Harga Gadget Tak Lagi Turun, Krisis RAM Bikin Xbox, MacBook, dan Switch Ikut Melonjak

Harga gadget dan konsol game yang semestinya makin murah justru bergerak ke arah sebaliknya. Sejumlah perangkat dari Apple, Microsoft, Nintendo, hingga Valve kini mengalami kenaikan harga di tengah krisis memori yang disebut banyak pihak sebagai “Ramageddon”.

Perubahan ini penting karena dampaknya tidak hanya mengenai produk baru, tetapi juga perangkat yang sudah berumur beberapa tahun. Tren lama bahwa elektronik akan turun harga seiring waktu kini ikut terpukul oleh lonjakan biaya komponen, terutama RAM dan chip memori lain.

Gelombang kenaikan harga terlihat di beberapa kategori produk sekaligus. Microsoft menaikkan harga Xbox Series S dan Xbox Series X setidaknya USD 100, dan itu disebut sebagai kenaikan ketiga dalam setahun.

Kenaikan tersebut membuat harga konsol Microsoft kini sekitar 30% hingga 40% lebih mahal dibandingkan tahun lalu. Apple juga menaikkan harga lini MacBook dan iPad hampir 20%, langkah yang sempat menekan harga saham perusahaan itu.

Valve ikut terdampak lewat Steam Deck yang naik 40%. Harga PC gaming Steam Machine juga dipatok jauh lebih tinggi dari ekspektasi awal karena mahalnya komponen.

Nintendo pun berada dalam daftar yang sama. Kenaikan harga global untuk Switch 2 dijadwalkan mulai berlaku pada bulan September mendatang.

RAM jadi titik tekan utama

Di balik kenaikan harga itu, pusat masalah mengarah ke memori. Random Access Memory atau RAM, yang selama ini dikenal sebagai komponen umum dan relatif murah, kini melonjak harganya dengan tajam.

Permintaan chip untuk pusat data AI disebut melesat sangat besar. Infrastruktur AI membutuhkan pasokan komponen dalam volume masif, sehingga pasar memori menghadapi tekanan ketika permintaan jauh melampaui pasokan.

Danni Hewson, Kepala Analisis Keuangan di AJ Bell, menilai perlombaan membangun pusat data AI memicu lonjakan permintaan dalam waktu cepat. Kondisi itu memberi ruang bagi produsen chip besar seperti TSMC untuk menaikkan harga karena pelanggan berebut kapasitas produksi.

Data Counterpoint Research menunjukkan lonjakan itu sangat tajam pada DDR5. Pada kuartal III 2025, komponen RAM 32GB DDR5 untuk PC berada di harga USD 94.

Harga itu naik menjadi USD 127 pada kuartal IV 2025. Lalu pada kuartal I 2026, harganya melonjak 122% menjadi USD 282.

Setelah itu, tren kenaikan belum berhenti. Harga chip DRAM, yang dipakai untuk memori jangka pendek, serta Nand flash, yang dipakai untuk penyimpanan jangka panjang, disebut terus merangkak naik.

AI menyedot pasokan, konsumen ikut berebut

Tekanan dari industri AI tidak hanya besar, tetapi juga menggeser prioritas pasokan. James Bull, analis senior teknologi dari RSM UK, mencatat empat raksasa teknologi AS terbesar diproyeksikan menghabiskan ratusan miliar dolar untuk pusat data dan peralatan AI pada 2026.

Belanja dalam skala seperti itu membuat manufaktur lebih cenderung memprioritaskan pesanan perusahaan besar dibandingkan perangkat elektronik konsumen. Akibatnya, produk seperti laptop, tablet, handheld gaming, dan konsol harus bersaing mendapatkan komponen yang sama.

James Bull menggambarkan situasinya dengan jelas. Menurut dia, MacBook di meja konsumen saat ini bersaing memperebutkan kepingan DRAM yang sama dengan pusat data yang menjalankan ChatGPT, dan konsumen berada di posisi yang kalah.

Dampaknya lalu menjalar ke harga jual akhir. Ketika biaya komponen inti naik, produsen perangkat sulit mempertahankan harga lama, bahkan untuk produk yang sudah lama beredar di pasar.

Bukan cuma AI, geopolitik ikut menambah tekanan

Meski AI disebut sebagai pendorong utama, krisis ini tidak berdiri sendiri. Tekanan inflasi global ikut membebani biaya produksi dan distribusi di seluruh rantai pasok teknologi.

Masalah geopolitik juga memperparah keadaan. Saat Sony sempat menaikkan harga PS5, perusahaan itu menyoroti tekanan berkelanjutan dalam lanskap ekonomi global.

Selain itu, perang di Iran dan blokade di Selat Hormuz disebut ikut mendorong kenaikan biaya logistik dan operasional pembuat chip. Biaya yang membengkak pada akhirnya diteruskan ke harga jual komponen dan kemudian ke harga perangkat jadi.

Situasi ini menjelaskan mengapa kenaikan harga tidak terbatas pada satu merek atau satu jenis produk saja. Selama memori tetap mahal dan kapasitas produksi chip terus diperebutkan, konsumen berpotensi menghadapi harga gadget dan konsol yang lebih tinggi dari perkiraan semula.

Bagi pasar elektronik konsumen, krisis RAM kini bukan lagi isu teknis di balik layar. Dampaknya sudah terasa langsung di etalase, dari laptop dan tablet hingga handheld gaming dan konsol rumahan.

Source: inet.detik.com

Terkait