Di Tengah Perang Ukraina, Dukungan untuk Palestina Kini Makin Terbuka dan Tidak Lagi Jadi Tabu

Perang yang melanda Ukraina telah mengubah persepsi publik tentang dukungan terhadap Palestina. Pada awal konflik Israel-Gaza, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengekspresikan dukungan untuk Israel, sementara ibu negara Olena Zelenska menyatakan bahwa orang Ukraina memahami dan “berbagi rasa sakit” rakyat Israel.

Namun, seiring berlanjutnya serangan Israel terhadap Gaza yang dianggap sebagai genosida, pandangan masyarakat Ukraina mulai bergeser. Protes pro-Palestina muncul di Kyiv, dan para jurnalis serta aktifis mulai memberikan perhatian lebih pada penderitaan rakyat Palestina.

Perbedaan Perlakuan Terhadap Identitas Palestina dan Ukraina

Hashem, seorang profesional medis kelahiran Gaza yang telah menjadi warga negara Ukraina, mengungkapkan pengalaman pahit terkait perbedaan perlakuan berdasarkan kewarganegaraan. “Bepergian sebagai warga Ukraina membuka banyak pintu; sementara sebagai warga Palestina justru menutupnya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa hak asasi manusia seharusnya universal, tanpa melihat status kebangsaan atau paspor.

Perubahan Sikap Ukraina Terhadap Israel dan Palestina

Yuliia Kishchuk, seorang peneliti Ukraina, menyatakan bahwa tindakan Israel yang menyebabkan kelaparan terencana di Gaza mengubah banyak pendapat di negaranya. Beberapa orang Ukraina melihat kesamaan dengan Holodomor, kelaparan massal yang dianggap genosida oleh rezim Stalin di era Soviet. Protes akbar mendukung Palestina menunjukkan tanda-tanda penguatan solidaritas, meskipun serangan Rusia yang mengganggu infrastruktur penting membuat gerakan ini sempat terhenti.

Pandangan yang Berubah Terhadap Amerika Serikat

Kishchuk juga mengamati perubahan persepsi terhadap Amerika Serikat. Dukungan AS pada perang Rusia-Ukraina kini dipandang sebagian kalangan sebagai tindakan imperialisme, di mana Ukraina lebih diperlakukan sebagai sumber daya daripada sekutu sejati. Kesepakatan mineral baru antara Ukraina dan AS semakin memperkuat pandangan bahwa negara ini dianggap sebagai sumber daya yang dieksploitasi. Hal ini menciptakan hubungan paralel antara perjuangan Ukraina, Palestina, dan negara-negara Global Selatan yang sering dianggap sama oleh kekuatan besar dunia.

Langkah Ukraina dalam Mendukung Palestina

Pada ajang Shangri-La Dialogue, Zelenskyy menyatakan pengakuan atas dua negara, yaitu Israel dan Palestina. Ia berkomitmen untuk mempengaruhi Israel agar mengakhiri konflik demi mencegah penderitaan warga sipil. Ukraina juga mengirim bantuan kemanusiaan berupa 1.000 ton tepung gandum ke wilayah Palestina melalui inisiatif “Grain from Ukraine”. Kementerian Luar Negeri Ukraina telah mengecam serangan Israel terhadap Qatar sebagai pelanggaran hukum internasional.

Pengalaman Pribadi dari Gaza ke Ukraina

Aaisha Aroggi, mahasiswa berusia 25 tahun yang berasal dari Gaza, mengungkapkan bahwa setelah mengalami pengungsian berulang kali akibat perang di Gaza, Kyiv sempat dirasakan sebagai tempat yang aman. Namun, serangan Rusia yang terus berlangsung membuatnya merasa terus berada di zona perang. Ia menyimpulkan bahwa “perang memiliki wajah yang sama di mana pun”.

Aroggi memperhatikan bahwa awalnya masyarakat Ukraina dan Eropa kurang memahami pengalaman Palestina. Kini, informasi dan platform perjuangan Palestina semakin meluas dan mendapat perhatian di wilayah ini. Di universitasnya di Kyiv, banyak mahasiswa mulai menunjukkan dukungan dan keingintahuan mengenai situasi di Gaza.

Variasi Reaksi di Ukraina terhadap Isu Palestina

Meski solidaritas meningkat, Hashem mengamati adanya standar ganda dalam pandangan masyarakat Ukraina terkait Palestina. Sebagian orang mau mendengar dan mencoba memahami, sementara yang lain sulit menerima perbandingan antara situasi Ukraina dan Palestina karena telah dibentuk narasi politik yang berbeda. Ia percaya bahwa perubahan politik bisa membuka kesempatan untuk pemahaman lebih dalam. Solidaritas yang dibangun berdasarkan prinsip hak asasi manusia, bukan politik semata, merupakan bentuk solidaritas paling tahan lama.

Informasi Penting Secara Singkat

  1. Awalnya, Ukraina secara resmi mendukung Israel dalam perang Gaza.
  2. Solidaritas terhadap Palestina tumbuh seiring meningkatnya serangan Israel.
  3. Perbedaan perlakuan antara warga Palestina dan Ukraina menjadi sorotan.
  4. Pandangan terhadap AS berubah, dianggap sebagai kekuatan yang mengeksploitasi Ukraina.
  5. Ukraina mengakui dua negara, Israel dan Palestina, dan mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina.
  6. Pengalaman langsung warga Gaza yang kini tinggal di Ukraina menunjukkan perang memiliki konsekuensi universal.

Perubahan sikap ini membuka ruang bagi wacana lebih luas dan empati lintas konflik yang selama ini dianggap terpisah. Di tengah krisis kemanusiaan dan geopolitik yang kompleks, hubungan antara pengalaman Ukraina dan Palestina semakin diakui di mata dunia.

Berita Terkait

Back to top button