Grand Filano dan Fazzio Tampil Berani di Bandung, Modifikasi Klasik Ini Tetap Nyaman Dipakai Harian

Bandung menjadi panggung yang menonjolkan wajah lain dari Yamaha Grand Filano dan Fazzio. Dalam Yamaha Classy Modifest 2026, dua skutik ini tampil bukan sekadar sebagai kendaraan harian, tetapi sebagai medium ekspresi kreatif yang kuat.

Perhatian terbesar tertuju pada dua motor pemenang yang sama-sama mengusung sentuhan klasik. Keduanya dinobatkan sebagai Best of The Best di kelas masing-masing dalam ajang yang digelar berkolaborasi dengan BBQ Ride tersebut.

Di kategori Yamaha Grand Filano Hybrid, motor milik Erick Changger mencuri perhatian lewat konsep Japanese Retro Style. Gaya ini terinspirasi dari kultur otomotif Jepang yang menekankan kerapian dan detail klasik yang kuat.

Sentuhan modifikasinya tidak berhenti pada tampilan umum. Erick mengerjakan elemen dekoratif dengan teknik hand painting dan gold leaf secara manual untuk mempertegas karakter klasik tanpa menghapus identitas asli skutik modern itu.

Erick menjelaskan konsep yang dibawanya lebih dekat ke Japanese Classic. Ia menyebut ubahan dimulai dari penutupan dop velg, lalu dilanjutkan dengan nuansa klasik melalui pinstriping dan detail lain yang mendukung tema tersebut.

Hasilnya membuat Grand Filano tampil menonjol dengan karakter yang rapi dan detail yang kuat. Pendekatan itu memperlihatkan bahwa modifikasi tidak selalu harus ekstrem untuk menarik perhatian, selama konsepnya utuh dan eksekusinya presisi.

Sementara itu, kategori Yamaha Fazzio Hybrid dimenangkan oleh Rudi Ismail. Motor garapannya membawa tema Mooneyes Style yang tampil berani lewat perpaduan warna cerah dan grafis airbrush yang ikonik.

Rudi memadukan unsur urban modern dengan gaya kustom klasik. Pendekatan itu diwujudkan melalui penggunaan berbagai komponen aftermarket yang memperkuat identitas visual motor tanpa melepaskan sisi fungsionalnya.

Untuk sektor painting, Rudi mengambil inspirasi dari karakter dan mainan khas Mooneyes. Pilihan tema ini membuat Fazzio miliknya tampil ekspresif dan langsung mudah dikenali di antara deretan modifikasi lain.

Salah satu ubahan teknis yang paling menonjol ada di bagian belakang. Rudi memasang rem cakram belakang dengan menggunakan swing arm milik Yamaha NMAX, sebuah proses yang ia sebut sebagai bagian paling sulit dalam pengerjaan motor tersebut.

Meski mendapat banyak ubahan teknis, Fazzio itu tetap dipakai untuk mobilitas harian. Rudi menegaskan motor tersebut masih digunakan oleh istrinya, sehingga fungsi dan kenyamanan tetap menjadi perhatian utama selama proses modifikasi.

Poin ini menjadi salah satu alasan modifikasi Fazzio milik Rudi menonjol. Motor tetap tampil berkarakter, tetapi tidak meninggalkan kebutuhan dasar sebagai kendaraan yang digunakan setiap hari.

Dari dua pemenang itu terlihat ada benang merah yang sama. Keduanya memilih jalur modifikasi yang kuat di konsep, rapi di eksekusi, dan tetap menjaga hubungan antara estetika dengan fungsi.

Pilihan gaya klasik juga menjadi sorotan penting di Bandung. Di tengah banyaknya tren modifikasi modern, pendekatan retro pada Grand Filano dan sentuhan kustom klasik pada Fazzio justru berhasil mencuri perhatian publik otomotif.

Ajang ini sekaligus memperlihatkan fleksibilitas dua model skutik Yamaha tersebut. Grand Filano dan Fazzio dapat diolah ke arah visual yang berbeda, mulai dari nuansa Japanese Retro Style yang halus hingga Mooneyes Style yang lebih berani dan penuh warna.

Bandung sendiri kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu kota dengan kultur kreatif yang kuat. Kehadiran karya-karya modifikasi dalam satu acara seperti ini memperlihatkan bagaimana dunia otomotif terus bersinggungan dengan elemen fesyen, seni visual, dan gaya hidup.

Dalam konteks itu, Yamaha Classy Modifest 2026 tidak hanya menampilkan kompetisi modifikasi. Ajang ini juga menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana pemilik kendaraan membangun identitas personal melalui detail, tema, dan cara mereka menyeimbangkan gaya dengan kebutuhan berkendara.

Grand Filano dan Fazzio pun tampil dengan peran yang lebih luas. Keduanya hadir sebagai platform yang memungkinkan pemiliknya mengeksplorasi selera visual, karakter kustom, dan fungsi praktis dalam satu paket yang tetap relevan untuk mobilitas perkotaan.

Dua karya dari Erick Changger dan Rudi Ismail menjadi bukti paling jelas dari arah itu. Di Bandung, modifikasi yang paling menyita perhatian justru datang dari sentuhan klasik yang digarap serius, detail, dan tetap berpijak pada kegunaan nyata.

Source: www.suara.com

Terkait