Lubang hitam supermasif ternyata tidak selalu benar-benar “diam” setelah menelan bintang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian dari objek raksasa ini masih memuntahkan gelombang radio berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sesudah peristiwa penghancuran bintang, sebuah fenomena yang dijuluki para ilmuwan sebagai “sendawa kosmik”.
Temuan ini memperluas pemahaman tentang perilaku lubang hitam supermasif saat berinteraksi dengan bintang yang terlalu dekat dengan pusat galaksi. Selama ini, banyak pengamatan berhenti terlalu cepat, padahal sisa aktivitas dari proses makan bintang justru bisa muncul jauh setelah cahaya utamanya memudar.
Bintang yang Terlalu Dekat Bisa Hancur Total
Fenomena ini dikenal sebagai Tidal Disruption Event atau TDE. Peristiwa tersebut terjadi ketika sebuah bintang melintas terlalu dekat ke lubang hitam supermasif di pusat galaksi, lalu dihancurkan oleh tarikan gravitasi yang ekstrem.
Dalam proses yang disebut spaghettification, bintang tercabik menjadi aliran gas panjang sebelum materialnya membentuk cakram di sekitar lubang hitam. Sebagian besar gas itu akhirnya jatuh dan ditelan, tetapi tidak semuanya hilang begitu saja.
TDE tergolong sangat langka. Para astronom memperkirakan peristiwa ini hanya terjadi sekitar satu kali dalam 100.000 tahun di sebuah galaksi, sehingga pengamat harus memantau banyak galaksi untuk menemukan kasus seperti ini.
Mengapa Lubang Hitam Bisa “Bersendawa”
Kata “sendawa” dipakai sebagai analogi karena lubang hitam yang baru menyantap bintang ternyata masih bisa mengeluarkan semburan gelombang radio. Emisi ini muncul bukan saat peristiwa awal terjadi, melainkan pada fase lanjutan ketika kondisi di sekitar lubang hitam berubah.
Kate Alexander dari University of Arizona menjelaskan hasil riset terbaru ini, yang juga dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal. Berdasarkan pengamatan, gelombang radio terlambat muncul ketika ada gas yang tidak ikut tertelan dan justru terlontar keluar.
Gas yang terpental itu bertabrakan dengan materi di sekitarnya lalu memicu gelombang kejut. Proses ini mempercepat partikel berenergi tinggi dan menghasilkan sinyal radio yang bisa ditangkap teleskop.
Pengamatan Jangka Panjang Mengubah Pandangan
Selama bertahun-tahun, para astronom biasanya berhenti mengamati TDE jika tidak menemukan sinyal radio dalam satu tahun pertama. Kebiasaan itu membuat banyak aktivitas lanjutan luput dari perhatian.
Perubahan terjadi setelah pengamatan radio jangka panjang menggunakan Karl G. Jansky Very Large Array atau VLA di New Mexico, Amerika Serikat. Selama enam tahun terakhir, para peneliti memantau puluhan TDE di galaksi-galaksi terdekat dan menemukan bahwa sekitar 40 persen peristiwa itu memancarkan gelombang radio beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah bintang hancur.
Temuan itu penting karena emisi radio muncul saat cahaya tampak dari peristiwa tersebut sudah lama meredup. Artinya, lubang hitam masih aktif meski secara kasatmata tampak selesai “makan”.
Data yang Dipakai dalam Penelitian
Untuk menelusuri penyebab kemunculan sinyal radio terlambat, tim peneliti menganalisis 91 kandidat TDE yang ditemukan antara 1990 hingga 2019. Dari jumlah itu, mereka memilih 31 peristiwa dengan data paling lengkap untuk ditelaah lebih mendalam.
Peneliti lalu menggabungkan data radio dari VLA dengan pengamatan optik, ultraviolet, dan sinar-X. Pendekatan ini membantu mereka melihat bagaimana lubang hitam mengonsumsi material bintang pada berbagai tahap waktu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semburan radio terlambat bisa muncul pada dua kondisi yang berbeda. Kondisi pertama terjadi saat lubang hitam melahap gas dalam jumlah besar dengan sangat cepat, sedangkan kondisi kedua muncul ketika laju konsumsi material melambat drastis.
Dalam dua situasi itu, sebagian material bintang tetap tidak tertelan. Gas yang tersisa kemudian terlontar keluar dan menabrak lingkungan sekitarnya, sehingga memunculkan gelombang kejut dan emisi radio.
Misteri yang Mulai Terbuka
Penelitian ini memperlihatkan bahwa lubang hitam supermasif tidak hanya menarik materi dengan ganas, tetapi juga bisa meninggalkan jejak aktivitas yang bertahan lama setelah peristiwa utama berlalu. Karena itu, pengamatan yang lebih panjang menjadi penting untuk memahami seluruh rangkaian TDE.
Bagi astronom, “sendawa kosmik” ini menjadi petunjuk bahwa proses makan bintang jauh lebih rumit daripada yang selama ini diduga. Sinyal radio yang datang terlambat memberi gambaran baru tentang bagaimana lubang hitam supermasif berinteraksi dengan gas, energi, dan lingkungan galaksi di sekitarnya.
Source: mediaindonesia.com





