Rumor restrukturisasi besar di lingkungan BBK Electronics mengarah pada perubahan drastis bagi OnePlus dan Realme. OnePlus disebut bersiap menarik diri dari Amerika Serikat dan Eropa, sementara Realme dilaporkan akan meninggalkan pasar domestiknya di Cina.
Jika skenario itu terwujud, OnePlus berpotensi menghentikan kiprahnya secara bertahap di pasar internasional. Kabar tersebut juga menimbulkan pertanyaan bagi konsumen di negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspansi dua merek tersebut.
OnePlus Disebut Mulai Keluar dari Pasar Barat
Menurut laporan GSMArena yang mengutip jurnalis Bloomberg Mark Gurman, OnePlus dikabarkan dapat menarik diri dari Amerika Serikat dan Eropa paling lambat pekan ini. Penarikan dari pasar Barat itu disebut sebagai tahap awal dari rencana restrukturisasi yang lebih luas.
Dalam jangka panjang, BBK Electronics dirumorkan menyiapkan penutupan operasional OnePlus di hampir seluruh pasar internasional. OnePlus disebut akan mengalihkan fokusnya kembali ke Cina apabila rencana tersebut benar-benar dijalankan.
Pada 2027, OnePlus diperkirakan tidak lagi beroperasi di pasar luar Cina, termasuk India. Arah ini cukup mengejutkan karena perusahaan baru saja meluncurkan seri N6 di India dan mulai memberi sinyal mengenai model terbaru.
India selama ini dikenal sebagai salah satu pasar besar bagi ponsel pintar dengan persaingan yang ketat. Karena itu, potensi keluarnya OnePlus dari negara tersebut akan menjadi perubahan besar dalam strategi bisnis merek itu di luar Cina.
Realme Dikabarkan Menempuh Arah Berlawanan
Di saat OnePlus disebut akan kembali berfokus ke Cina, Realme dikabarkan mengambil strategi yang berlawanan. Merek yang berada dalam naungan korporasi yang sama dengan OPPO itu disebut akan menarik diri dari pasar Cina.
Langkah Realme tersebut dilaporkan menjadi bagian dari skenario pertukaran fokus pasar di bawah struktur korporasi yang sama. Namun, belum ada penjelasan resmi mengenai pasar mana yang akan menjadi prioritas Realme setelah potensi penarikan itu.
OPPO dan OnePlus hingga kini belum memberikan komentar resmi mengenai rumor restrukturisasi tersebut. Meski begitu, informasi serupa dari dua sumber terpisah dengan rekam jejak akurat disebut memperkuat perhatian pelaku industri terhadap kabar ini.
| Periode | Data Pengapalan | Konteks |
|---|---|---|
| Sepanjang 2025 | OnePlus turun dari sekitar 17 juta menjadi 13-14 juta unit | Penurunan global lebih dari 20% |
| Kuartal II/2025 | Gabungan pengapalan OPPO/OnePlus turun 2% secara tahunan | Pasar ponsel global tumbuh 4% |
Tekanan Pengapalan dan Margin
Tekanan bisnis menjadi salah satu latar belakang yang muncul dalam rumor restrukturisasi ini. TheNextWeb melaporkan volume pengapalan global OnePlus sepanjang 2025 turun lebih dari 20%, dari kisaran 17 juta unit menjadi sekitar 13 juta hingga 14 juta unit.
Data TechInsights juga menunjukkan performa gabungan OPPO dan OnePlus belum sejalan dengan arah pasar global. Pada Kuartal II/2025, pengapalan keduanya turun 2% secara tahunan ketika pasar ponsel global justru tumbuh 4%.
Ekspansi ke luar negeri disebut tidak cukup menutup tekanan akibat turunnya pangsa pasar domestik di Cina. Situasi itu membuat keuntungan dari pasar internasional ikut tergerus di tengah persaingan yang terus ketat.
Lini kelas menengah OnePlus, termasuk Nord 5, disebut menghadapi tantangan yang lebih berat. Formula spesifikasi tinggi dengan harga murah menjadi semakin sulit dipertahankan ketika biaya komponen memori meningkat tajam.
Harga komponen LPDDR dilaporkan melonjak hingga 250% karena produsen mengalihkan produksi ke cip untuk pusat data AI. Kenaikan tersebut membuat struktur biaya ponsel kelas menengah menjadi jauh lebih sulit dijaga tanpa mengorbankan margin.
Margin yang sangat tipis sepanjang 2025 kemudian disebut memicu pertimbangan keputusan korporasi yang lebih radikal. Pelaku industri kini menunggu konfirmasi atau pengumuman resmi dari pihak terkait mengenai masa depan OnePlus, OPPO, dan Realme di pasar global.
