The Ning King, pengusaha terkemuka di balik perkembangan kawasan kota mandiri Alam Sutera, meninggal dunia pada usia 94 tahun di Singapura, Minggu, 2 November 2025. Sosok yang juga pendiri Argo Manunggal Group ini meninggalkan jejak yang signifikan dalam dunia bisnis Indonesia, khususnya di sektor properti dan industri tekstil.
Awal Perjalanan dan Kiprah The Ning King
Lahir di Bandung pada 20 April 1931, The Ning King memulai karier bisnisnya dari sektor tekstil, sebuah industri yang menjadi pijakan utama dalam membangun kerajaan bisnisnya. Pada akhir 1970-an, ia mendirikan PT Argo Pantes Tbk pada tahun 1977, yang kemudian berkembang menjadi Argo Manunggal Group (AMG), sebuah grup usaha yang meliputi berbagai lini bisnis seperti baja, konstruksi, logistik, dan infrastruktur.
Meski jarang tampil di media, The Ning King dikenal sebagai sosok yang fokus pada strategi bisnis jangka panjang dengan pendekatan tenang dan penuh perhitungan. Kepemimpinannya membawa AMG mampu bertahan dari berbagai tantangan ekonomi nasional.
Membangun Alam Sutera: Kota Mandiri Modern
Tonggak penting dalam karier The Ning King terjadi pada awal 1990-an ketika ia memulai ekspansi ke dunia properti dengan mendirikan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI). Berangkat dari area lahan kosong di Serpong, Tangerang, The Ning King menciptakan sebuah konsep kawasan terpadu yang mengintegrasikan hunian, bisnis, pendidikan, dan hiburan dalam satu area.
Kawasan Alam Sutera kini dikenal sebagai kota mandiri dengan infrastruktur yang terencana rapi, dilengkapi universitas modern, pusat perbelanjaan besar, serta jaringan transportasi yang efisien. Proyek ini menjadi model bagi banyak pengembang properti di Indonesia dalam upaya membangun kawasan yang berkelanjutan dan multifungsi.
Gambaran Sosok The Ning King dari Rekan Bisnis
Rekan-rekan bisnis mengingat The Ning King sebagai pribadi yang disiplin, teliti, namun tetap rendah hati. Meski tidak suka berada di pusat perhatian, setiap langkah bisnis yang diambilnya didasarkan pada perhitungan matang dan visi jauh ke depan. Gaya kepemimpinan yang tenang namun tegas ini membuat perusahaannya mampu melewati berbagai krisis dan tantangan bisnis selama beberapa dekade.
Pengakuan dan Warisan Bisnis
Pada 2017, The Ning King pernah tercatat dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes dengan estimasi kekayaan USD 450 juta (sekitar Rp 6,8 triliun pada saat itu). Namun, bagi dirinya, keberhasilan bukan diukur dari jumlah harta, melainkan dari kemampuan membangun bisnis yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan membuka lapangan kerja.
Hingga usia senjanya, The Ning King masih aktif memegang peran strategis di Alam Sutera Group. Meskipun pengelolaan operasional semakin diserahkan pada generasi penerus, visi dan misi bisnis tetap berlandaskan pada efisiensi, integrasi lintas sektor, dan keberlanjutan. Ia selalu menekankan bahwa bisnis properti adalah tentang menciptakan lingkungan yang bermanfaat secara sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.
Pemakaman dan Kenangan Terakhir
Jenazah The Ning King dimakamkan secara tertutup di Singapura dengan dihadiri keluarga serta kerabat dekat. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam sekaligus inspirasi besar bagi dunia bisnis dan pembangunan properti di Indonesia.
Perjalanan hidup The Ning King dari pabrik tekstil kecil di Bandung hingga membangun kawasan kota mandiri terbesar di Tangerang mencerminkan ketekunan, visi jauh ke depan, dan keyakinan bahwa mimpi besar dapat tercapai melalui kerja keras yang konsisten dan strategis. Kiprah dan warisannya tetap menjadi sumber motivasi bagi generasi pengusaha dan pengembang di tanah air.
