Iran memperingati 47 tahun revolusi Islam 1979 di tengah tekanan yang semakin meningkat dari dalam dan luar negeri. Di saat yang sama, negara ini menghadapi kemarahan publik atas tindakan keras pemerintah terhadap unjuk rasa besar-besaran yang terjadi beberapa waktu lalu.
Peringatan berlangsung dengan dualitas yang mencolok. Televisi milik negara menayangkan ribuan warga di berbagai kota mengikuti aksi dukungan kepada rezim dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun, di ibu kota Tehran, terdengar teriakan “Matikan diktator!” dari beberapa sudut rumah warga, menandakan ketegangan yang menyelimuti perayaan tersebut.
Negosiasi dan ketegangan nuklir
Presiden parlemen Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesediaan Iran untuk berunding terkait program nuklirnya. Ia menegaskan bahwa negara tidak mencari senjata nuklir dan siap menerima verifikasi apapun. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum diizinkan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap stok nuklir Iran selama beberapa bulan terakhir.
Pezeshkian juga mengkritik ketidakpercayaan tinggi yang dibangun oleh Amerika Serikat dan Eropa, yang menurutnya menghambat kemajuan dialog. Negeri-negeri Timur Tengah khawatir kegagalan pembicaraan dapat memicu perang baru di kawasan.
Sementara itu, seorang pejabat keamanan Iran melakukan kunjungan diplomatik ke Qatar dan Oman yang selama ini berperan sebagai mediator. Kunjungan tersebut juga melibatkan pertemuan dengan kelompok militan Palestina Hamas dan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman. Pada saat yang sama, Emir Qatar berbicara lewat telepon dengan Presiden AS Donald Trump terkait langkah-langkah deeskalasi di wilayah tersebut.
Dukungan publik dan penekanan protes
Pemerintah Iran menampilkan berbagai simbol kekuatan militer seperti rudal dan serpihan drone yang disebut berasal dari pesawat tanpa awak Israel. Ada juga pengorbanan simbolik berupa peti mati yang dilapisi bendera AS sebagai bentuk kecaman terhadap Amerika Serikat.
Dalam populasi Iran yang mencapai 85 juta jiwa, sebagian masih mendukung keras rezim, khususnya anggota Garda Revolusi Islam yang bertanggung jawab menumpas aksi protes baru-baru ini. Namun, aktivis melaporkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya ditahan selama penindasan tersebut.
Banyak warga yang terlibat dalam perayaan ini adalah pegawai negeri yang dipaksa atau didorong menghadiri acara yang juga digelar seperti karnaval. Sekitar 2,5 juta orang bekerja di pemerintahan Iran, dengan sepertiganya berada di Tehran saja.
Pezeshkian mengakui dampak tragis dari penindasan yang terjadi sejak 8 Januari lalu dan menyampaikan rasa malu atas kejadian itu. Ia menyatakan komitmen pemerintah membantu korban tanpa menginginkan perpecahan dengan rakyat.
Seorang warga yang menonton peringatan dari trotoar dengan sedih menyatakan enggan mengikuti acara resmi. Ia menyebut jika dulunya rutin turut serta, kini ia menolak karena ingat tragedi berdarah di jalanan.
Ancaman militer AS dan dinamika kawasan
Amerika Serikat telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perang dan pesawat tempur ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini bertujuan memberikan tekanan militer kepada Iran sekaligus menyiapkan opsi serangan jika diperlukan.
AS juga menembak jatuh drone yang dianggap mendekati ketat kapal induknya dan melindungi kapal berbendera AS yang dihadang di Selat Hormuz. Presiden Trump menyatakan kemungkinan mengirimkan kapal induk kedua ke wilayah tersebut.
Alternatif kapal induk yang memungkinkan adalah USS George H.W. Bush yang baru berangkat dari Norfolk. Armada lain, USS Gerald R. Ford, masih berada di Karibia setelah operasi penangkapan pemimpin Venezuela.
Wakil Presiden AS juga menegaskan fokus utama pemerintah adalah meraih kesepakatan lewat negosiasi, meski opsi militer tidak dikesampingkan jika pembicaraan gagal.
Perayaan revolusi Iran tahun ini mencerminkan ketegangan yang mendalam di dalam negeri sekaligus ketidakpastian hubungan dengan Amerika Serikat. Kendati pembicaraan nuklir masih terus berjalan, tekanan politik dan kemarahan publik memperlihatkan tantangan besar bagi kelangsungan rezim Iran di masa depan.







