Kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein kembali menjadi pusat perhatian setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis sejumlah besar dokumen dan rekaman wawancara eksklusif yang memperlihatkan sisi lain dari penampilan dan pengakuan Epstein. Dalam rekaman berdurasi dua jam yang diambil sebelum kematiannya pada 2019, Epstein secara mengejutkan menolak disebut sebagai “iblis” meski pengakuannya terkait kejahatan seksual membuat publik marah.
Dalam perbincangan dengan mantan Kepala Strategi Gedung Putih, Steve Bannon, Epstein mengklaim bahwa dirinya hanyalah predator seksual “tier satu”. Epstein menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada tingkat paling rendah dari kategori pelaku kejahatan seksual. Ia menyatakan hal ini untuk menurunkan kesan kejahatan yang selama ini dianggap sangat buruk dan ekstrem. Epstein juga menolak klaim bahwa kekayaannya berasal dari uang haram, menegaskan bahwa uang diperoleh melalui pekerjaan dan usahanya sendiri.
Epstein Bantah Sebutan ‘Iblis’ dan Klaim Kejahatan Seksual Tingkat Rendah
Ketika ditanya langsung apakah merasa seperti iblis, Epstein dengan santai menolak. Ia bahkan menanggapi dengan bercanda bahwa dirinya hanya memiliki “cermin bagus”. Menurutnya, stigma buruk terhadapnya terlalu dilebih-lebihkan. Epstein juga menyinggung aktivitas filantropinya dengan dana yang ia sumbangkan untuk program vaksinasi polio di negara berkembang. Ia berargumen bahwa jika publik mempertanyakan sumber dana tersebut, seharusnya mereka bertanya kepada keluarga penerima vaksin yang merasa terbantu oleh sumbangannya.
Klaim Epstein bahwa dirinya merupakan predator seksual “tier satu” pun diseleksi lebih lanjut oleh Bannon. Epstein memperjelas tier satu adalah tingkatan paling rendah dalam klasifikasi pelaku kejahatan seksual. Namun demikian, ia tidak menampik bahwa tindakannya tetap merupakan kejahatan tingkat tinggi. Dalam dialog ini, Epstein berusaha memposisikan dirinya tidak sebagai sosok jahat yang diidentikkan sebagai “iblis”, melainkan sebagai individu dengan kompleksitas moral yang sulit dikategorikan secara hitam-putih.
Kontroversi dan Relevansi Dokumen Baru Epstein
Dokumen dan rekaman yang dirilis pemerintah Trump menjelang akhir masa jabatannya ini membuka sekitar 3,5 juta halaman informasi lengkap dengan 180 ribu gambar terkait kasus Epstein. Wawancara ini merupakan bagian dari sekitar 2.000 rekaman yang dipublikasikan untuk memenuhi Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan oleh Trump pada November 2025. Meski rekaman ini dipercaya direkam tak lama sebelum penahanan Epstein pada Juli 2019, banyak fakta baru dan sudut pandang atas kasus ini yang kini dapat dianalisis publik.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun Epstein berusaha menampilkan diri sebagai pelaku kejahatan tingkat rendah dan filantropis, kasusnya masih meninggalkan luka mendalam dan menjadi pusat perhatian karena melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia. Penolakan secara eksplisit menjadi “iblis” dan klaim sebagai predator tier rendah tampaknya menjadi upaya pembelaan diri yang tidak mengurangi kontroversi yang sudah melekat pada namanya.
Fakta Penting yang Perlu Diketahui
- Jeffrey Epstein mengaku sebagai predator seksual “tier satu”, istilah yang ia klaim sebagai tingkat paling rendah.
- Ia menolak tuduhan uang haram dan mengaku mendapatkan kekayaan secara sah melalui bisnis.
- Epstein menolak label “iblis” yang sering disematkan kepadanya.
- Rekaman wawancara ini dipublikasikan oleh DOJ sebagai bagian dari transparansi informasi kasus Epstein.
- Epstein menonjolkan sisi filantropisnya, terutama sumbangan dana untuk vaksinasi polio di negara-negara berkembang.
- Dokumen terkait kasusnya berjumlah jutaan halaman dengan ribuan gambar dan rekaman yang dirilis untuk publik.
Wawancara dan dokumen tersebut memberikan gambaran baru tentang sosok Epstein yang selama ini dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual berat. Namun, klaimnya yang menganggap dirinya sebagai pelaku tingkat rendah dan penolakan terhadap celaan “iblis” menimbulkan kontroversi dan kemarahan publik. Kasus ini terus menjadi kajian penting dalam dunia hukum dan etika karena dampaknya yang besar terhadap korban dan kaitan Epstein dengan elite global.
