
Olivia Rodrigo meluapkan kemarahan setelah mengetahui lagunya dipakai Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau Department of Homeland Security (DHS) sebagai latar video promosi yang berkaitan dengan deportasi imigran. Ia menilai penggunaan lagu itu sebagai bentuk propaganda yang tidak pantas, terutama karena konten tersebut terkait langsung dengan kampanye penegakan imigrasi oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Dalam wawancara dengan majalah Dazed, Olivia mengatakan dirinya merasa terganggu ketika mengetahui lagu All-American Bitch dipakai dalam video tersebut. Ia juga menegaskan keberatannya lewat kolom komentar unggahan DHS dan meminta agar lagunya tidak digunakan untuk mendukung pesan yang ia sebut rasis dan penuh kebencian.
Kecaman Olivia Rodrigo terhadap DHS
Olivia menyampaikan kritik yang sangat keras terhadap tindakan tersebut. Ia menyebut penggunaan lagunya sebagai sesuatu yang memperburuk isi propaganda yang dibawa video itu.
“Jangan pernah menggunakan lagu-lagu saya untuk mempromosikan propaganda rasis dan penuh kebencian Anda,” tulis Olivia, dikutip dari Variety. Ia juga menyebut tindakan ICE sebagai hal yang “mengerikan, biadab, dan kejam”.
Pernyataan itu memperlihatkan penolakan Olivia terhadap keterlibatan musiknya dalam pesan politik yang ia anggap tidak manusiawi. Sikap tersebut juga menambah sorotan publik terhadap cara lembaga pemerintah memakai karya musisi dalam konten resmi mereka.
Isi video dan konteks deportasi
Video yang memicu kemarahan Olivia diunggah DHS pada 4 November 2025. Dalam video itu, lagu All-American Bitch dari album Guts dipakai sebagai latar saat menampilkan para agen ICE yang menahan orang-orang kulit berwarna.
Video tersebut juga memuat ajakan kepada imigran agar segera meninggalkan Amerika Serikat melalui aplikasi CBP Home untuk melakukan deportasi mandiri. Isi itu membuat video tersebut dipandang sebagai bagian dari promosi kebijakan penegakan imigrasi yang keras.
ICE sendiri merupakan badan penegakan hukum federal di bawah DHS yang bertugas menjaga keamanan perbatasan dan menegakkan hukum imigrasi. Dalam konteks pemerintahan Presiden Donald Trump, ICE mendapat mandat penuh untuk menangkap dan mendeportasi imigran yang tidak memiliki dokumen resmi di AS.
Bukan kasus pertama di kalangan musisi
Kasus yang menimpa Olivia Rodrigo bukan satu-satunya. Sebelumnya, Sabrina Carpenter juga mengecam penggunaan lagunya, Juno, dalam video bertema ICE pada Desember 2025.
Saat itu, Sabrina menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang “jahat dan menjijikkan” dan meminta agar musiknya tidak dipakai untuk mendukung agenda pemerintahan Trump yang ia nilai tidak manusiawi. Kasus berulang ini menunjukkan adanya ketegangan antara musisi dan lembaga pemerintah saat karya mereka dipakai dalam kampanye yang sensitif secara politik.
Perdebatan soal penggunaan lagu untuk konten deportasi kini makin menyorot batas etika dalam pemakaian karya seni oleh institusi negara. Di tengah sorotan itu, penolakan Olivia Rodrigo menambah daftar artis yang secara terbuka menolak lagu mereka dikaitkan dengan kebijakan imigrasi yang kontroversial.
Source: www.beritasatu.com








