Motorola Razr Fold Bikin Silau, Tapi 3 Kekurangannya Bisa Bikin Ragu

Author: Qoo Media

Motorola Razr Fold datang sebagai langkah besar Motorola di pasar ponsel lipat bergaya buku. Di balik statusnya sebagai foldable book-style pertama dari Motorola, perangkat ini menawarkan sejumlah keunggulan yang cukup kuat untuk menarik perhatian pembeli yang mencari layar besar, kamera serius, dan daya tahan baterai yang panjang.

Namun, harga tinggi dan beberapa keterbatasan ekosistem membuat Razr Fold tidak otomatis cocok untuk semua orang. Bagi pembaca yang sedang menimbang beli sekarang atau menunggu, ada enam alasan kuat untuk memilihnya dan tiga alasan penting untuk menahannya dulu.

Alasan pertama: kamera yang mengejutkan

Razr Fold membawa tiga sensor belakang 50MP, dan hasil fotonya dinilai cerah serta hidup. Motorola memadukan sensor Sony Lytia dengan sentuhan Pantone, sehingga warna terlihat punchy dan menarik di mata.

Fitur kameranya juga terasa praktis. Ponsel ini bisa dibuka dengan memutar dua kali, lalu memakai Action Shot untuk subjek yang bergerak cepat, sementara layar luar bisa berfungsi sebagai viewfinder selfie atau layar pratinjau.

Alasan kedua: performa kelas flagship

Di dalamnya ada Snapdragon 8 Gen 5 yang dipasangkan dengan RAM 16GB. Kombinasi ini membuat multitasking berjalan mulus dan game berat tetap nyaman dimainkan.

Pengujian juga menunjukkan angka yang solid, termasuk Geekbench 6 single-core 2766, multi-core 9054, GPU OpenCL 17878, GPU Vulkan 21755, dan 3DMark Wild Life Extreme 4858. Meski belum setara dengan flagship berbasis Snapdragon 8 Elite Gen 5, performanya tetap dinilai memuaskan.

Alasan ketiga: baterai silikon-karbon 6.000mAh

Motorola memasang baterai 6.000mAh dalam bodi yang sangat tipis. Ini dimungkinkan berkat teknologi silikon-karbon, yang mendukung kapasitas lebih besar dalam ruang lebih padat.

Hasilnya, daya tahan baterainya sangat mengesankan. Perangkat ini mudah bertahan lebih dari sehari, lalu bisa diisi cepat dengan 80W saat menggunakan charger dan kabel USB-C yang kompatibel.

Alasan keempat: layar dan mode lipat yang serbaguna

Layar luar Razr Fold berukuran 6,6 inci dengan refresh rate 165Hz dan kecerahan puncak 6.000 nits. Di sisi lain, layar utama 8,1 inci memberi ruang besar untuk bekerja, menonton, dan berpindah antar aplikasi.

Motorola juga memaksimalkan bentuk lipatnya lewat multitasking. Pengguna bisa membuka tiga aplikasi sekaligus lewat split-screen, lalu menambah aplikasi keempat dalam mode floating freeform.

Alasan kelima: fitur Desk Mode dan Laptop Mode

Saat dilipat pada sudut tertentu, Razr Fold bisa masuk ke Desk Mode. Mode ini menampilkan jam, kalender, tugas mendatang, dan notifikasi seperti layar meja pintar.

Saat dibuka miring seperti laptop, Laptop Mode mengubah bagian bawah layar menjadi trackpad. Mode ini juga menampilkan shortcut khusus, dan keyboard penuh akan muncul saat pengguna mengetik di kolom teks.

Alasan keenam: dukungan software panjang dan stylus baru

Motorola menjanjikan tujuh tahun pembaruan OS dan pembaruan keamanan dua bulanan. Untuk ponsel mahal seperti ini, dukungan jangka panjang memberi nilai tambah yang jelas.

Ada juga Moto Pen Ultra sebagai stylus aktif khusus untuk Razr Fold. Aksesori ini mendukung sensitivitas tekanan, tilt detection, Bluetooth, remote shutter, dan tombol samping untuk fitur seperti Circle to Search.

Alasan pertama untuk skip: harga sangat mahal

Razr Fold dibanderol $1.900. Angka itu membuatnya menjadi salah satu ponsel paling mahal yang pernah dijual Motorola.

Harga tersebut memang masih lebih murah $100 dari Galaxy Z Fold 7 saat peluncuran, tetapi tetap lebih mahal $100 dari Pixel 10 Pro Fold saat diluncurkan tahun lalu. Motorola juga menyebut ketersediaannya di T-Mobile, Xfinity Mobile, dan Verizon baru hadir dalam beberapa bulan mendatang.

Alasan kedua untuk skip: aksesori pelindung masih minim

Ponsel ini terlihat premium karena penggunaan material alternatif pada bagian belakang, bukan kaca. Tetapi perangkat semahal ini idealnya dipasangi case, dan pilihannya masih sangat terbatas.

Motorola baru punya satu case resmi, tersedia dalam dua warna, dan belum hadir sampai 12 Juni. Di luar itu, pilihan dari merek besar juga tidak banyak, sehingga pengguna mungkin harus menunggu lebih lama untuk aksesori yang benar-benar cocok.

Alasan ketiga untuk skip: pengalaman software belum selalu jadi prioritas

Motorola memang membaik di sisi dukungan software, tetapi posisinya masih terasa tertinggal dibanding merek lain. Saat Google merilis fitur baru, Pixel biasanya mendapatkannya lebih dulu, dan Samsung sering mendapat giliran lebih awal daripada banyak ponsel Android lain.

Contohnya, dukungan Quick Share untuk AirDrop lebih dulu hadir di Pixel lalu meluas ke Samsung sebelum sampai ke perangkat lain. Bagi pembeli yang mengejar fitur terbaru secepat mungkin, ini masih bisa menjadi sumber FOMO.

Terbaru