Peru Kembali Pecah Rekor: Presiden Interim Dipecat Hanya Empat Bulan Usai Skandal Pertemuan Rahasia dengan Pengusaha China

Peru kembali menghadapi krisis politik setelah Kongres mencopot Presiden sementara José Jerí hanya dalam waktu empat bulan menjabat. Pemakzulan ini menjadi yang kedua dalam kurun waktu kurang dari enam bulan dan menunjukkan ketidakstabilan politik yang berkelanjutan di negara tersebut.

Kongres Peru dengan suara 75 berbanding 24, ditambah tiga abstain, menyetujui tujuh mosi pemakzulan terhadap José Jerí. Jerí sebelumnya menjabat sebagai ketua Kongres dan dilantik sebagai presiden sementara setelah pemakzulan pendahulunya, Dina Boluarte.

Fernando Rospigliosi, pelaksana tugas ketua Kongres, berada dalam posisi berikutnya untuk mengambil alih jabatan presiden menurut konstitusi, tetapi menolak mengisi posisi tersebut. Kongres berencana memilih pemimpin baru pada hari Rabu, dengan partai-partai diberi waktu hingga pukul 18.00 waktu setempat untuk mengajukan calon.

Pemilu umum di Peru dijadwalkan berlangsung pada 12 April, dan presiden baru akan dilantik pada 28 Juli. Namun, pergantian presiden yang berulang kali menunjukkan tantangan besar dalam mencapai stabilitas pemerintahan.

Skandal yang menjerat Jerí bermula dari video yang memperlihatkan dirinya memasuki bisnis milik pengusaha asal Cina, Yang Zhihua, tanpa melaporkan kegiatan tersebut sesuai ketentuan hukum. Yang memiliki konsesi energi negara serta beberapa toko di Peru.

Dalam video tersebut, Jerí terlihat mengenakan pakaian tertutup saat datang ke restoran milik Yang pada malam hari di bulan Desember, lalu mengenakan kacamata hitam saat mengunjungi toko barang-barang Cina di awal Januari. Peraturan di Peru mensyaratkan presiden melaporkan aktivitas resmi yang dilakukan, namun Jerí mengabaikan kewajiban ini.

Jerí mengonfirmasi keaslian rekaman tersebut dan mengakui ia tidak melaporkan kunjungannya, namun membantah telah melakukan pelanggaran. Ia menyatakan, “Saya tidak melakukan kejahatan apapun.”

Ia juga menyebut telah mengenal Yang sebelum menjadi presiden dan mendapat sejumlah pemberian berupa permen dan lukisan tanpa membayar karena kebaikan pengusaha tersebut. Namun, Jerí menolak memberikan catatan teleponnya kepada anggota parlemen.

Pengungkapan interaksi yang tidak dilaporkan ini memicu tekanan agar Jerí mengundurkan diri. Jaksa agung Peru pun membuka penyelidikan terkait dugaan korupsi yang melibatkan presiden sementara tersebut.

Selain Yang, sebuah stasiun televisi lokal melaporkan bahwa pengusaha Cina lain bernama Ji Wu Xiaodong pernah mengunjungi istana presiden sebanyak tiga kali selama masa jabatan Jerí. Ji diyakini sedang menjalani tahanan rumah terkait dugaan keterlibatan dalam aktivitas penebangan liar. Jerí membantah mengenal Ji secara dekat, menyebutnya hanya teman Yang.

Skandal ini turut membuat popularitas Jerí menurun signifikan. Survei menunjukkan tingkat persetujuannya turun 10 persen dari 51 persen sebelum skandal mencuat.

Krisis ini adalah bagian dari rangkaian masalah politik yang menimpa Peru dalam dekade terakhir. Pendahulu Jerí, Dina Boluarte, juga dipecat pada Oktober lalu karena kritik atas meningkatnya angka kriminalitas dan kasus korupsi. Boluarte sendiri naik jabatan setelah Pedro Castillo, yang merupakan presiden sebelumnya dan dipecat setelah mencoba membubarkan Kongres secara sepihak.

Pedro Castillo kini menjalani hukuman 11 tahun penjara karena dakwaan konspirasi dan pemberontakan. Presiden sebelumnya lainnya juga menghadapi hukuman berat terkait korupsi, seperti Alejandro Toledo yang divonis 20 tahun penjara dan Ollanta Humala yang dihukum 15 tahun lantaran pembiayaan kampanye ilegal.

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan serius yang dihadapi negara dalam menjaga stabilitas pemerintahan dan memberantas korupsi di tingkat tertinggi. Pemerintah transisi Peru harus mampu menjaga ketertiban hingga proses pemilu dapat terlaksana dengan aman dan demokratis.

Terkait