
Ancaman Terhadap Demokrasi dan Pers di Era Disinformasi
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kebebasan pers dan demokrasi, Maria Ressa, pendiri Rappler sekaligus penerima Nobel Perdamaian, menyerukan pentingnya kolaborasi radikal antar media. Menurut Ressa, industri media saat ini berada pada titik paling genting dalam satu dekade terakhir akibat perkembanga otoritarianisme, penurunan pendanaan, dan represi brutal terhadap jurnalis.
Ressa menjelaskan bahwa media tidak lagi bisa beroperasi sendiri-sendiri. Ia menekankan perlunya redaksi, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas akar rumput membangun ekosistem yang saling mendukung agar fakta tidak kalah oleh kebohongan yang tersebar sistematis.
Kolaborasi Radikal sebagai Jawaban
Dalam pidatonya di pembukaan Konferensi Jurnalisme Investigasi Global ke-14 di Kuala Lumpur, Malaysia, Ressa menyatakan, “Segala sesuatu yang kita ketahui sebagai sebuah industri telah hancur… Ini adalah saatnya untuk kolaborasi radikal.” Ia memperingatkan bahwa kebebasan pers memiliki waktu yang sangat terbatas, bahkan mungkin hanya satu tahun tersisa tanpa aksi bersama yang nyata.
Dari pengalaman pribadinya, Maria Ressa telah menghadapi 11 surat perintah penangkapan dalam setahun. Hal ini ia anggap sebagai tanda bahwa kekuasaan sangat takut terhadap jurnalisme yang efektif dan kritis. Ressa percaya bahwa hanya solidaritas publik dan kolaborasi lintas sektor dapat menahan serangan-serangan ini dan menjaga kebebasan pers tetap hidup.
Solidaritas Menghentikan Impunitas
Ressa menyebutkan bahwa tekanan terhadap media kini sudah sangat masif, termasuk serangan terorganisir oleh aktor yang berupaya membungkam suara kritis. Namun, ada kabar baik ketika Rodrigo Duterte, mantan presiden Filipina dan sosok yang berusaha membungkam Rappler, sempat ditahan di Den Haag atas tuduhan pelanggaran HAM.
Ia menambahkan, “If you keep doing your jobs and collaborate together, impunity ends.” Ressa menegaskan, meski ada kemajuan ini, ancaman tetap nyata dan berat. Tahun 2024 menjadi tahun paling mematikan bagi jurnalis, dengan ratusan wartawan terbunuh, salah satunya di Gaza sebagai contoh tragis serangan terhadap kebebasan pers.
Peran Algoritma Digital dan Tantangan Kebenaran
Ancaman terbesar berikutnya berasal dari algoritma platform digital yang menurut Ressa berperang melawan fakta. Ia menyebut situasi ini sebagai medan kolonialisme baru yang menebarkan kebencian dan menghancurkan kepercayaan publik. “Tanpa fakta, kamu tidak bisa memiliki kebenaran; tanpa kebenaran, kamu tidak bisa memiliki kepercayaan,” ujarnya tegas.
Aspek ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap disinformasi tidak cukup hanya dilakukan oleh media saja. Peran semua lapisan masyarakat dan perubahan struktur teknologi harus dilakukan agar kebenaran tetap dapat diakses oleh publik luas.
Harapan untuk Masa Depan Media Independen
Maria Ressa memandang tahun 2026 sebagai momen penentuan di mana media independen harus menemukan model keberlanjutan baru dan memperkuat haknya melalui aliansi lintas sektor. Ia memperingatkan bahwa bila tidak ada langkah signifikan, banyak media menengah bisa “mati dalam setahun” akibat kondisi yang semakin sulit dan tekanan yang melemahkan.
Pesan penutup Ressa kepada ribuan jurnalis yang hadir sangat jelas: di era perang terhadap fakta, hanya kolaborasi radikal yang bisa menyelamatkan demokrasi dan keberlangsungan media. Solidaritas dan aksi bersama bukan saja strategi, melainkan kunci utama untuk menghadapi tantangan berat ini.
Maria Ressa, lewat pengalaman dan perjuangannya, mengingatkan dunia bahwa kebebasan pers dan demokrasi adalah tanggung jawab bersama. Upaya kolektif lintas sektor harus diprioritaskan sekarang agar fakta tidak tersisih oleh gelombang disinformasi yang semakin tinggi.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




