Iran Tetap Gelar Latihan Tembak Tempur Laut di Selat Hormuz Meski Ada Peringatan AS

Author: Qoo Media

Iran tetap berencana melaksanakan latihan tembakan langsung (live-fire) di perairan Selat Hormuz selama dua hari meskipun mendapat peringatan dari militer Amerika Serikat. Latihan ini akan dimulai pada hari Minggu dan dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran di tengah ketegangan regional dan kerusuhan dalam negeri.

Peringatan dari Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menegaskan bahwa pihaknya menghormati hak Iran untuk beroperasi secara profesional di wilayah udara dan perairan internasional. Namun, CENTCOM memperingatkan bahwa perilaku yang tidak aman dan tidak profesional oleh Iran dapat memperbesar risiko tabrakan dan eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Lokasi dan Signifikansi Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah jalur penting yang menghubungkan Teluk Oman dengan Teluk Persia. Iran menduduki wilayah pantai utara selat ini, sementara Oman dan Uni Emirat Arab berada di pantai selatan. Setiap hari, lebih dari 100 kapal niaga melewati jalur ini sehingga menjadikannya koridor perdagangan vital yang menopang perekonomian regional.

Ketegangan meningkat menyusul pengerahan armada tempur Amerika Serikat, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln. Pengiriman ini merupakan respons atas kondisi keamanan yang memanas di kawasan tersebut dan kerusuhan sipil yang sedang berlangsung di Iran.

Peringatan CENTCOM dan Risiko Ketegangan

CENTCOM menegaskan akan melindungi personel, kapal, dan pesawat AS yang beroperasi di Timur Tengah. Mereka tidak akan mentolerir tindakan berbahaya seperti penerbangan rendah bersenjata di sekitar aset militer AS atau pendekatan kecepatan tinggi yang mengancam keselamatan. Pernyataan ini menyoroti ketegangan militer yang terus membara antar kedua negara.

Berikut adalah daftar tindakan yang tidak akan ditoleransi CENTCOM pada latihan Iran:

  1. Penerbangan di atas kapal militer AS saat operasi penerbangan berlangsung
  2. Penerbangan mereka rendah atau bersenjata tanpa kejelasan tujuan
  3. Pendekatan kapal cepat dalam lintasan tabrakan dengan kapal militer AS
  4. Mengarahkan senjata ke arah pasukan AS

Dinamika Politik dan Ketegangan Regional

Ketegangan ini terjadi bersamaan dengan protes massa di Iran yang diperkirakan telah menewaskan antara 6.000 hingga lebih dari 30.000 orang sejak akhir Desember. Presiden AS sebelumnya sempat mengancam akan melakukan serangan militer jika kekerasan terhadap demonstran terus berlangsung. Namun, langkah itu ditunda menyusul himbauan dari para pemimpin Arab Saudi.

Saudi Arabia melalui Menteri Pertahanan Pangeran Khalid bin Salman memperingatkan bahwa tanpa tindakan AS, Iran akan semakin kuat. Perubahan sikap ini menunjukkan kesiapan Riyadh untuk dukung kemungkinan intervensi militer jika kondisi dianggap perlu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam upaya AS mengatur bagaimana militer Iran menggelar latihan di wilayah sendiri. Ia menekankan pentingnya kebebasan navigasi dan kelancaran kapal dagang di Selat Hormuz bagi Iran dan negara tetangga. Araghchi menuding kehadiran pasukan asing justru memperparah ketegangan daripada meredakannya.

Peristiwa Ledakan di Bandar Abbas

Latihan tembakan langsung Iran juga dijadwalkan bersamaan dengan laporan ledakan di sebuah gedung residensial sembilan lantai di Bandar Abbas, kota pelabuhan yang terletak di Selat Hormuz. Ledakan ini menyebabkan seorang anak perempuan meninggal dan 14 orang luka-luka.

Kepala Pemadam Kebakaran Bandar Abbas menyatakan bahwa penyebab awal ledakan kemungkinan akibat kebocoran gas. Sementara itu, laporan yang menyebutkan kematian Komandan Angkatan Laut IRGC, Brigadir Jenderal Alireza Tangsiri, dibantah oleh media resmi Iran.

Latihan militer yang akan dijalankan Iran dianggap sebagai bentuk demonstrasi kekuatan sekaligus sinyal politik di tengah tekanan internasional. Kondisi di Selat Hormuz tetap menjadi titik panas yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dari semua pihak demi menjaga stabilitas perdagangan dan keamanan regional yang vital.

Terbaru