Bulog Dorong Peran Generasi Muda dalam Rantai Pasok Pangan di Nusantara Food Summit 2025

Perum Bulog aktif mendorong generasi muda untuk menjadi pelaku utama dalam rantai pasok pangan. Hal ini diutarakan dalam Nusantara Food Summit 2025 yang diselenggarakan di ICE BSD City, Tangerang pada 6 November 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, menegaskan peran strategis Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional. Dia menyampaikan bahwa Indonesia pada tahun 2025 berhasil mempertahankan ketahanan pangan tanpa impor beras, sebuah prestasi signifikan pemerintah.

Partisipasi Bulog pada Nusantara Food Summit 2025

Acara ini menjadi platform kolaboratif antara pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas pangan, dan generasi muda. Tujuannya membangun ekosistem industri pangan yang sehat, berkelanjutan, dan memperlihatkan jalur karier yang jelas bagi milenial serta generasi Z. Diskusi menyoroti roadmap pangan Indonesia hingga 2045 yang fokus pada ketahanan, diversifikasi, dan industrialisasi pangan lokal.

Febby menjelaskan Bulog tidak hanya berfokus pada penyerapan gabah dan beras petani di hulu. Bulog juga aktif melakukan operasi stabilisasi harga di hilir ketika harga pangan mengalami kenaikan di daerah tertentu. Strategi ini memastikan kestabilan harga dan ketersediaan kebutuhan pangan di seluruh wilayah.

Peluang Bisnis untuk Generasi Muda

Febby memaparkan bahwa peluang bisnis di sektor pangan sangat terbuka luas untuk generasi muda. Melalui jaringan distribusi Rumah Pangan Kita (RPK) yang telah menjangkau lebih dari 27.000 titik di seluruh Indonesia, generasi Z dapat ikut terlibat hanya dengan modal Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta.

“Generasi muda bisa mendistribusikan beras SPHP, minyak, gula, dan komoditas lainnya tanpa harus punya toko fisik,” ujar Febby. Dukungan platform digital memungkinkan distribusi dari rumah sehingga bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Selain itu, Bulog membuka kemitraan di sepanjang rantai pasok mulai dari kerja sama on-farm dengan petani, penyediaan bahan baku bagi pabrik penggilingan, hingga pengembangan gudang komoditas. Kapasitas penyimpanan gudang Bulog saat ini mencapai 3,8 juta ton dan terus berkembang seiring peningkatan produksi pangan nasional.

Penguatan Kapasitas Gudang dan Cadangan Pangan

Febby menyampaikan bahwa generasi muda yang memiliki lahan dapat berperan membangun gudang komoditas dan bekerja sama dengan Bulog. Langkah ini penting untuk memastikan persediaan pangan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar, khususnya di wilayah dengan akses sulit seperti pegunungan Papua.

Menurut data resmi, produksi beras nasional mencapai sekitar 34 juta ton pada 2025, sementara konsumsi domestik di angka 31 juta ton. Dengan surplus ini, keberadaan cadangan pangan pemerintah menjadi sangat vital untuk menghadapi risiko dan memastikan keandalan pasokan di seluruh wilayah negeri.

Ekspansi Bisnis Komersial Pangan

Bulog kini juga mengekspansi peranannya di sektor komersial dengan peluang kolaborasi pada komoditas lain seperti ayam, telur, daging, dan cabai. Febby menyatakan bahwa momentum ini membuka peluang bagi generasi muda untuk bertransformasi dari petani menjadi entrepreneur nasional.

“Generasi muda dapat memanfaatkan peluang ini untuk menjadi founder yang mengembangkan produk lokal hingga berskala nasional,” tambahnya. Pendekatan ini sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui inovasi dan inklusi generasi muda dalam industri pangan.

Dengan strategi dan dukungan yang semakin kuat, Perum Bulog berharap generasi muda Indonesia dapat berkontribusi signifikan dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Nusantara Food Summit 2025 menjadi bukti komitmen tersebut dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang sektor pangan Indonesia ke depan.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Terkait