Brasil Minta Dana Miliaran Dolar untuk Lindungi Hutan, Namun Izin Tambang Tetap Berjalan

Brasil menggelar KTT Iklim PBB COP30 dengan fokus utama melindungi hutan, khususnya hutan Amazon yang dikenal sebagai paru-paru dunia. Namun, kebijakan yang diambil pemerintah Brasil menghadirkan ironi besar yang mengundang kritik keras dari berbagai pihak.

Di acara yang diberi julukan "Forest COP" ini, Brasil memperkenalkan skema pendanaan internasional bernama Tropical Forests Forever Facility (TFFF). Skema ini menargetkan penggalangan dana sebesar US$125 miliar untuk membantu negara-negara tropis menjaga hutan mereka. Namun langkah ini dibayangi oleh kebijakan berlawanan yang membiarkan izin eksplorasi minyak dan gas di kawasan Amazon terus berlanjut.

Kontradiksi Kebijakan Brasil di COP30

Brasil terlihat menjalankan dua agenda yang saling bertolak belakang. Satu tangan mereka aktif meminta dana internasional untuk konservasi hutan melalui TFFF. Namun, tangan lain sama sekali tidak mengecilkan ekspansi industri ekstraktif, seperti pemberian izin konsesi minyak dan gas di hutan Amazon yang semestinya mendapat perlindungan ketat.

Kebijakan ini memancing kemarahan masyarakat adat sebagai penjaga tradisional hutan Amazon. Mereka bahkan memprotes keras kegiatan eksploitasi tersebut dengan menuntut penghentian semua proyek industri. Mereka menolak skema TFFF karena dianggap berpotensi menjadi "kolonialisme hijau" yang merampas hak mereka atas wilayah adat.

Kritik Masyarakat Adat dan Potensi Dampak Negatif

Masyarakat adat khawatir skema pendanaan sebesar US$125 miliar itu menjadikan hutan sebagai komoditas finansial, tanpa memberikan perlindungan nyata atas hak dan kehidupan mereka. Ancaman terbesar adalah denda US$400 per hektar terhadap deforestasi yang bisa salah sasaran menjerat aktivitas tradisional masyarakat yang tidak merusak lingkungan secara signifikan.

Selain itu, skema TFFF sama sekali tidak melarang aktivitas eksplorasi minyak dan gas di dalam kawasan hutan. Ini menjadi celah besar yang memungkinkan degradasi hutan terus terjadi di bawah pengawasan pemerintah. Dalam kata lain, kebijakan ini justru membuka peluang eksploitasi sumber daya fosil yang dapat memperparah kerusakan lingkungan.

Potensi "Bom Waktu" Karbon di Bawah Hutan

Penelitian menunjukkan bahwa banyak negara yang menjadi target dana TFFF menyimpan cadangan bahan bakar fosil sangat besar di bawah hutan tropis mereka. Cadangan ini jika dieksploitasi diperkirakan dapat melepaskan emisi hingga 317 miliar ton karbon dioksida, bahkan bisa melonjak hingga 4,6 triliun ton apabila seluruh potensi dimanfaatkan. Brasil sebagai salah satu negara dengan hutan luas menghadapi risiko emisi karbon sangat besar.

Ini menciptakan dilema di mana dunia ingin membayar miliaran dolar demi perlindungan hutan, tetapi di sisi lain, ada potensi eksploitasi sumber karbon besar-besaran yang justru dapat merusak upaya mitigasi perubahan iklim.

Implikasi bagi Konservasi dan Keadilan Ekologis

Kasus Brasil dalam COP30 mengajarkan bahwa dana besar dan niat baik tidak cukup tanpa kebijakan yang konsisten dan adil. Para masyarakat adat yang hidup bergantung pada hutan memerlukan peran lebih besar dalam pengelolaan. Tanpa begitu, upaya perlindungan hutan akan menghadapi tantangan serius dari konflik kepentingan ekonomi dan eksploitasi sumber daya.

Upaya internasional seperti TFFF harus disertai dengan mekanisme penegakan larangan eksplorasi fosil dan perlindungan hak-hak masyarakat adat. Sebaliknya, pemberian izin tambang yang terus berjalan di tengah kampanye konservasi menimbulkan pertanyaan besar tentang keseriusan pemerintah Brasil dalam menjaga hutan Amazon.

Data dan kenyataan ini harus menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam perlindungan lingkungan di skala global. Integritas kebijakan iklim sangat bergantung pada keberanian menolak proyek yang merusak sekaligus mengakomodasi kepentingan masyarakat tradisional sebagai penjaga hutan sesungguhnya.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version