Jakarta Bertemu Deep State Finansial, Jejak Kuasa New York di IHSG

Author: Qoo Media

Keputusan MSCI pada 12 Mei mengguncang pasar saham Indonesia lebih dari sekadar pergerakan harian. Nineteen perusahaan dikeluarkan dari indeks globalnya, termasuk enam saham berkapitalisasi besar seperti Amman Mineral, Barito Renewables, dan Chandra Asri, lalu IHSG dibuka turun 1,33 persen pada pagi berikutnya.

Dampaknya tidak berhenti pada angka di layar perdagangan. Arus keluar dari dana pasif global diperkirakan mencapai US$2,2 miliar, sementara IHSG kini sudah turun sekitar 23 persen dari puncaknya pada Januari.

Di balik keputusan itu, ada struktur kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar pengelola indeks. MSCI menentukan peta, sedangkan BlackRock, Vanguard, dan State Street mengelola modal yang wajib mengikuti peta tersebut.

BlackRock disebut sebagai penerbit ETF terbesar di dunia, sementara MSCI adalah penyedia indeks ekuitas terbesar di dunia. Melalui kontrak iShares, dana BlackRock melisensikan indeks MSCI dan harus menirunya, dengan sekitar US$1,5 triliun aset BlackRock dibenchmark ke indeks MSCI.

Hubungan itu membuat ketiganya bukan hanya pelanggan dan penyedia, tetapi juga pemilik satu sama lain. BlackRock, Vanguard, dan State Street disebut sebagai pemegang saham terbesar MSCI, sekaligus tiga pengelola aset terbesar yang menguasai sekitar US$25 triliun.

Jaringan yang sama juga merentang ke sektor pertahanan. Tiga manajer aset itu menjadi pemegang saham dominan di setiap perusahaan pertahanan utama Amerika Serikat, sementara State Street memegang 14,9 persen Lockheed Martin dan porsi besar lain di berbagai sektor serta wilayah.

Keterkaitan ini menghidupkan kembali peringatan lama tentang military-industrial complex. Pada 17 Januari 1961, Presiden AS Dwight Eisenhower memperingatkan soal “unwarranted influence” dari sebuah struktur yang menautkan pertahanan, strategi, dan kepentingan ekonomi.

Namun arsitektur yang dulu lahir dari industri senjata itu kini meluas ke dunia keuangan global. Mekanisme dana pasif yang secara otomatis memegang Lockheed Martin dan RTX juga memegang Apple, Microsoft, Saudi Aramco, TSMC, Bank Mandiri, dan Reliance.

Dalam kerangka itu, pertahanan tetap menjadi inti politik-ekonomi karena arus kas berulang dari Pentagon membantu menopang imbal hasil ekuitas yang dinikmati para pemegangnya. Dari luar, pasar tampak seperti tempat penentuan harga yang normal, dengan pembeli, penjual, transaksi, dan harga yang bergerak setiap hari.

Dari dalam, struktur itu bekerja seperti alokasi administratif. Itulah sebabnya guncangan di Jakarta terlihat sebagai peristiwa lokal, tetapi sebenarnya terhubung ke jaringan modal yang mengatur banyak bagian pasar global sekaligus.

Source: www.thejakartapost.com
Terbaru