Mistrial Ditetapkan untuk Mahasiswa Stanford Tersangka dalam Protes Pro-Palestina 2026 dengan Tuduhan Vandalism

Hakim pengadilan di Santa Clara County menyatakan mistrial dalam kasus lima mahasiswa Stanford University yang didakwa terkait unjuk rasa pro-Palestina pada 2024. Demonstran sempat memblokade kantor presiden universitas dalam aksi tersebut.

Awalnya, 12 pengunjuk rasa didakwa dengan tuduhan pengrusakan properti tingkat berat (felony vandalism). Polisi menangkap 13 orang pada 5 Juni 2024 karena insiden tersebut, dengan laporan kerusakan bangunan yang cukup parah.

Kasus ini berlanjut ke persidangan dengan lima terdakwa utama, sedangkan yang lain menerima kesepakatan hukum berupa pengakuan bersalah atau program diversifikasi. Para terdakwa dituduh melakukan pengrusakan dan konspirasi melanggar hukum terkait aksi memasuki area terlarang kampus.

Namun juri mengalami kebuntuan dalam memberikan putusan. Untuk dakwaan pengrusakan, juri memilih 9 berpendapat bersalah dan 3 tidak bersalah. Sedangkan untuk dakwaan melanggar area terlarang, perbandingan juri adalah 8 berpendapat bersalah dan 4 tidak bersalah. Akhirnya, tidak ada vonis resmi yang bisa disampaikan.

Dakwaan ini merupakan kategori serius yang muncul dari gelombang protes pro-Palestina di kampus-kampus AS, yang menuntut penghentian konflik di Gaza serta penarikan dukungan kampus terhadap investasi perusahaan yang mendukung Israel.

Jaksa penuntut menegaskan bahwa para terdakwa terlibat dalam tindakan pengrusakan properti yang melanggar hukum. “Kasus ini tentang sekelompok orang yang merusak properti milik orang lain dan menyebabkan kerugian ratusan ribu dolar,” ujar Jeff Rosen, Jaksa Distrik Santa Clara County. Rosen berencana mengajukan permohonan sidang ulang.

Sementara itu, salah satu pengacara terdakwa, Anthony Brass, menyatakan bahwa pihak terdakwa tidak membela tindakan melanggar hukum, melainkan memperjuangkan transparansi dan investasi etis. Brass menilai keputusan ini adalah kemenangan bagi kebebasan berbicara dan aktivisme kemanusiaan.

Aksi protes tersebut sempat mengganti nama kantor presiden universitas menjadi “Kantor Dr. Adnan” sebagai penghormatan kepada Adnan Al-Bursh, seorang dokter Palestina yang meninggal dalam tahanan Israel.

Gelombang protes pro-Palestina pada 2024 di Amerika Serikat menyebabkan lebih dari 3.000 orang ditangkap, termasuk berbagai sanksi berat bagi mahasiswa seperti skorsing, pemecatan, dan pencabutan gelar akademik.

Kasus ini menjadi sorotan atas batas kebebasan berekspresi versus tuntutan penegakan hukum di lingkungan kampus. Sidang selanjutnya masih menunggu keputusan apakah pengadilan akan dijalankan ulang, mengingat adanya split voting dari para juri.

Terkait