Ketahanan Digital Jadi Isu Penting di Era Perkembangan Teknologi Baru 2024

Perkembangan pesat teknologi digital membawa tantangan baru yang menuntut ketahanan ekosistem digital di Indonesia. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan ancaman siber, ketahanan digital menjadi isu yang sangat penting. Hal ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan transformasi digital nasional.

Dalam forum Digital Resilience Summit 2025 yang diselenggarakan oleh Peruri bersama PT Xynexis International, para pemimpin industri, regulator, dan akademisi berkumpul untuk membahas strategi peningkatan ketahanan digital di Indonesia. Acara ini mengusung tema “Integrating Cybersecurity, AI, Quantum & Privacy for Enterprise Resilience” dan menegaskan perlunya penguatan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman di dunia digital.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menjelaskan bahwa Indonesia, sebagai salah satu komunitas digital terbesar dunia dengan nilai ekonomi digital yang diperkirakan mencapai USD109 miliar pada 2025, harus siap menghadapi berbagai risiko keamanan siber. "Kita menghadapi ancaman serius seperti serangan siber yang menargetkan sektor strategis. Kita harus lebih siap menghadapi tantangan ini bersama-sama," tutur Kartika pada Minggu, 14 September 2025.

Peran penting juga diungkapkan oleh Direktur Utama Peruri, Dwina Septiani Wijaya, yang melihat forum tersebut sebagai momentum strategis untuk memperkuat kontribusi Peruri dalam menjaga keamanan digital nasional. “Di era disrupsi yang penuh risiko, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kedaulatan digital Indonesia tetap terjaga,” kata Dwina.

Sementara itu, CEO PT Xynexis International, Eva Noor, menegaskan bahwa isu keamanan siber, AI, kuantum, dan privasi data harus ditangani secara terintegrasi. Forum ini dianggap sebagai ruang bersama untuk mencari solusi konkret yang dapat membuat Indonesia siap menghadapi tantangan teknologi masa depan.

Penguatan Tata Kelola Keamanan Digital

Dalam rangkaian acara, hari pertama Digital Resilience Summit 2025 menghadirkan empat panel diskusi utama yang membahas cybersecurity, kesiapan AI dan komputasi kuantum, regulasi dan kebijakan, serta inovasi dalam ekosistem digital. Hari kedua difokuskan pada masterclass yang menekankan integrasi teknologi canggih dengan penerapan tata kelola keamanan digital.

Direktur Digital Business Peruri, Farah Fitria Rahmayanti, menekankan urgensi kesiapsiagaan terhadap risiko yang muncul dari pemanfaatan AI dan teknologi kuantum. Menurut Farah, ancaman seperti serangan siber dan deepfake terjadi setiap hari dan dapat mengancam data serta privasi jika tidak dikelola dengan baik.

“Masterclass ini bertujuan untuk memastikan kita dapat mengintegrasikan cybersecurity, AI, dan teknologi kuantum agar data privacy tetap terlindungi,” jelas Farah. Dia juga menekankan pentingnya peran regulator dalam menetapkan standar tata kelola dan etika penggunaan teknologi sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko.

Digital Resilience sebagai Pilar Kepercayaan Nasional

Peruri menunjukkan transformasi perannya dari institusi pencetak uang fisik menjadi pilar kepercayaan digital Indonesia. Melalui fungsi GovTech, Peruri mengembangkan solusi digital terintegrasi yang memperkuat tata kelola pemerintahan dan identitas digital nasional.

Dwina menegaskan bahwa perjalanan Peruri dalam mendukung kedaulatan digital bukan hanya soal teknologi, melainkan bagian dari komitmen nasional dalam era digital. "Dari uang kertas menuju kepercayaan digital, perjalanan Peruri adalah wujud komitmen kami mendukung kedaulatan bangsa di era digital,” ujarnya.

Kondisi ini menggarisbawahi bahwa ketahanan digital bukan hanya aspek teknis, tapi juga menyangkut tata kelola, kebijakan, serta kerjasama berbagai pihak untuk menghadirkan ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan. Dengan terus memperkuat ketahanan digital, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang kemajuan teknologi sekaligus mengurangi risiko ancaman di masa depan.

Terkait