Hong Kong semakin menempatkan kerja sama iklim dengan mitra Eropa sebagai jalur yang paling praktis di tengah politik iklim global yang makin tidak menentu. Fokusnya bergeser dari slogan besar ke standar teknis, pembiayaan, riset, dan penyelarasan regulasi yang bisa dijalankan di lapangan.
Pergeseran itu terlihat jelas dalam hubungan Hong Kong dengan institusi Eropa. Di kota ini, pembahasan soal dekarbonisasi kini lebih sering menyentuh cara kerja nyata, bukan lagi sekadar komitmen umum.
Forum, standar, dan arah baru kerja sama
Forum Greenway 2026 menjadi penanda kuat dari perubahan tersebut. Acara edisi kelima dari ajang keberlanjutan unggulan Uni Eropa di Hong Kong itu mengusung tema “Driving Sustainability Through Innovation” dan menghadirkan lebih dari 300 peserta dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
Diskusinya tidak lagi berhenti pada pertanyaan apakah harus melakukan dekarbonisasi. Panel-panel membahas kota pintar hijau, mobilitas masa depan, standar untuk keuangan hijau, dan inovasi digital yang mendukung transisi.
Paul Lam Ting-kwok membuka forum tersebut, sementara tiga sekretaris menyampaikan pidato utama. Acara itu ditutup dengan rekomendasi dari para pelaku bisnis yang mencakup asesmen karbon sepanjang siklus hidup dalam konstruksi, bahan bakar hidrogen, dan jalur pengembangan talenta hijau.
Mengapa Eropa relevan bagi Hong Kong
Uni Eropa merupakan salah satu mitra dagang terbesar Hong Kong. Investasi langsung asing dari Eropa di kota ini mencapai puluhan miliar euro, bahkan melampaui total investasi blok itu di beberapa ekonomi menengah di Asia jika digabungkan.
Perusahaan-perusahaan Eropa juga membentuk komunitas bisnis asing terbesar di Hong Kong dan jumlahnya terus bertambah. Mereka terlibat dalam pengelolaan limbah, rancangan gedung rendah karbon, sistem sinyal rel, manufaktur peralatan listrik, penyusunan pinjaman hijau, hingga konsultasi strategi keberlanjutan.
Kehadiran itu membuat kerja sama iklim tidak berhenti di level diplomasi. Hubungan Hong Kong dan Eropa sudah masuk ke dalam operasional kota sehari-hari, dari infrastruktur hingga pembiayaan proyek.
Bangunan, energi, dan Northern Metropolis
Tantangan dekarbonisasi Hong Kong memiliki pola yang mirip dengan Eropa. Sekitar 60 persen emisi karbon kota berasal dari bangunan, terutama dari listrik untuk pendingin udara dan pencahayaan.
Di sektor ini, pengalaman perusahaan seperti Schneider Electric dan Siemens sudah lama berperan dalam pengembangan teknologi manajemen energi di Hong Kong. Banyak pekerjaan mereka bersifat teknis dan tidak terlihat, mulai dari sensor dalam sistem hingga perangkat lunak yang menyesuaikan kinerja secara real time.
Saat Hong Kong bergerak menuju asesmen karbon sepanjang siklus hidup, pengalaman semacam itu menjadi sangat relevan. Standar bisa dirancang di tingkat lokal, tetapi penerapannya tetap bergantung pada kemampuan teknis di lapangan.
Northern Metropolis dipandang sebagai ujian awal untuk pendekatan tersebut dalam skala besar. Kawasan ini memberi peluang untuk memasukkan desain rendah karbon, sistem energi pintar, dan infrastruktur terintegrasi sejak awal, bukan sekadar menambahkannya belakangan.
Transportasi menjadi medan uji lain
Transportasi juga menunjukkan pola kerja sama yang serupa. Penerbangan dan pelayaran berada di jantung ekonomi Hong Kong, tetapi keduanya termasuk sektor yang paling sulit didekarbonisasi.
Eropa memilih mendorong perubahan lewat regulasi, termasuk mewajibkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, memperketat standar emisi pelayaran, dan mengurangi dukungan terhadap bahan bakar fosil. Dampaknya sudah terasa jauh di luar Eropa karena maskapai, produsen bahan bakar, dan perusahaan pelayaran harus menyesuaikan diri.
Airbus telah memperluas kehadiran bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Hong Kong. Perusahaan-perusahaan pelayaran Eropa juga mendorong pelabuhan-pelabuhan regional untuk mengadopsi shore power dan bahan bakar yang lebih bersih.
Efeknya mulai memengaruhi keputusan investasi di Kawasan Teluk Besar. Diskusi itu ikut menentukan pelabuhan mana yang ditingkatkan, di mana armada listrik masuk akal, dan infrastruktur daya apa yang perlu dibangun.
Langkah praktis di sektor penerbangan
Elior Group memberi contoh yang sangat konkret. Perusahaan layanan aeronautika asal Prancis itu bekerja sama dengan Airport Authority dan Hong Kong International Aviation Academy untuk meluncurkan Aircraft Engineering Training Centre serta kursus pembongkaran pesawat dan pengolahan suku cadang.
Rencana jangka panjangnya tidak berhenti pada pelatihan. Elior dan mitra lokal ingin membangun hub pembongkaran pesawat dan perdagangan suku cadang di bandara dan Northern Metropolis, termasuk daur ulang fuselage dan penggunaan kembali komponen bernilai tinggi.
Model seperti ini membutuhkan lahan yang sesuai, perlakuan pajak yang tepat, dan dukungan kebijakan yang jelas dari pemerintah. Tanpa itu, skala operasinya akan sulit berkembang.
Pembiayaan hijau dan pengaruh aturan Eropa
Hubungan keuangan juga menjadi bagian penting. Sejak 2019, Government Sustainable Bond Programme Hong Kong telah menyalurkan dana ke proyek seperti fasilitas waste-to-energy dan mitigasi banjir.
Bank-bank Eropa rutin ikut dalam transaksi semacam itu. Mereka juga cenderung membawa tuntutan pengungkapan yang lebih ketat, sejalan dengan aturan yang sudah tertanam dalam hukum Uni Eropa.
Dampaknya tidak selalu terlihat mencolok, tetapi cukup terasa dalam cara proyek hijau di Hong Kong dilaporkan dan dinilai. Standar pelaporan menjadi lebih disiplin karena ekspektasi dari pasar Eropa ikut terbawa masuk.
Ada manfaat, tetapi juga gesekan
Kerja sama ini tetap tidak sepenuhnya mulus. Carbon Border Adjustment Mechanism milik Uni Eropa menimbulkan kekhawatiran di kalangan eksportir Asia dan kerap dipandang di Hong Kong sebagai bentuk proteksionisme hijau.
Pihak Eropa menolak pandangan itu dan menyebut kebijakan tersebut hanya untuk menyamakan level persaingan. Namun, apa pun sudut pandangnya, kebijakan itu menambah lapisan kompleksitas baru bagi dunia usaha.
Di titik ini, peran Hong Kong menjadi penting sebagai penghubung. Kota ini dapat membantu perusahaan memahami aturan, memverifikasi data, dan tetap terhubung dengan pasar Eropa di tengah perubahan regulasi yang cepat.
Source: www.chinadailyasia.com






