Harga Emas Tembus Rp2 Juta/Gram, Permintaan Cicil Emas di BSI Naik 117%

Harga emas terus meroket hingga menembus angka Rp2 juta per gram pada awal September 2025, mengakibatkan permintaan cicil emas di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengalami lonjakan signifikan. Data terbaru dari BSI menunjukkan pembiayaan cicil emas tumbuh sebesar 117,35% secara tahunan pada Juli 2025, menandai minat yang semakin besar dari masyarakat untuk berinvestasi emas secara cicilan.

Permintaan Cicil Emas Melonjak Tajam

Direktur Sales dan Distribution BSI, Anton Sukarna, menyatakan bahwa meskipun harga emas cenderung meningkat, masyarakat Indonesia kini makin tertarik untuk memiliki emas sebagai instrumen investasi dan aset aman atau safe haven. Anton mengungkapkan bahwa konsumsi emas per kapita di Indonesia masih relatif rendah, yakni hanya 0,16 gram, jauh di bawah beberapa negara ASEAN lain seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

“BSI melihat tren masyarakat yang semakin melirik emas sebagai aset safe haven. Kami mendemokratisasi kepemilikan emas, bahkan bisa dimulai hanya dari 0,05 gram atau sekitar Rp100 ribu,” ujar Anton dalam keterangannya pada Jumat (5/9/2025). Pendekatan ini dinilai efektif dalam menggaet segmen konsumen yang sebelumnya belum pernah berinvestasi emas.

Pertumbuhan Pembiayaan Berbasis Emas

Hingga Mei 2025, pembiayaan di BSI mengalami pertumbuhan 15% secara tahunan. Dalam hal produk terkait emas, cicil emas mencatat kenaikan yang jauh lebih tinggi yaitu sebesar 175% YoY. Selain itu, layanan gadai emas juga menunjukan pertumbuhan yang positif sebesar 68,68% YoY. Pertumbuhan ini menjadi pendorong utama peningkatan kinerja pembiayaan BSI secara keseluruhan.

Pembiayaan berbasis emas dinilai sebagai kategori yang aman karena didukung oleh underlying asset berupa emas batangan yang memiliki nilai intrinsik stabil. Anton menegaskan bahwa produk cicil emas dan gadai emas mendukung strategi BSI dalam memanfaatkan harga emas yang terus menguat untuk mendongkrak portofolio pembiayaan.

Kinerja Keuangan BSI yang Solid

Selain pertumbuhan produk cicil emas, laporan keuangan BSI pada tujuh bulan pertama tahun 2025 mencatat laba bersih sebesar Rp4,15 triliun. Angka ini meningkat 5,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan laba Rp3,93 triliun. Kenaikan laba ini didukung oleh peningkatan pembiayaan yang mencapai Rp294,92 triliun, naik 20,31% YoY dari Rp245,49 triliun pada Juli 2024.

Pendapatan BSI setelah distribusi bagi hasil ikut mengalami peningkatan sebesar 9,26% YoY menjadi Rp11,21 triliun dibandingkan Rp10,25 triliun pada Juli 2024. Di sisi pendanaan, BSI mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp327,70 triliun, naik 9,55% YoY dengan kontribusi deposito sebesar Rp127,63 triliun atau naik 15,20% YoY. Deposito juga menempati pangsa yang lebih besar sebesar 38,95% dari total DPK, meningkat dari 37,04% pada Juli 2024.

Data Keuangan dan Aset BSI per Juli 2025

  1. Total aset tercatat: Rp395,73 triliun
  2. Total liabilitas: Rp347,45 triliun
  3. Ekuitas: Rp48,28 triliun

Peningkatan kinerja ini menunjukkan daya tahan dan kemampuan BSI dalam mengelola portofolio pembiayaan, termasuk produk emas yang tengah naik daun.

Dengan harga emas yang terus meningkat signifikan dan minat masyarakat yang makin kuat untuk mencicil emas, strategi BSI dalam memperluas akses kepemilikan emas dinilai berhasil membuka peluang investasi yang lebih luas dan inklusif. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring ketidakpastian ekonomi global yang membuat emas semakin diminati sebagai pelindung nilai.

Terkait