Mothers Are Mothering Menembus Cannes, Perempuan Indonesia Mengambil Alih Panggung Global

Film pendek Mothers Are Mothering berhasil menembus Festival Film Cannes 2026 dan langsung menarik perhatian karena membawa perspektif yang kuat tentang perempuan Indonesia. Karya ini tidak menempatkan perempuan sebagai sosok pasif, melainkan sebagai figur yang berdaya, kompleks, dan memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa cerita perempuan dari Indonesia punya ruang yang semakin besar di panggung internasional. Lewat pendekatan yang segar, film ini juga ikut menegaskan bahwa sinema nasional mampu hadir dengan narasi yang relevan, berani, dan memiliki daya saing artistik.

Perempuan sebagai pusat cerita

Mothers Are Mothering menyoroti perempuan dari sudut pandang yang jarang dipilih secara konvensional. Dalam film ini, keibuan tidak diperlakukan semata sebagai beban atau pengorbanan, melainkan sebagai sumber kekuatan yang membentuk identitas dan karakter.

Pendekatan ini membuat film tersebut terasa berbeda di tengah banyak karya yang masih kerap memposisikan perempuan sebagai korban keadaan. Happy Salma, yang ikut membintangi film ini, menegaskan bahwa karya ini memang dibangun untuk memperlihatkan perempuan sebagai subjek yang menentukan arah hidupnya sendiri.

Kolaborasi akting dan penyutradaraan

Selain Happy Salma, film ini juga menampilkan Asmara Abigail. Keduanya dikenal luas sebagai aktris dengan rekam jejak kuat di perfilman Indonesia dan kerap terlibat dalam proyek yang membawa isu-isu perempuan ke permukaan.

Di balik layar, film ini digarap oleh sutradara muda Indonesia Khozy Rizal bersama sineas Singapura Lam Li Shuen sebagai co-director. Kolaborasi lintas negara ini memberi lapisan baru pada cara film tersebut dibangun, baik dari sisi visual maupun penceritaan.

Bagian dari pengembangan sinema nasional

Film ini juga terhubung dengan program pengembangan Next Step Studio Indonesia. Inisiatif ini bertujuan memperkuat ekosistem produksi film nasional dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan menekankan kualitas karya.

Keterlibatan dalam program tersebut menunjukkan bahwa pencapaian Mothers Are Mothering tidak berdiri sendiri. Film ini juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong lahirnya karya-karya Indonesia yang siap bersaing di tingkat global.

Masuk program La Semaine de la Critique

Mothers Are Mothering dijadwalkan tayang perdana sebagai salah satu dari empat film pendek dalam program La Semaine de la Critique di Cannes. Seksion ini dikenal sebagai ruang bagi sineas baru yang menghadirkan karya visioner dan berani.

Terpilihnya film ini di program tersebut menjadi pengakuan atas kualitas artistik dan kekuatan narasi yang dibawanya. Kehadiran itu juga memperlihatkan bahwa tema perempuan dari Indonesia memiliki resonansi yang kuat ketika dibawa ke forum perfilman dunia.

Momentum ini tidak hanya penting bagi tim film, tetapi juga bagi representasi perempuan Indonesia di layar lebar. Mothers Are Mothering memperlihatkan bahwa cerita tentang perempuan dapat tampil dengan kuasa, ketegasan, dan kedalaman, sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak karya Indonesia di festival internasional.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button