Wanita Asing Terkait ISIS di Kamp Suriah Roj Harap Amnesti Usai Serangan Pemerintah

Author: Qoo Media

Pasca ofensif militer pemerintah Suriah yang melemahkan pasukan yang dipimpin Kurdi, sejumlah perempuan asing yang terkait dengan kelompok Islamic State (IS) di kamp Roj, Suriah, kini berharap mendapatkan amnesti. Kamp ini menampung lebih dari 2.000 orang, mayoritas adalah wanita dan anak-anak yang terhubung dengan IS, dan telah menjadi tempat tahanan selama hampir satu dekade.

Kamp Roj yang berada di timur laut Suriah masih di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi. Namun, ofensif terbaru oleh pemerintah berhasil merebut sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai SDF, termasuk kamp al-Hol yang jauh lebih besar dengan hampir 24.000 penghuninya, kebanyakan juga berasal dari keluarga IS. Banyak perempuan di kamp ini merupakan istri atau janda dari pejuang IS yang kalah pada 2019, ketika kekhalifahan IS runtuh.

Harapan Amnesti dan Perubahan Sikap

Direktur kamp Roj, Hakmiyeh Ibrahim, menyampaikan bahwa setelah ofensif pemerintah, penghuninya menjadi lebih percaya diri dan berharap akan ada pembebasan. Ia melihat ada perubahan sikap yang signifikan, terutama pada anak-anak dan wanita yang kini menunjukkan sikap lebih agresif. Menurut Ibrahim, mereka bahkan memperkirakan penjaga Kurdi akan ditahan di kamp tersebut, sementara mereka mendapatkan kebebasan.

Seorang wanita warga Tunisia yang menamakan dirinya Buthaina mengaitkan harapannya akan amnesti dengan perubahan politik di Suriah. Ia mencontohkan Ahmad al-Sharaa, presiden interim Suriah yang dulu memiliki hubungan dengan kelompok al-Qaida dan kini mendapat pengampunan internasional. Buthaina menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membunuh dan seharusnya juga layak mendapat amnesti.

Kondisi Penghuni dan Tantangan Repatriasi

Di kamp Roj, terdapat 2.300 orang, sebagian kecil berasal dari Suriah dan Irak, tetapi kebanyakan berasal dari hampir 50 negara lain, terutama negara-negara bekas Uni Soviet. Ini berbeda dengan kamp al-Hol yang dihuni mayoritas oleh warga Suriah dan Irak yang lebih mudah dipulangkan. Namun, banyak negara enggan menerima warganya kembali, sehingga kondisi pengungsi di kamp-kamp ini terus memburuk.

Militer AS telah memindahkan tahanan laki-laki IS dari penjara Suriah ke pusat penahanan di Irak, tetapi hingga kini belum ada rencana jelas mengenai pemulangan perempuan dan anak-anak di kamp Roj. Beatrice Eriksson, pendiri organisasi hak anak Repatriate the Children di Swedia, menilai situasi ini akibat ketidakpedulian internasional yang berkelanjutan dan menyatakan bahwa tetap adanya kamp-kamp ini adalah keputusan politik, bukan konsekuensi tak terhindarkan dari konflik.

Kondisi Penghuni dan Pilihan Masa Depan

Pendapat penghuni kamp soal masa depan berbeda-beda. Seorang perempuan asal Jerman yang menamakan diri Aysha memilih tinggal di Suriah karena menganggap negara tersebut lebih sesuai dengan keyakinannya dibandingkan negaranya sendiri. Sedangkan Cassandra, seorang warga Belgia, ingin keluar dari kamp namun tetap berada di wilayah yang dikendalikan Kurdi. Cassandra kehilangan suaminya yang merupakan pejuang IS dan mengaku mendapat ancaman karena kedekatannya dengan penjaga Kurdi.

Situasi Penahanan dan Pergeseran Kendali

Offensif pemerintah Suriah juga menyebabkan kekacauan di penjara-penjara yang menahan anggota IS. Pemerintah kini mengendalikan beberapa penjara seperti al-Aqtan dekat Raqqa dan Shaddadeh, dengan sejumlah tahanan kabur tapi kemudian sebagian besar berhasil ditangkap kembali. Kesepakatan gencatan senjata awal antara Damaskus dan SDF mengatur agar pengelolaan kamp dan pusat tahanan diserahkan kepada pemerintah Suriah.

Buthaina mengungkapkan bahwa suami dan anaknya masih ditahan, meskipun suaminya tidak bertempur dan hanya bekerja membersihkan fasilitas. Ia menyesalkan kehidupan anak-anaknya yang tumbuh tanpa pendidikan yang layak atau masa kecil yang normal. Ia meminta solusi dan kebebasan untuk mereka yang tidak bersalah, serta persidangan bagi mereka yang diduga melakukan kejahatan.

Kondisi di kamp Roj dan wilayah sekitarnya terus menjadi sorotan, mengingat ketidakpastian nasib ribuan penghuni yang terkait dengan kelompok IS. Harapan dan ketakutan bercampur susah dipisahkan, sementara dinamika politik dan militer di Suriah terus berubah cepat.

Terbaru