Preferensi terhadap Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh gol, trofi, atau asal negara pemain. Survei lintas negara yang dipimpin Nanyang Technological University (NTU) Singapura menemukan kecenderungan pilihan itu juga terkait dengan pandangan politik, usia, harga diri, dan kebiasaan mengakses media sosial.
Dalam survei terhadap 10.000 responden di 26 negara, orang yang mengidentifikasi diri lebih liberal cenderung memberi penilaian lebih baik kepada Messi. Sebaliknya, responden yang merasa lebih konservatif menunjukkan kecenderungan memilih Ronaldo.
Perbedaan citra publik Messi dan Ronaldo
Profesor Madya Saifuddin Ahmed dari Sekolah Komunikasi dan Informasi Wee Kim Wee NTU menilai kedua bintang itu membawa citra publik yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat membuat orang tertarik pada figur yang dianggap sesuai dengan nilai pribadi mereka.
“Messi dan Ronaldo menampilkan citra publik yang sangat berbeda. Messi umumnya diasosiasikan dengan citra yang lebih tenang dan berorientasi pada tim, sementara Ronaldo dikenal karena secara terbuka mengekspresikan ambisinya dan merayakan pencapaian individu,” kata Saifuddin Ahmed.
Menurut Saifuddin, pilihan terhadap pesepak bola dapat berkaitan dengan pandangan yang lebih luas daripada sepak bola itu sendiri. “Orang mungkin lebih tertarik pada pemain yang citra publiknya selaras dengan nilai-nilai mereka yang lebih luas,” ujarnya.
Kecenderungan politik tersebut paling kuat terlihat pada responden berusia lebih muda. Hubungannya melemah secara substansial pada kelompok usia dewasa yang lebih tua.
Peta preferensi di 26 negara
Riset ini mencakup responden dari enam benua, termasuk negara-negara di Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia. Hasil tingkat negara menunjukkan tidak semua wilayah memiliki pilihan yang sama kuat antara Messi dan Ronaldo.
| Kelompok hasil | Jumlah negara | Gambaran preferensi |
|---|---|---|
| Ronaldo lebih tinggi | 11 negara | Termasuk Singapura; sejumlah negara di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tenggara |
| Messi lebih tinggi | 8 negara | Termasuk Argentina, beberapa negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, dan Korea Selatan |
| Tidak ada preferensi jelas | 7 negara | Perbedaan penilaian tidak menunjukkan keunggulan statistik yang jelas |
Messi memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi di Argentina, sejumlah negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, serta Korea Selatan. Korea Selatan bahkan mencatat preferensi relatif paling kuat untuk Messi, melampaui Argentina.
Temuan di Korea Selatan bukan terutama karena nilai Messi yang sangat tinggi. Faktor utamanya adalah penilaian terhadap Ronaldo yang relatif rendah dibandingkan negara lain.
Korea Selatan menjadi satu-satunya negara dalam survei yang memberi Ronaldo nilai rata-rata di bawah empat pada skala tujuh poin. Para peneliti menyebut situasi itu mungkin berkaitan dengan ketidakpuasan publik yang masih berlanjut setelah pertandingan ekshibisi di Seoul pada 2019, ketika Ronaldo tidak bermain meski menjadi daya tarik utama acara.
Pengguna video pendek cenderung memilih Ronaldo
Peneliti juga melihat kaitan antara preferensi pemain dengan konsumsi berita melalui video berdurasi pendek. Responden yang lebih banyak mendapatkan berita dari platform seperti TikTok dan Instagram cenderung menyukai Ronaldo.
Saifuddin menyebut salah satu kemungkinan penjelasannya adalah kehadiran Ronaldo yang kuat di media sosial visual. Pengguna platform tersebut mungkin lebih sering menjumpai citra publik Ronaldo yang dibangun secara cermat.
Selain pola konsumsi media, harga diri responden juga menunjukkan hubungan dengan pilihan pemain. Responden dengan harga diri lebih tinggi cenderung memberikan penilaian lebih baik kepada Ronaldo.
Para peneliti menilai temuan itu sejalan dengan kajian tentang penegasan diri. Orang dengan harga diri tinggi mungkin lebih mudah mengidentifikasi diri dengan tokoh publik yang aspiratif, dominan, dan memiliki capaian besar.
“Orang mungkin ingin menampilkan diri sebagai orang yang rendah hati, tetapi itu tidak berarti mereka paling mengidentifikasi diri dengan tokoh publik yang rendah hati,” ujar Saifuddin. Ia menambahkan bahwa sebagian orang dapat tertarik pada sosok yang mewujudkan keunggulan, kepercayaan diri, dan prestasi.
Peringkat FIFA bukan penentu utama
Studi tersebut tidak menemukan hubungan antara peringkat FIFA suatu negara dan preferensi pemain secara keseluruhan. Hasil di tingkat negara juga tidak bisa dijelaskan hanya oleh loyalitas responden kepada pemain dari negara mereka sendiri.
Tim peneliti NTU berencana menelaah lebih jauh alasan hubungan antara ideologi politik dan preferensi pemain berubah menurut usia. Temuan mengenai video pendek juga membuka pertanyaan tentang pengaruh paparan media sosial terhadap kedekatan publik dengan tokoh terkenal dan nilai politik yang mereka pegang.
