Harga emas dunia kembali menguat hingga menembus US$ 4.125 per ons troi pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Kenaikan ini terjadi ketika investor memburu aset aman di tengah konflik Timur Tengah dan ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.
Data spot Bloomberg menunjukkan emas berada di US$ 4.125,5100 per ons troi. Posisi tersebut melanjutkan penguatan tajam sehari sebelumnya, saat harga emas mendekati level tertinggi dalam dua pekan.
Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), emas spot naik sekitar 1% menjadi US$ 4.115,89 per ons. Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga ditutup naik 1,1% ke US$ 4.120,60 per ons.
Permintaan Aset Aman Menguat
Minat terhadap emas meningkat karena pasar mencermati perkembangan diplomasi konflik Timur Tengah. Ketegangan kawasan tersebut juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi yang dapat mendorong harga minyak lebih tinggi.
Tiga kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India dilaporkan berbalik arah di Laut Merah. Perubahan rute itu dikaitkan dengan ancaman kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, sehingga harga minyak dunia terdorong naik.
Kenaikan minyak menimbulkan dilema bagi pasar emas. Inflasi yang terdorong harga energi berpotensi membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sementara kondisi geopolitik justru menguatkan kebutuhan investor terhadap instrumen safe haven.
Analis Senior ActivTrades Ricardo Evangelista menilai dua sentimen tersebut masih saling mengimbangi. “Kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama diimbangi oleh permintaan aset aman,” kata Evangelista.
Ia juga menilai harapan de-eskalasi melalui diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengurangi tekanan terhadap harga minyak. Namun, reli emas tetap berpotensi menghadapi tekanan apabila volatilitas di pasar energi meningkat.
Level US$ 4.000 Jadi Perhatian Pasar
Menurut Evangelista, area US$ 4.000 per ons masih dipandang sebagai dukungan teknikal yang kuat bagi harga emas. Level ini menjadi penting setelah emas sempat terkoreksi dari rekor tertingginya yang dicapai pada Januari.
Pada periode tersebut, lonjakan harga energi akibat konflik memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Emas memang dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, tetapi daya tariknya dapat berkurang ketika suku bunga tinggi karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Pasar kini menunggu pertemuan The Fed pekan depan untuk mencari petunjuk kebijakan moneter berikutnya. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026.
Pelaku pasar bahkan memperhitungkan peluang dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir Maret tahun depan. Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 68%.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas, melainkan juga sejumlah logam mulia lain. Perak, platinum, dan paladium sama-sama mencatat kenaikan pada perdagangan terbaru.
| Komoditas | Perubahan | Harga per Ons |
|---|---|---|
| Emas spot | Naik sekitar 1% | US$ 4.115,89 |
| Perak spot | Naik 1% | US$ 59,35 |
| Platinum | Naik 1,1% | US$ 1.646,63 |
| Paladium | Naik 1,8% | US$ 1.305,41 |
Data tersebut memperlihatkan sentimen positif meluas di pasar logam mulia. Namun, arah harga berikutnya tetap akan dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan minyak, serta keputusan kebijakan The Fed.
