliun itu menjadi Rp229 triliun,” kata Lili dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).
Selisih Anggaran Mencapai Rp39 Triliun
Potensi penurunan anggaran ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam perencanaan Program MBG tahun ini. Selisih antara pagu awal dan angka efisiensi sementara mencapai Rp39 triliun.
| Komponen | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Anggaran semula | Rp268 triliun | Angka sebelum efisiensi |
| Potensi anggaran setelah efisiensi | Rp229 triliun | Masih bersifat sementara |
| Selisih potensi efisiensi | Rp39 triliun | Hasil pengurangan dua angka anggaran |
Lili menjelaskan, penyisiran ulang atau refocusing penerima manfaat menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kebutuhan belanja program. Langkah itu dilakukan untuk menyusun kembali pos-pos yang dinilai berpengaruh terhadap pelaksanaan anggaran.
BGN menekankan pengelolaan APBN untuk program tersebut harus berjalan efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Karena itu, angka anggaran tidak hanya bergantung pada pagu awal, tetapi juga pada hasil pembaruan data penerima.
Data Penerima Manfaat Menjadi Penentu
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan jumlah penerima manfaat yang sedang disisir berada di kisaran 62,7 juta orang. Hasil penyisiran itu diyakini akan membuat kebutuhan anggaran mengikuti jumlah penerima yang benar-benar tercatat.
Menurut Agustina, gambaran penurunan anggaran sudah terlihat dari proses tersebut. Namun, ia menegaskan nilai akhirnya masih menunggu seluruh proses penyisiran selesai.
“Dengan hasil penyisiran tadi sekitar 62,7 juta penerima manfaat, saya yakin sebenarnya itu nanti akan otomatis mengikuti,” ujar Agustina. Ia menambahkan bahwa angka final baru dapat dipastikan setelah prosesnya benar-benar tuntas.
Data penerima manfaat menjadi bagian penting karena berkaitan langsung dengan besaran anggaran yang perlu disiapkan. Ketika jumlah penerima diperbarui, kebutuhan belanja program juga dapat berubah.
Informasi mengenai potensi efisiensi ini disampaikan BGN dalam konferensi pers yang diberitakan www.cnnindonesia.com. Lembaga tersebut belum menetapkan angka akhir pengurangan anggaran maupun hasil final penyisiran penerima manfaat.
Dengan demikian, angka Rp229 triliun masih merupakan proyeksi sementara untuk Anggaran MBG 2026. Kepastian besaran dana akan bergantung pada perbaikan tata kelola dan pemutakhiran daftar penerima manfaat yang sedang berjalan.
