Beberapa warga di Teheran kembali mengumandangkan slogan anti-pemerintah dari balik balkon dan jendela rumah mereka. Aksi ini muncul sehari setelah ribuan warga Iran di luar negeri menggelar unjuk rasa besar di Eropa dan Amerika Utara.
Protes di Iran sempat mencapai puncaknya pada Januari lalu, namun mengalami penekanan keras oleh aparat keamanan. Menurut kelompok hak asasi, ribuan demonstran tewas dalam penindakan tersebut.
Meskipun protes di jalanan mulai mereda akibat represi, warga di Teheran dan kota lain mulai menyuarakan penentangan dari dalam apartemen mereka. Mereka memilih cara aman ini untuk tetap mengekspresikan ketidakpuasan terhadap rezim.
Di daerah Ekbatan, Timur Teheran, penduduk melantunkan slogan seperti “matilah Khamenei”, “matilah republik Islam”, dan “hidup sang shah”. Informasi ini diperoleh dari akun media sosial Shahrak Ekbatan yang memantau wilayah tersebut.
Reza Pahlavi, putra terakhir shah yang digulingkan oleh revolusi Islam, mendorong warga di dalam negeri agar melakukan aksi-aksi semacam ini berbarengan dengan demonstrasi di luar negeri. Ia mengajak agar protes di Iran dan diaspora berjalan beriringan.
Di kota Munich, Jerman Selatan, polisi melaporkan sebanyak 250.000 orang ikut unjuk rasa pada Sabtu lalu. Dalam kesempatan tersebut, Pahlavi secara khusus menyapa peserta aksi yang merupakan unjuk rasa pro-monarki terbesar dalam beberapa tahun.
Unjuk rasa pro-monarki serupa juga diadakan di beberapa kota besar diaspora seperti Los Angeles dan Toronto. Kantor Pahlavi melalui media sosial X menyebut total peserta global mencapai lebih dari satu juta orang, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi.
Dalam pidatonya di Munich, Pahlavi menyebut aksi itu sebagai yang terbesar dalam waktu lama dan menyatakan kesiapan memimpin transisi di Iran. Pendukung monarki juga terhibur dengan kemunculan publik yang sangat jarang dari saudara kandungnya, mantan putri Farahnaz.
Stasiun TV berbahasa Persia Iran International melaporkan adanya aksi serupa di berbagai wilayah Teheran pada hari Minggu. Mereka menayangkan video warga yang meneriakkan, “ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali” dan “matilah Pasukan Pengawal Revolusi”, merujuk pada milisi ideologis rezim.
Slogan menentang pemerintah juga terdengar di beberapa kota lain seperti Shiraz di selatan dan Arak di wilayah tengah Iran. Hingga kini, pihak AFP belum dapat memverifikasi keaslian video tersebut.
Munculnya tindakan protes ini bertepatan dengan rencana pembicaraan penting antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir di Jenewa, yang dinilai menentukan apakah Washington akan melancarkan aksi militer terhadap Tehran.
Data terbaru dari Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS mencatat lebih dari 7.000 orang tewas sepanjang gelombang protes. Mayoritas korban merupakan pengunjuk rasa yang ditembak oleh pasukan keamanan. Sebanyak hampir 54.000 orang telah ditangkap dan penahanan masih berlanjut.
Aksi-aksi baru ini memperlihatkan bahwa meskipun pengawasan dan represi semakin ketat, penentangan terhadap rezim tetap berlangsung secara tersembunyi dan berani. Suara warga dari dalam negeri dan diaspora terus memberi tekanan pada pemerintah Iran yang berkuasa.
