Siaran televisi milik negara Iran memicu kontroversi setelah menayangkan wawancara dengan beberapa perempuan yang tampil tanpa mengenakan hijab dalam sebuah pawai memperingati revolusi Islam. Langkah ini mengejutkan banyak pengkritik yang menuding pemerintah melakukan tindakan munafik terkait penegakan aturan jilbab wajib.
Sejak revolusi 1979, perempuan di Iran diwajibkan menutup kepala di tempat umum. Namun, belakangan beberapa perempuan di ibu kota, Tehran, semakin terang-terangan melanggar aturan tersebut tanpa sanksi signifikan. Pada pawai nasional tahunan untuk memperingati revolusi, televisi negara menyiarkan sosok perempuan yang mendukung rezim namun tanpa mengenakan hijab, sebuah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di media resmi Iran.
Kritikus menilai siaran ini sebagai langkah politik yang dibuat untuk meredam ketegangan setelah aksi protes besar-besaran bulan lalu yang dipadamkan dengan kekerasan. Kelompok HAM melaporkan bahwa penindasan tersebut menewaskan ribuan orang. Selain itu, pengguna media sosial mengaitkan peristiwa ini dengan ingatan akan Mahsa Amini, perempuan Kurdi Iran yang meninggal dunia saat dalam tahanan akibat pelanggaran aturan berpakaian yang memicu protes selama berbulan-bulan.
Dalam wawancara yang viral, seorang perempuan tanpa hijab dengan rambut disanggul mengatakan ia hadir di pawai untuk menunjukkan bahwa "perlawanan masih hidup atas nama Iran dan di dalam hati kita." Ketika ditanya pesan untuk musuh Iran, jawabannya tegas: "Mati atau tanah air."
Beberapa wawancara serupa juga disiarkan dari pawai di Tehran yang diwarnai slogan permusuhan terhadap Amerika Serikat, musuh utama Iran. Jason Brodsky, Direktur Kebijakan di organisasi United Against Nuclear Iran, menilai penayangan perempuan tanpa hijab sebagai upaya "melepas tekanan" baik di dalam maupun luar negeri di tengah represi demonstrasi.
Respons dan Kritik Internasional
Akun pemerintah Israel berbahasa Persia di platform X mengunggah potongan video tersebut dengan pertanyaan tajam, "Mengapa Republik Islam Iran membunuh Mahsa Amini?" Jurnalis Jerman keturunan Iran, Golineh Atai, menegaskan bahwa meski begitu, penegakan jilbab wajib terus dilakukan dengan metode yang semakin licik. "Rezim ini hanya peduli tampilan luar sebagai kedok untuk menyembunyikan wajah buruknya," katanya.
Komentar lain datang dari Bushra Shaikh, komentator Muslim asal Inggris-Pakistan, yang merekam video saat berjalan di tengah pawai tanpa hijab. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai "realita berita langsung dari Iran." Namun, aktivis hak perempuan dan disiden Iran yang berbasis di AS, Masih Alinejad, menanggapi skeptis dengan menyatakan, "Hanya orang bodoh yang menganggap pawai yang diatur rezim brutal itu sebagai legitimasinya."
Menariknya, Shaikh kemudian tampil mengenakan hijab saat berkomentar di saluran Iran berbahasa Inggris, Press TV. Ia mengecam liputan media Barat yang dianggapnya "dikampanyekan" untuk melawan Iran, memperlihatkan ketegangan narasi antara media resmi Iran dan pandangan internasional.
Ilustrasi Konteks yang Kompleks
Fenomena ini menunjukkan dilema pemerintah Iran yang mencoba mempertahankan citra resmi sekaligus menanggapi tekanan internal dan eksternal. Kewajiban hijab telah menjadi simbol politik dan sosial sejak revolusi, sehingga setiap penampilan tanpa hijab oleh perempuan di khalayak umum menimbulkan reaksi keras.
Berikut ini ringkasan konteks utama terkait isu hijab di Iran dan isu yang memicu kontroversi siaran televisi:
- Kewajiban hijab sejak 1979 sebagai aturan negara
- Aksi protes besar terkait kematian Mahsa Amini pada pelanggaran pakaian
- Sikap pemerintah yang menampilkan perempuan tanpa hijab di media resmi
- Kritik tajam internasional terhadap penegakan hukum dan hak perempuan
- Perbedaan persepsi antara narasi resmi pemerintah dan pandangan oposisi
Langkah televisi Iran menayangkan perempuan tanpa hijab pada pawai revolusi menjadi simbol ketegangan yang terus berlangsung antara kebijakan negara dan realitas sosial yang berubah. Kontroversi ini juga memperlihatkan bagaimana isu hijab tetap menjadi simbol konflik politik dan hak asasi di Iran. Upaya mempertahankan stabilitas politik dan ketertiban sosial terus diuji oleh tuntutan masyarakat yang menginginkan kebebasan lebih besar.







