
Lutesha mengaku semakin sadar terhadap bahaya fast fashion setelah terlibat dalam film Monster Pabrik Rambut. Pengalaman memerankan buruh pabrik rambut membuatnya melihat sisi lain industri fashion yang selama ini jarang terlihat konsumen.
Dalam film garapan sutradara Edwin itu, Lutesha memerankan Ida, salah satu karakter yang bekerja di lingkungan pabrik yang digambarkan penuh risiko. Peran tersebut membuka pemahamannya tentang bagaimana proses produksi bisa melibatkan kerja fisik yang berat dan kondisi yang tidak selalu aman bagi pekerja.
Paparan risiko di balik produksi
Lutesha menjelaskan bahwa pembuatan rambut palsu di film itu digambarkan sangat melelahkan. Ia menyebut prosesnya dilakukan dengan cara yang rumit, mulai dari menyulam rambut satu per satu hingga menyisirnya menggunakan paku.
Menurut Lutesha, tahapan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di pabrik bukan sekadar aktivitas produksi biasa. Situasi kerja yang digambarkan juga dinilai berbahaya karena menuntut ketelitian tinggi dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya aman.
Selain rambut palsu, para buruh dalam film itu juga membuat manekin berbahan fiberglass. Bahan tersebut disebut memiliki partikel yang sangat kecil dan bisa berdampak pada kesehatan jika tidak ditangani dengan perlindungan memadai.
“Itu kan bahan yang sangat kecil, mikroskopis. Jadi, kayak cukup membahayakan kalau misalnya gak pake masker gitu,” kata Lutesha di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin, 1 Juni 2026.
Dari layar ke kesadaran konsumen
Pengalaman itu membuat Lutesha mendorong publik agar lebih kritis saat membeli produk fashion. Ia menilai konsumen perlu memahami asal-usul barang yang dibeli, termasuk bagaimana barang itu diproduksi dan apakah prosesnya aman bagi pekerja.
“Kita tahu bahwa lingkungan kerjanya itu berbahaya, tapi karena itu kita harus lebih sadar dan lebih conscious ketika kita berbelanja gitu,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya bertanya dari mana produk berasal dan seperti apa proses pembuatannya.
Sikap itu sejalan dengan tema film Monster Pabrik Rambut yang menyoroti sisi kelam di balik industri produksi. Lewat perannya, Lutesha melihat bahwa produk fashion yang tampak sederhana di etalase bisa menyimpan proses kerja yang berat di balik layar.
Film yang menggabungkan horor dan kritik sosial
Monster Pabrik Rambut tidak hanya menempatkan Lutesha sebagai pusat cerita, tetapi juga mempertemukannya dengan Iqbaal Ramadhan, Rachel Amanda, Sal Priadi, Kev Marasi, dan Didik Nini Towok. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 4 Juni 2026.
Cerita film tersebut mengikuti dua saudara perempuan, Putri dan Ida, yang menyelidiki kematian misterius ibu mereka setelah dipaksa lembur. Saat bekerja di pabrik pengolahan rambut yang eksploitatif, keduanya menghadapi rangkaian peristiwa horor, absurd, dan kejadian aneh yang menimpa para buruh.
Melalui pendekatan itu, Monster Pabrik Rambut menghadirkan kisah yang tidak hanya bermain di wilayah horor, tetapi juga mengangkat persoalan kerja, keselamatan, dan kesadaran konsumen. Bagi Lutesha, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pilihan berbelanja juga berkaitan dengan kondisi manusia yang berada di balik produksi sebuah barang.
Source: www.medcom.id








