
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut suhu udara minimum yang turun dan terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari di Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu tanda puncak musim kemarau semakin dekat. Kondisi ini muncul seiring menguatnya monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah selatan Indonesia.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Ari Wibianto, menjelaskan bahwa fenomena tersebut juga berkaitan dengan puncak musim dingin di Australia. Menurut dia, penurunan suhu minimum di NTB bergerak selaras dengan dinamika atmosfer di kawasan itu.
Suhu minimum NTB turun cukup signifikan
BMKG mencatat suhu udara minimum rata-rata di NTB pada April 2026 masih berada di kisaran 23 hingga 24 derajat Celcius. Memasuki awal Juni 2026, suhu itu turun ke level 18 hingga 21 derajat Celcius.
Perubahan ini membuat udara malam terasa lebih sejuk, terutama di sejumlah wilayah yang berada di selatan Indonesia. Ari menyebut kondisi tersebut sebagai ciri yang lazim muncul ketika kemarau mendekati fase terkuatnya.
Pengaruh monsun Australia makin kuat
BMKG menjelaskan penguatan sistem tekanan tinggi di Australia mendorong massa udara dingin dan kering masuk lebih banyak ke Indonesia bagian selatan. Dampaknya, udara di NTB menjadi lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Ari juga menuturkan, sirkulasi angin monsun timur yang kering ikut menekan pertumbuhan awan konvektif. Saat awan berkurang, peluang hujan ikut turun drastis di wilayah NTB.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli dan Agustus
Menurut BMKG, suhu udara diperkirakan masih dapat terasa lebih dingin hingga beberapa bulan ke depan. Puncak musim kemarau disebut berpotensi berlangsung pada Juli hingga Agustus, saat suhu minimum bisa turun lebih jauh.
Kondisi itu diperkirakan membuat udara malam dan pagi hari terasa lebih menusuk, terutama di area yang terbuka dan jauh dari pengaruh kelembapan tinggi. Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa musim kemarau di NTB sedang berada pada fase terkuatnya.
Pengaruh dingin mulai mereda akhir September
BMKG menyampaikan pengaruh udara dingin di NTB diprediksi mulai melemah pada akhir September 2026. Pada periode itu, kekuatan monsun Australia berkurang karena benua tersebut memasuki masa transisi dari musim dingin menuju musim semi.
Ari mengatakan bahwa ketika Australia perlahan menghangat, suplai udara dingin dan kering ke Indonesia selatan juga ikut menurun. Dengan begitu, suhu malam hingga pagi hari di NTB berpeluang berangsur naik kembali setelah melewati fase puncak kemarau.
Source: mediaindonesia.com








