Under display camera atau UDC sempat digadang-gadang sebagai masa depan desain smartphone karena kamera ini ditanam di balik layar. Hasilnya, layar bisa terlihat penuh tanpa punch hole atau notch yang mengganggu tampilan.
Masalahnya, teknologi ini masih belum cukup matang untuk dipakai luas. Banyak produsen tetap memilih kamera depan konvensional karena kualitas gambar, keandalan fitur, dan pengalaman penggunaan yang dinilai lebih aman.
Kualitas foto masih tertinggal jauh
Alasan paling besar kenapa UDC jarang dipakai adalah kualitas gambarnya yang belum bisa menyaingi kamera selfie biasa. Berdasarkan pengetesan Android Authority, hasil foto UDC terlihat jauh lebih buruk, bahkan saat cahaya sudah optimal.
Dalam kondisi terang, warna foto dari UDC tidak akurat dan detailnya tampak halus seperti berkabut. Saat kondisi low light, performanya makin turun karena gambar menjadi gelap, objek sulit terlihat, dan efek blur lebih jelas muncul.
Sebagian UDC juga hanya memakai resolusi kecil, seperti 4MP. Kondisi itu membuat hasil foto kurang layak untuk kebutuhan yang menuntut kualitas tinggi, termasuk unggahan media sosial.
Teknologi pendukungnya belum selesai
UDC bergantung pada panel transparan dan penataan piksel khusus di layar. Screen Shield menjelaskan bahwa teknologi itu terus berkembang, tetapi masih menyimpan banyak kekurangan.
Salah satu kendala utamanya ada pada panel yang belum cukup transparan. Akibatnya, cahaya lebih sulit masuk ke lensa dan hasil foto jadi tidak maksimal.
Masalah lain datang dari teknologi pixel grid yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Potongan kamera juga belum benar-benar hilang dari layar, sehingga tujuan visual UDC belum selalu tercapai secara sempurna.
Aksesori layar seperti screen protector juga belum dirancang khusus untuk UDC. Hal ini bisa mengganggu kinerja kamera dan menambah hambatan dalam penggunaan sehari-hari.
Punch hole masih lebih masuk akal bagi banyak produsen
Di pasar smartphone, kamera depan punch hole masih jauh lebih populer. Meski tetap menyisakan lubang kecil di layar, ukuran potongannya sangat kecil sehingga tidak terlalu mengganggu pengalaman pakai.
Keunggulan punch hole tidak hanya ada di desain. Kualitas foto dan video yang dihasilkan juga dinilai jauh lebih baik dibanding UDC.
Kombinasi itu membuat punch hole lebih seimbang antara estetika dan fungsi. UDC memang terlihat lebih bersih secara visual, tetapi pada praktiknya masih kalah dalam hasil gambar.
Bisa mengganggu face recognition
Posisi UDC di bawah layar juga membawa masalah lain, terutama pada sistem face recognition. Berbagai sumber menyebut beberapa perusahaan seperti Samsung dan Apple sedang mencoba mengembangkan UDC agar fitur itu bisa bekerja lebih baik.
Upaya yang dicoba antara lain membuat dual UDC hingga mengembangkan jenis kamera baru bernama Polar UDC. Namun sampai sekarang, belum ada perangkat yang berhasil menghadirkan face recognition secara sempurna lewat UDC.
Keterbatasan ini membuat UDC kurang menarik untuk smartphone yang membutuhkan fungsi keamanan dan pemindaian wajah yang stabil.
Lebih sering muncul di segmen tertentu
Meski jarang dipakai luas, UDC tetap hadir di beberapa perangkat. Smartprix menyebut teknologi ini lebih sering dipakai di smartphone gaming seperti ZTE nubia REDMAGIC 9, REDMAGIC 10, hingga REDMAGIC 11 series.
Sejumlah smartphone lipat juga menggunakannya, termasuk Samsung Galaxy Z Fold 3, Galaxy Z Fold 4, dan Galaxy Z Fold 5. Apple juga dikabarkan akan menerapkan UDC di iPhone Fold atau iPhone Ultra.
Pola ini menunjukkan bahwa UDC masih diperlakukan sebagai teknologi yang spesifik, bukan pilihan utama untuk semua smartphone. Produsen cenderung menunggu sampai kualitas kamera dan fungsinya benar-benar matang sebelum menjadikannya standar.
Source: www.idntimes.com






