Aktivis separatis di Alberta, Kanada, dituduh melakukan pengkhianatan setelah terungkap mereka mengadakan pertemuan rahasia dengan pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Perdana Menteri British Columbia, David Eby, mengutuk keras tindakan tersebut sebagai upaya melemahkan kedaulatan Kanada.
Eby menegaskan, meminta bantuan negara asing untuk memecah belah Kanada adalah tindakan pengkhianatan yang tidak bisa diterima. Ia juga menyayangkan sikap Presiden AS saat itu yang dianggap tidak menghormati kedaulatan Kanada.
Awal Munculnya Isu Pertemuan Rahasia
Kabar mengenai pertemuan aktivis sayap kanan Alberta dengan pejabat AS pertama kali muncul melalui laporan Financial Times. Laporan tersebut menjelaskan langkah-langkah yang diambil oleh kelompok separatis yang semakin berani untuk memisahkan diri dari Kanada.
Sebagian kecil penduduk Alberta, yang kaya sumber daya minyak, merasa sistem pembayaran federal tidak menguntungkan mereka. Mereka juga mengeluhkan kesulitan dalam menyalurkan hasil sumber daya fosil ke pasar global.
Kampanye Referendum Kemerdekaan Alberta
Kelompok yang mengusung kemerdekaan Alberta sedang mengumpulkan tanda tangan untuk memicu referendum. Target mereka adalah mengumpulkan hampir 178.000 tanda tangan dalam beberapa bulan ke depan.
Secara terbuka, para penyelenggara meminta fasilitas kredit sebesar 500 miliar dolar AS dari Departemen Keuangan AS untuk mendanai pembentukan negara baru apabila referendum berhasil.
Reaksi Penguasa dan Tokoh Politik
David Eby menegaskan bahwa hak rakyat Kanada untuk mengungkapkan pendapat dan memilih dalam referendum harus dihormati, tapi meminta bantuan asing untuk memecah negara harus ditolak. Ia mengaku akan membahas isu ini dalam pertemuan para pemimpin provinsi.
Sementara itu, Perdana Menteri Alberta, Danielle Smith, menolak ide kemerdekaan dan menyatakan dukungan terhadap Alberta yang kuat serta berdaulat dalam Kanada yang bersatu. Namun, pemerintahannya mendapat kritik karena memudahkan warga untuk mengajukan petisi referendum.
Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, meminta Smith untuk mengambil sikap tegas terhadap gerakan separatis tersebut dengan mengatakan bahwa cukup sudah.
Dukungan dan Ancaman dari Amerika Serikat
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sempat menyatakan dukungan terhadap semangat kemerdekaan Alberta dalam sebuah wawancara dengan situs konservatif Real America’s Voice. Ia memuji sumber daya yang dimiliki Alberta dan menyebut penduduknya sebagai orang yang sangat mandiri.
Bessent menyinggung rumor bahwa akan ada referendum mengenai keinginan Alberta untuk tetap menjadi bagian dari Kanada atau tidak. Ia menambahkan bahwa orang-orang menginginkan kedaulatan yang setara dengan milik Amerika Serikat.
Kekhawatiran Indigenous dan Para Analis
Pemimpin Indigenous di Alberta mengingatkan bahwa penyelenggara pemilihan umum di provinsi itu belum siap menghadapi potensi campur tangan asing dalam referendum. Mereka menegaskan bahwa tidak ada kemerdekaan yang sah tanpa konsultasi dengan pemegang perjanjian asli, yang haknya mendahului pembentukan Alberta sebagai provinsi.
Para analis semakin resah terhadap pengaruh asing yang bisa memperkuat posisi separatis. Peneliti konflik Thomas Homer-Dixon menyebut ada kemungkinan “kolom kelima” yang berusaha melemahkan Kanada lewat bantuan luar negeri.
Homer-Dixon memperingatkan bahwa referendum besar kemungkinan gagal, namun mantan Presiden Trump bisa mengklaim hasilnya palsu. AS mungkin menempatkan pasukan di perbatasan Montana dan menuntut Alberta menjadi negara bagian ke-51 AS.
Ia mengimbau Kanada untuk segera merencanakan berbagai tindakan pencegahan sebelum kondisi semakin memburuk. Disinformasi, permintaan bantuan asing, dan klaim kecurangan pemilu harus disikapi dengan serius agar tidak menjadi ancaman nyata bagi integritas nasional.







